diajeng.id - Campak adalah salah satu penyakit menular yang sangat berbahaya dan akut, terutama jika sudah menyerang anak-anak.
Penyakit ini disebabkan oleh virus measles dan dapat menimbulkan komplikasi serius jika tidak dicegah sejak dini.
Meski campak sering dianggap mirip dengan reaksi alergi, penting bagi orang tua memahami perbedaan campak dan alergi, serta cara terbaik melindungi buah hati dari risiko penyakit campak.
Salah satu langkah paling efektif adalah melalui vaksinasi campak rubella (MR) yang telah direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Apa Itu Campak?
Campak adalah penyakit infeksi akibat virus yang ditandai dengan demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan ruam merah di seluruh tubuh.
Campak pada anak biasanya muncul setelah masa inkubasi 7–14 hari sejak terpapar virus.
Penyakit campak termasuk sangat menular. Satu orang penderita bisa menularkan ke 9 dari 10 orang di sekitarnya yang belum mendapat vaksin.
Banyak orang tua masih bingung membedakan gejala campak dengan alergi. Perbedaan campak dan alergi dapat dilihat dari pola gejalanya.
Bahaya Campak dan Rubella
Campak pada bayi maupun pada anak dapat menimbulkan komplikasi serius, di antaranya:
1. Pneumonia (radang paru-paru)
Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan peradangan pada kantung udara di satu atau kedua paru-paru. Kantung udara tersebut dapat terisi cairan atau nanah yang bisa menyebabkan batuk disertai dahak bernanah, demam, menggigil, dan kesulitan bernapas. Berbagai bakteri, virus, dan jamur juga dapat menyebabkan pneumonia.
2. Diare berat
Diare berat ditandai dengan sering buang air besar yang teksturnya cair dengan waktu lebih dari dua hari dan membutuhkan bantuan medis, apalagi jika diare disertai dengan gejala dehidrasi, buang air besar berdarah atau hitam, demam tinggi, nyeri perut parah, atau muntah berulang.
3. Kerusakan otak permanen
Kerusakan otak permanen terjadi ketika sel-sel otak mengalami kerusakan yang tidak dapat dibalikkan atau mati akibat penyebab seperti kekurangan oksigen (hipoksia/anoxia), cedera otak traumatis, stroke, infeksi, atau keracunan.
4. Gangguan pendengaran
Kondisi yang terjadi ketika transmisi suara dari telinga luar ke otak mengalami gangguan.
5. Kebutaan
Tidak bisa melihat sama sekali yang terjadi tiba-tiba.Sementara itu, rubella (campak Jerman) dapat menyebabkan kelainan kongenital pada janin, seperti kerusakan otak, gangguan pendengaran, kebutaan, serta kelainan jantung bila ibu hamil terinfeksi.
Campak pada dewasa juga berbahaya. Meski jarang terjadi, gejalanya bisa lebih berat dan menimbulkan komplikasi lebih serius dibanding anak.
Vaksin MR: Perlindungan Aman dan Efektif
Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, SpA (K) menegaskan, pencegahan utama terhadap penyakit campak adalah melalui vaksin MR (Measles-Rubella). Vaksin ini diberikan secara rutin sesuai jadwal imunisasi Kemenkes.
"Efektivitas vaksin MR sangat tinggi di mana 1 dosis memberikan perlindungan sekitar 85 persen, dan 2 dosis meningkatkan perlindungan hingga 95–97 persen," ujarnya.
Dengan dua dosis, sambung Prof. Hartono, anak akan memiliki kekebalan optimal terhadap penyakit campak dan rubella.
Bagaimana Vaksin Campak Bekerja?
Ketika tubuh pertama kali terpapar vaksin, sistem imun menghasilkan respons primer berupa antibodi. Pada paparan kedua (dosis berikutnya), respons menjadi lebih cepat, kuat, dan bertahan lama."Inilah alasan pentingnya pemberian vaksin MR dua kali agar anak benar-benar kebal," kata Prof. Hartono.
Meski begitu, banyak orang tua khawatir jika anaknya telat imunisasi. Padahal, imunisasi tidak pernah hangus.
"Artinya, jika anak belum diimunisasi atau belum lengkap, bisa dilakukan imunisasi kejar," imbuhnya.
Imunisasi Kejar Vaksin Campak
Imunisasi kejar yang dimaksud yaitu:
- Memberikan vaksin pada anak yang belum mendapat imunisasi sesuai catatan di buku KIA.
- Melanjutkan imunisasi yang tertunda tanpa perlu mengulang dari awal.
- Memastikan kelengkapan imunisasi rutin anak.
- Dapat diberikan bersamaan dengan vaksin lain seperti IPV, pentavalent, dan lainnya.
Jadwal Imunisasi Kemenkes 2025
Berikut update jadwal imunisasi terbaru sesuai usia bayi menurut Kemenkes:
- 0 bulan: Hepatitis B
- 1 bulan: BCG, OPV 1
- 2 bulan: DPT-Hib 1, OPV 2, RV 1, PCV 1
- 3 bulan: DPT-Hib 2, OPV 3, RV 2, PCV 2
- 4 bulan: DPT-Hib 3, OPV 4, RV 3, IPV
- 9 bulan: MR, IPV 2
- 10 bulan: JE (Japanese Encephalitis)
- 12 bulan: PCV 3
- 18 bulan: DPT-HB-Hib 4, MR 2
- SD kelas 1: DT dan MR
- SD kelas 2: TD
- SD kelas 5: TD dan HPV 1
Aturan WHO tentang Vaksin MR
WHO merekomendasikan vaksin MR dalam bentuk vial 10 dosis + ampul pelarut.
Vaksin yang sudah dibuka hanya boleh digunakan maksimal 6 jam atau hingga akhir sesi imunisasi. Setelah itu, vaksin harus dibuang, dimulai dari vial yang pertama kali dibuka. Hal ini untuk menjaga kualitas vaksin agar tetap aman dan efektif.
Campak adalah penyakit menular yang berbahaya, bisa menyerang anak, bayi, hingga orang dewasa, dan menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, kebutaan, hingga kerusakan otak. Perbedaan campak dan alergi harus dipahami agar orang tua tidak keliru dalam mengenali gejalanya.
Kabar baiknya, campak dapat dicegah melalui vaksin MR yang terbukti aman dan efektif. Dengan pemberian dua dosis vaksin MR sesuai jadwal imunisasi Kemenkes, anak dapat terlindungi hingga 97 persen. Bagi yang tertinggal jadwal, imunisasi kejar tetap bisa dilakukan.
Melalui kesadaran bersama, orang tua diharapkan aktif mengikuti program imunisasi agar generasi mendatang bebas dari penyakit campak dan rubella. Informasi seputar vaksin MR juga bisa dibaca melalui link ini: vaksin MR.
Editor: Sekar Kinasih