diajeng.id - Beberapa waktu terakhir, linimasa di Thread sempat ramai mendiskusikan pasangan suami istri yang secara usia dan finansial belum siap memiliki anak, akan tetapi telanjur berada di ambang kelahiran sehingga memohon bantuan pihak rumah sakit dan orang lain.
Respons publik pun terbelah. Cukup banyak warganet yang berpendapat bahwa tidak seharusnya pasutri merencanakan punya anak sebelum siap mental dan material.
Di sisi lain, muncul pula keprihatinan dari warganet tentang pasangan yang hingga kini belum dikaruniai anak, padahal finansial dan emosionalnya sudah sangat matang.
Pada contoh lainnya, bisa jadi persoalannya berkaitan dengan kemalangan yang datang bertubi-tubi. Orang tua meninggal dalam waktu berdekatan, rumah kemalingan, tidak dipromosikan di kantor sementara kolega yang malas-malasan malah naik pangkat.
Rasanya seakan-akan hidup sedang tidak berpihak pada diri sendiri.
Padahal, sejauh batin kita melangkah, tak ada satu pun niat melakukan kejahatan. Prinsip jalan hidup kita lurus-lurus saja. Tidak tebersit keinginan berbohong apalagi sampai melakukan korupsi seperti dilakukan pejabat-pejabat nirempati di pemerintahan.
Namun, mengapa mereka yang terang-terangan melakukan kejahatan justru terlihat makmur dan berkecukupan? Mengapa kita yang menjaga integritas malah berkali-kali diuji oleh kehilangan dan kesulitan?
Pertanyaan itu mungkin tidak selalu terucap keras-keras. Namun, kegelisahan yang muncul dari situ sungguh nyata, dan barangkali, hampir semua dari kita pernah, atau sedang, menggumamkannya, “Mengapa harus aku?”
Mengapa Kita Merasa Hidup Tidak Adil?
Psikolog Mark Travers dalam artikel di Forbes berjudul "A Psychologist Explains The ‘Illusion Of Unfairness’ — Why Life Feels Rigged Against You" menjelaskan tentang kecenderungan kognitif manusia yang disebut illusion of unfairness atau ilusi ketidakadilan.
Ilusi ini merujuk pada kesan bahwa hidup memperlakukan kita tidak adil. Padahal, realitas yang sering terjadi dipengaruhi oleh faktor randomness alias acak.
Travers mengulas eksperimen coin flip atau lempar koin yang dilakukan oleh tim peneliti dalam studi di Journal of Personality and Social Psychology (2025).
Secara statistik, keputusan yang lahir dari hasil lempar koin adalah sistem yang bisa dibilang nyaris paling adil, tidak bisa diatur, tidak mengenal siapa pesertanya, tidak menyimpan preferensi pribadi. Peluangnya lima puluh banding lima puluh.
Menariknya, hasil eksperimen justru memperlihatkan sisi mengesankan dalam psikologi manusia.
Ketika peserta kalah, mereka cenderung menilai prosesnya tidak adil. Mereka merasa kurang puas, bahkan ada yang menganggap lawannya bersikap tidak menyenangkan, seolah-olah ada kecurangan dalam sistem.
Sebaliknya, ketika peserta menang, mereka menganggap prosesnya wajar dan normal.
Illusion of unfairness membawa dampak emosional yang besar.
Masih menurut studi tersebut, orang yang kalah dalam lempar koin menilai prosesnya kurang adil dan lebih tidak puas terhadap hasilnya. Dalam konteks ini, bukan hasilnya yang berubah, tapi persepsi tentang keadilannya yang berubah.
Apa artinya secara psikologis?
Kita ingin meyakini bahwa kerja keras pasti membuahkan hasil, usaha yang tulus akan mendapat balasan setimpal, orang baik pada akhirnya akan hidup baik-baik saja. Keyakinan ini pun memberikan rasa aman sekaligus perasaan bahwa hidup bisa dikendalikan.
Kadang-kadang, menerima bahwa sesuatu terjadi tanpa alasan moral terasa lebih menakutkan. Jika hidup bisa semata-mata acak, berarti kita tidak sepenuhnya memegang kendali. Kehilangan rasa kendali adalah salah satu ketakutan terdalam manusia.
Masalahnya, realitas tidak selalu berjalan mengikuti pola moral yang kita harapkan.
Banyak hal dalam hidup memiliki unsur acak dan faktor keberuntungan yang besar: diterima atau ditolak kerja, bertemu pasangan yang cocok atau tidak, peluang bisnis yang tiba-tiba datang, bahkan kondisi kesehatan. Ada variabel-variabel yang berada di luar kuasa dan kalkulasi kita.
Di titik inilah otak kita merasa tidak nyaman.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Laman Psychology Today memberikan beberapa langkah praktis terkait apa yang sebaiknya dilakukan ketika kita merasa kewalahan dengan rasa ketidakadilan:
1. Beri Jeda
Respons pertama terhadap sesuatu yang terasa tidak adil biasanya emosional. Jengkel. Marah. Tersinggung.Sebelum reaksi itu membesar, cobalah berhenti sejenak. Tarik napas dalam-dalam. Lalu tanyakan, "Apa ini sepadan dengan energi yang akan aku keluarkan?"
Contohnya sederhana. Seseorang menyerobot antrean. Itu jelas tidak adil. Kita bisa menegur, bisa juga memilih diam.
APabila respons orang tersebut justru membuat kita semakin kesal dan merusak suasana hati sepanjang hari, siapa yang sebenarnya dirugikan lebih jauh? Tidak semua ketidakadilan kecil layak diupayakan karena dapat menguras kedamaian batin kita.
Melihat gambaran yang lebih besar sering kali membantu. Dalam skala hidup yang luas, apakah kejadian ini akan berarti minggu depan? Bulan depan? Tahun depan? Tidak semua hal perlu kita bawa pulang ke dalam hati.
2. Bedakan: Apa yang Bisa dan Tidak Bisa Dikendalikan
Banyak stres muncul dari upaya mengendalikan sesuatu yang memang berada di luar kuasa kita, pilihan orang lain, sikap orang lain, keputusan atasan, bahkan masa lalu.Penting diingat, kita tidak bisa mengubah perlakuan buruk yang sudah terjadi. Kita tidak bisa memaksa orang lain berubah jika mereka tidak mau. Kita juga tidak bisa membalikkan keadaan yang telah lewat. Yang bisa kita kendalikan adalah respons kita hari ini.
Misalnya, mengambil sikap yang tegas jika diperlukan, mendukung perubahan yang lebih baik, belajar dari pengalaman, atau memilih tidak membiarkan satu kejadian buruk mendefinisikan seluruh hidup kita.
Merenungkan hal yang tidak bisa kita kendalikan tidak membuat situasi menjadi lebih adil. Itu hanya menguras energi. Pertanyaan sederhananya, "Apa ini semua berada dalam lingkar kendaliku?"
Jika tidak, mungkin yang perlu kita lepaskan bukan peristiwanya, melainkan kebutuhan kita untuk mengontrolnya.
3. Awasi Dialog Batin, Lalu Arahkan ke Tindakan
Ketika sesuatu yang menyakitkan terjadi, dialog batin kita sering kali berbunyi seperti ini:
- “Ini tidak adil.”
- “Dia jahat.”
- “Seharusnya aku…”
- “Andai saja…”
Sebaiknya cobalah ajukan beberapa pertanyaan pada diri sendiri:
- Apakah pikiran ini membantuku atau justru memperparah keadaan?
- Apakah ini sesuatu yang bisa aku kendalikan?
- Apakah ini sudah terjadi dan tidak bisa diubah?
- Apakah ada tindakan konkret yang bisa aku lakukan sekarang atau ke depan?
Beberapa psikolog menyarankan teknik sederhana, seperti membayangkan rambu STOP di kepala. Hentikan alur pikiran yang berputar-putar, lalu alihkan ke pertanyaan yang lebih konstruktif, "Apa langkah kecil yang bisa aku ambil hari ini?"
Menjadi pribadi yang lebih positif bukan berarti menyangkal kenyataan, bukan pula berpura-pura semuanya baik-baik saja. Ini tentang bersikap proaktif, memilih respons yang memberi kita rasa berdaya, alih-alih menggerogoti kesehatan mental diri.
Artikel menarik lainnya yang terkait topik ini bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih