Menuju konten utama

Mengapa Kita Percaya Karma? Cara Manusia Memahami Keadilan

Benarkah karma merupakan hukum alam, ataukah lebih sebagai upaya manusia untuk memberi makna pada peristiwa di dunia yang tidak pernah adil ini?

Mengapa Kita Percaya Karma? Cara Manusia Memahami Keadilan
Header Diajeng Tentang Karma Manusia. tirto.id/Quita

diajeng.id - Dalam hidup, saat kamu melakukan hal baik atau hal buruk, apa yang sebenarnya kamu rasakan?

Setelah melakukan hal baik seperti membantu orang lain atau memberikan sesuatu ke orang yang membutuhkan, apa kamu merasa tenang? Seolah-olah alam semesta mencatat perbuatan kamu?

Atau sebaliknya, setelah kamu menolak membantu orang atau mengambil keputusan yang merugikan pihak lain, apa kamu merasa khawatir dan cemas karena takut akan ada “balasan” yang datang suatu hari nanti?

Gagasan tentang karma hidup di banyak budaya, cerita, dan pengalaman individu di berbagai belahan dunia. Karma hadir sebagai penjelasan sederhana tentang keadilan dalam dunia yang sering terasa acak.

Namun, di balik keyakinan tersebut, ada pertanyaan yang muncul secara kritis: apakah karma benar-benar hukum kehidupan, atau hanya semacam strategi alias cara pikiran manusia menenangkan diri?

Konsep Karma Sesuai Ajaran Buddha /Hindu

Dalam ajaran Hindu dan Buddha, seperti dikutip situs WebMD, karma dipahami sebagai hukum sebab-akibat yang mengikat setiap tindakan manusia.

Sederhananya, karma sering dijelaskan lewat ungkapan “apa yang ditabur, itulah yang dituai.”

Setiap pikiran, ucapan, dan perbuatan, baik maupun buruk, meninggalkan jejak yang pada akhirnya akan menghasilkan konsekuensi, entah cepat atau lambat, dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan selanjutnya.

Dalam Hindu, karma menekankan hubungan antara tindakan dan akibat moralnya, termasuk akumulasi perbuatan dari kehidupan lampau.

Sementara dalam ajaran Buddha, karma tidak hanya ditentukan oleh tindakan itu sendiri, tetapi terutama oleh niat di baliknya. Perbuatan yang sama dapat menghasilkan dampak berbeda tergantung pada motivasi batin pelakunya.

Dengan demikian, karma bukan sekadar hukuman atau hadiah kosmis, tetapi merupakan prinsip pembentuk kehidupan.

Dalam konteks ini pula, karma bukan "balasan instan" dari alam semesta, melainkan proses alami yang membentuk pengalaman hidup melalui kebiasaan, niat, dan pilihan yang terus diulang.

Karma mendorong manusia untuk bertindak dengan kesadaran dan niat baik, karena apa yang dilakukan hari ini diyakini turut membentuk pengalaman hidup di masa depan.

Kepercayaan tentang hukum tabur tuai dapat bertahan "hidup" karena diceritakan ulang melalui pengalaman sederhana sehari-hari.

Orang yang tulus membantu sering merasa hidupnya “mengalir lebih mudah”. Setelah memberi bantuan pada pihak yang butuh pertolongan, rezekinya bisa jadi dikembalikan dengan cara tidak terduga.

Tengok cerita Lia (31), seorang guru TK di daerah Sleman, Yogyakarta. Ia pernah membelikan makanan untuk seekor kucing jalanan yang kurus saat perjalanan ke rumahnya setelah mengajar.

"Saya tunggu kucingnya selesai makan, setelah itu mungkin si kucing kenyang, menatap saya seolah-olah mengucapkan terima kasih, saya benar-benar happy waktu itu melihatnya dan pulang dengan hati lapang."

Lia pun melanjutkan perjalanan dengan motornya. Di tengah jalan, hujan turun, dia pun menepi.

Sambil menunggu hujan reda, Lia merasa lapar dan hendak membeli bakso. Namun dia teringat, uangnya sudah dibelikan untuk makanan kucing. Niat jajan bakso pun dia urungkan.

“Tapi tiba-tiba abang baksonya memberikan semangkok bakso, padahal saya tidak pesan. Kata penjualnya, dia membagi baksonya karena itu hari Jumat, saatnya dia berbagi Jumat berkah. Ini nyata sekali, saya jadi ingat, apa ini balasan karena sudah ngasih makan kucing yang juga makhluk hidup. Saya pun bersyukur, dengan hal sekecil itu, bisa bikin orang lain membantu saya tanpa diminta ketika saya sedang butuh,” kisahnya.

Cerita seperti di atas memberikan rasa keteraturan, semacam benang merah moral yang menghubungkan tindakan dengan nasib.

Namun, ketika kejadiannya melibatkan orang yang perilakunya buruk dan menyakiti, tidak sedikit dari kita yang menganggapnya pantas menerima kemalangan pada kemudian hari.

Pengalaman personal semacam ini pada akhirnya membuka ruang tafsir, apakah konsep karma benar-benar bagian dari hukum alam, ataukah lebih sebagai upaya manusia untuk memberi makna pada peristiwa yang terjadi?

Riset psikologi menunjukkan bahwa kepercayaan pada karma bekerja dengan cara yang sangat selektif.

Terbaru, dalam studi besar yang diterbitkan di jurnal Psychology of Religion and Spirituality (2025), lebih dari 2.000 responden dari berbagai latar belakang budaya diminta menuliskan pengalaman mereka tentang karma.

Hasilnya menarik: saat membicarakan tentang diri sendiri, mayoritas peserta melihat karma sebagai "hadiah" atas perbuatan baiknya.

Namun, ketika menilai orang lain, hampir semua cerita berfokus pada penderitaan yang dianggap sebagai hukuman karma, misalnya kondisi sakit atau kesialan yang dialami pasangan berselingkuh, perundung, atau kolega kantor yang menindas.

Para peneliti menjelaskan pola ini sebagai bentuk bias atribusi: kecenderungan manusia mengaitkan hal baik yang dialami diri sendiri dengan kualitas moral pribadi, sambil melihat penderitaan orang lain sebagai sesuatu yang pantas atau sepadan.

“Membayangkan tentang karma memungkinkan orang untuk besar kepala atas pujian pribadi dan merasa bangga atas hal-hal baik yang terjadi pada mereka, bahkan ketika tidak jelas apa yang sebenarnya mereka lakukan untuk menciptakan hasil yang baik.”

Demikian disampaikan penulis senior studi tersebut, Cindel White seperti dikutip dari CNN.

“Namun hal itu juga memungkinkan orang untuk melihat penderitaan orang lain sebagai pembalasan yang dijustifikasi," tambahnya.

Bias ini membantu menjaga harga diri dan memberi rasa bahwa dunia tetap adil di tengah banyaknya kejadian acak.

Menariknya, pola ini muncul lintas budaya, baik di kawasan Eropa Barat, Amerika Utara, sampai daratan Asia, meski pada masyarakat Asia cara pandangnya cenderung sedikit lebih kritis terhadap diri sendiri.

Temuan di atas menunjukkan bahwa karma, selain sebagai konsep spiritual, juga berfungsi sebagai alat psikologis untuk memahami keberuntungan, penderitaan, dan keadilan dalam hidup.

Artinya, kepercayaan pada karma acap kali lebih bersifat harapan moral daripada mekanisme nyata yang konsisten ditegakkan oleh manusia.

Pada akhirnya, karma tampak bekerja di dua lapisan sekaligus.

Di satu sisi, ia hadir sebagai ajaran moral dalam tradisi Hindu dan Buddha, sebuah hukum sebab-akibat yang menekankan tanggung jawab, niat, dan kesadaran dalam bertindak.

Di sisi lain, studi psikologi manusia menunjukkan bahwa karma dapat membantu kita memberikan makna pada peristiwa acak, menjaga harga diri, dan mempertahankan keyakinan bahwa dunia pada dasarnya adil.

Nah, apa ceritamu tentang hukum tabur tuai?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih