diajeng.id - Pada akhir Agustus 2025, pemerintah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak.
Penetapan ini dilakukan usai 2.035 anak terinfinfeksi campak, dengan korban meninggal mencapai 17 jiwa.
KLB terjadi karena tidak terbentuk herd immunity atau kekebalan kelompok di masyarakat Sumenep.
Menurut Yale Medicine, karena penularan campak begitu mudah, herd immunity baru bisa dicapai jika cakupan vaksinasi sudah di angka 95 persen dari total populasi.
Namun begitu, akhir-akhir ini cakupan vaksinasi di kelompok anak-anak mengalami penurunan.
Beberapa kelompok orang tua mulai vokal menolak vaksin dengan alasan agama atau risiko efek samping yang mungkin ditimbulkan.
Kecenderungan ini tidak hanya terjadi di tingkat lokal, tapi juga berada di level global.
Sama seperti di Indonesia, tahun ini Amerika Serikat juga mengalami penyebaran campak dengan angka penularan tinggi.
Pada Mei, total ada 1.000 kasus campak ditemukan di 30 negara bagian AS. Seperti dilaporkan, The Guardian, angka ini melebihi total kasus yang ditemukan pada 2024.
"Vaksinasi rutin anak adalah salah satu intervensi kesehatan publik paling ampuh dan hemat biaya yang saat ini tersedia. Sayangnya, ketimpangan global yang terus terjadi, tantangan selama pandemi Covid-19, tumbuhnya misinformasi soal vaksin yang membuat ragu, telah berkontribusi pada menyusutnya kemajuan imunisasi," kata Dr Jonathan Mosser dari Insitute for Health Metrics and Evaluation, University of Washington, dikutip dari The Guardian.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Saat ini dunia tengah menghadapi fenomena vaccine hesitancy atau keraguan-raguan terhadap vaksin.
WHO mendeskripsikan vaccine hesitancy sebagai sikap penundaan penerimaan maupun penolakan vaksin aman meski pelayanan vaksinasi tersedia.
Beberapa peneliti sepakat, keraguan vaksin semakin santer usai masifnya peredaran narasi misinformasi dan disinformasi kesehatan di media sosial selama pandemi.
Narasi bahwa vaksin membahayakan adalah lagu lama.
Namun, pandemi Covid-19 yang memaksa orang berada di rumah dan menghabiskan banyak waktu dengan gawai, mengubah tingkat penerimaan misinformasi dan disinformasi.
Seperti dilaporkan oleh CNN, era pandemi adalah masa sulit untuk cakupan vaksin terpenuhi.
Selama pandemi, angka zero-dose (anak yang sama sekali tidak mendapat dosis vaksin) sempat melonjak hingga 18, 6 juta jiwa di seluruh dunia. Tingkat zero-dose baru menurun di angka 15 juta jiwa pada tahun 2023.
Sementara zero-dose terjadi, bermacam-macam narasi yang berseliweran di media sosial semakin mempersulit operasional vaksinasi di lapangan. Akibatnya wabah pun terjadi di berbagai titik.
Semakin banyak individu yang terpapar dengan konten-konten misleading di media sosial, upaya kampanye vaksin aman terutama untuk anak, menjadi makin sulit. Masalahnya, ketidakpercayaan vaksin bisa tumbuh di dalam kelompok (herd) dengan mudah.
Sebagai contoh, tokoh dari kelompok masyarakat A percaya bahwa vaksin anak sangat berbahaya. Oleh karena itu, ia menyarankan agar anak tidak perlu melakukan vaksin karena dampak buruknya lebih banyak. Anggota kelompok A pun mengikuti opini si tokoh karena menganggap bahwa pernyataan yang dilontarkan adalah pilihan aman.
Akibatnya penyebaran penyakit di tingkat lokal terjadi.
Begitu peringatan dari Irving Medical Center, Colombia University.
Lonjakan penyakit campak adalah peringatan terhadap potensi penyebaran penyakit lain yang sebenarnya bisa diantisipasi dengan vaksin.
Sayangnya, tantangan kesehatan di atas masih akan terus bertambah seiring dengan perkembangan teknologi.
Orang tua harus mulai mawas dan waspada terhadap narasi-narasi keliru yang beredar di sosial media.
WHO telah menargetkan cakupan imunisasi di seluruh dunia dapat mencapai angka 90 persen pada tahun 2030.
Jika target ini tercapai, setidaknya bakal ada 50 juta nyawa yang diselamatkan untuk dekade berikutnya. Ini adalah target yang ambisius mengingat tantangan dalam berbagai bentuk terus bermunculan.
Indonesia jelas memiliki PR besar dalam memperbesar cakupan vaksin di kalangan masyarakat.
Namun, lembaga kesehatan tentu tidak mampu melakukan pekerjaan rumah ini sendiri. Setiap individu juga perlu meningkatkan kapasitas diri dengan pengetahuan yang cukup terkait vaksin, sembari belajar untuk tidak malu bertanya kepada yang benar-benar ahli.
Kerja sama dari seluruh pihak adalah kunci untuk menyelamatkan masa depan anak Indonesia.
Penulis: Erika Rizqi
Editor: Sekar Kinasih