Menuju konten utama

Kesetaraan Gender di Kantor: Dipupuk dari Aksi Sederhana

Menciptakan ruang kerja inklusif tak selalu berasal dari gerakan revolusioner, sebab ia tumbuh dari keberanian mengubah kebiasaan sederhana sehari-hari.

Kesetaraan Gender di Kantor: Dipupuk dari Aksi Sederhana
Header Diajeng Kesetaraan di Kantor. foto/istockphoto

diajeng.id - Banyak orang sering melihat kesetaraan gender di kantor sebagai isu besar atau konsep abstrak yang hanya bisa diselesaikan lewat kebijakan perusahaan atau regulasi formal yang kaku.

Padahal, jika kita mau mencermati sekilas saja di meja rapat atau dinamika di ruang istirahat kantor, kesetaraan justru hidup dalam interaksi-interaksi kecil yang sering luput dari perhatian.

Pertanyaan selanjutnya, apakah setiap suara yang sudah disampaikan mau didengar dengan porsi yang sama? Atau, kita justru masih terjebak pada premis lama yang tidak disadari?

Menciptakan ruang kerja yang inklusif sebenarnya tidak selalu membutuhkan gerakan ekstrem, karena ia tumbuh dari keberanian untuk mengubah kebiasaan sederhana sehari-hari.

Dari cara kita memberikan apresiasi hingga membagi tanggung jawab tanpa stereotip, langkah-langkah kecil inilah yang menjadi fondasi perubahan nyata.

Diajeng akan membahas beberapa contoh perilaku praktis yang bisa kamu terapkan di kantor untuk memastikan bahwa tempat kerjamu adalah ruang yang adil bagi semua.

Contoh Aksi Nyata Sehari-Hari untuk Kesetaraan Gender di Kantor

1. Lebih Tanggap terhadap Bias Gender

Seperti dikutip dari The Conversation, sebagai langkah awal, kita bisa mulai dengan memerhatikan hal-hal yang sering dianggap “biasa”.

Misalnya, siapa yang paling sering diminta mencatat notulen rapat, mengurus konsumsi atau menyiapkan acara kantor?

Apakah yang ditugaskan hampir selalu perempuan? Dalam rapat, apakah pendapat perempuan lebih sering dipotong atau diabaikan?

Kepekaan ini bisa dilatih dengan bertanya dan berdiskusi santai dengan rekan kerja, serta terbuka terhadap umpan balik.

Tidak semua keputusan pasti bias gender. Namun, dengan menyadarinya, kita bisa lebih adil dalam bersikap dan mengambil peran.

2. Mau Mengakui Kontribusi Rekan Kerja

Aksi kecil lainnya yang juga berdampak besar adalah mau mengakui ide orang lain secara terbuka, terutama ketika ide tersebut sempat terlewat.

Misalnya, ada rekan kerja perempuan yang menyampaikan usulan dan gagasan dalam rapat. Namun, pendapatnya baru dianggap penting setelah diulang oleh rekan laki-laki. Maka yang bisa kita lakukan adalah bilang, “Usulan ini tadi sudah diutarakan oleh X sejak awal.”

Langkah sederhana ini akan membantu mengungkap bias tanpa harus menegur keras pihak tertentu yang berisiko memicu konflik.

Cara ini juga penting untuk menciptakan budaya kerja yang lebih menghargai semua suara.

3. Menjadi Sekutu dan Pendukung Lingkungan Kerja Inklusif

Jika merasa posisi kamu terlalu junior untuk bersuara langsung, cobalah berkontribusi dengan mengajak sekutu, rekan kerja atau atasan yang lebih senior, untuk ikut memastikan suasana kerja yang setara.

Selain itu, dukungan juga bisa ditunjukkan dengan mendorong kebijakan yang lebih inklusif, seperti fleksibilitas kerja, cuti ayah, atau pembagian peran yang adil dalam tim.

Kesetaraan gender bukan hanya isu perempuan, tapi tanggung jawab bersama.

4. Mendorong Transparansi dan Keadilan Penghasilan

Menurut situs IQ Offices, kesetaraan gender juga bisa dimulai dari keberanian membicarakan upah yang adil. Langkah ini perlu dilakukan secara bertahap dan bijak.

Pada level individu, hal ini bisa berupa kesadaran untuk memastikan standar penilaian kinerja dan kenaikan gaji diterapkan secara konsisten, tanpa asumsi berbasis gender.

Di level tim atau organisasi, karyawan bisa mendorong HR atau pimpinan untuk memiliki struktur gaji dan promosi yang lebih jelas.

Tujuannya bukan membandingkan antarindividu, tetapi memastikan bahwa posisi dan tanggung jawab yang setara dihargai secara adil.

5. Mendorong Rekan Perempuan Mengambil Peluang

Perempuan sering merasa ragu melamar proyek baru, peran strategis, atau promosi karena merasa “belum siap”.

Aksi kecil yang berdampak adalah memberi dorongan langsung, seperti menyebutkan potensi mereka, merekomendasikan namanya ke dalam diskusi, atau sekadar mengatakan, “Kamu layak dan pantas mencoba.”

Dukungan seperti ini dapat membantu membangun kepercayaan diri dan menciptakan budaya kerja yang lebih adil dalam pembagian kesempatan, bukan hanya pembagian tugas.

6. Menjadikan Kesetaraan sebagai Komitmen Bersama

Kesetaraan gender bukan proyek sekali jalan.

Di kantor, upaya mencapainya bisa dimulai dengan diskusi rutin, baik formal maupun informal, membahas terkait apa yang sudah berjalan baik dan apa yang masih perlu diperbaiki.

Beberapa organisasi juga membentuk komite atau tim kecil lintas divisi untuk menampung masukan dan ide terkait inklusivitas.

Namun, tanpa komite atau panitia khusus pun, refleksi bersama dan kemauan untuk belajar sudah dapat kita apresiasi sebagai langkah penting.

Merayakan kemajuan kecil, seperti semakin beragamnya peran kepemimpinan atau pembagian kerja yang lebih adil, juga bagian dari komitmen jangka panjang.

7. Hadir dan Bersuara dengan Percaya Diri

Melansir Forbes, aksi nyata kesetaraan gender juga dapat dimulai dari bagaimana kita menghadirkan diri secara profesional.

Di rapat atau diskusi, beranilah menyampaikan pendapat tanpa merendahkan diri sendiri.

Hindari kebiasaan meminta maaf berlebihan untuk hal-hal yang sebenarnya bukan kesalahan, seperti, “Maaf kalau usulan saya dinilai tidak layak”.

Bahasa tubuh juga punya peran yang penting. Perhatikan kontak mata, postur tegak, dan intonasi yang jelas agar idemu didengarkan dan dihargai.

Ingat, kepercayaan diri membantu mematahkan asumsi bahwa suara tertentu “kurang penting”.

8. Berani Bernegosiasi dan Mengakui Nilai Diri

Salah satu aksi nyata yang sering terlewat adalah keberanian bernegosiasi, baik soal gaji, peran, maupun proyek.

Kesetaraan tidak tercapai jika perempuan terus merasa tidak enak untuk meminta apa yang pantas.

Langkah kecilnya adalah datang dengan data, menyampaikan argumen secara tenang dan tegas, serta tidak langsung menerima tawaran pertama.

Negosiasi bukan tanda tidak bersyukur, melainkan bagian dari profesionalisme.

9. Merangkul Perspektif Unik, Mendorong Inklusivitas

Perempuan membawa perspektif dan kekuatan yang beragam, mulai dari kolaborasi, empati, hingga pemecahan masalah.

Alih-alih menyesuaikan diri dengan standar lama, penting untuk menunjukkan nilai dari keberagaman cara berpikir.

Dengan terus menunjukkan kinerja, menantang stereotip secara elegan, dan mendukung budaya kerja yang inklusif, kita ikut menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap insan punya ruang untuk berkembang.

Artikel menarik lainnya terkait kesetaraan gender juga bisa dicek dan dibaca di tautan ini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih