Menuju konten utama

"Klemar-Klemer": Mengapa Kita Bisa Kehilangan Sense of Urgency?

Menjadi lebih responsif dan tidak "klemar-klemer" bukan berarti hidup dalam stres permanen, melainkan sebuah keputusan untuk belajar menghargai waktu.

Header diajeng Klemar-Klemer. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Belum lama ini, media sosial Threads sempat ramai membahas tentang karakter manusia "klemar-klemer". Istilah ini merupakan gambaran tentang orang-orang yang tidak tanggap, seolah-olah tidak punya inisiatif, kurang pendirian, dan hidup tanpa perencanaan yang jelas.

Bermula dari akun @aoktvia_ yang menulis "life as anak pertama, benci banget sama cowo klemar klemer 🙏🏻".

Unggahannya itu pun kemudian mendapat banyak balasan yang hampir semuanya sepakat tidak suka dengan orang klemar-klemer.

Salah satunya @elsaaawl_ yang merespons dengan "Klemar klemer, no plan, no inisiatif, no konsisten, bingung ga punya pendirian, dan ga jelas".

Akun lainnya juga menimpali bahwa tak ada seorang pun yang menyukai orang dengan tipe ini.

"Ga ada hubungannya sama anak pertama. Intinya mana ada yg suka sm yg namanya klemar klemer? Wkwk," tulis @annisasoehartono

Mengapa Ada Orang yang Tidak Sigap?

Dalam dunia psikologi dan produktivitas, kondisi "klemar-klemer" acap kali berakar pada satu masalah fundamental, yaitu ketiadaan sense of urgency alias rasa kedaruratan.

Memiliki sense of urgency dapat dianalogikan seperti memiliki jam kecil di dalam kepala yang terus mengingatkan, “Ayo kamu harus gerak! Waktumu hampir habis!”

Perasaan ini menegaskan bahwa yang kita lakukan itu penting sehingga harus diselesaikan dengan segera.

Tanpa perasaan ini, kita cenderung "menyeret kaki" dalam bekerja, sering melewatkan tenggat waktu, dan membiarkan peluang emas lewat begitu saja.

Lantas, mengapa sebagian orang tampak begitu santai meski "api" sudah mulai membakar?

Psikolog Michael F. Kay dari artikel berjudul "How to Use a Sense of Urgency to Do What Actually Matters" di Psychology Today menyamakan mereka dengan seekor siput darat yang bergerak sangat lambat saat menyeberangi jalan raya.

Meski bahaya kendaraan besar mengintai, siput itu tetap melata tanpa rasa takut. Begitu pula manusia; banyak yang hidup abai terhadap risiko yang mengelilingi mereka, baik itu masalah kesehatan, keuangan, maupun masa depan.

Ada beberapa alasan psikologis di baliknya. Pertama, kecenderungan untuk menghindari rasa sakit atau ketidaknyamanan hari ini dengan harapan masalah tersebut akan "hilang begitu saja" di masa depan.

Kedua, adanya faktor yang disebut disfungsi eksekutif atau kondisi seperti ADHD.

Orang dengan ADHD tidak memperlakukan suatu tugas sebagai hal yang harus dikerjakan kecuali jika sudah telanjur menjadi krisis atau "keadaan darurat". Bagi mereka, kecepatan hanya ada dua, yaitu "mati" atau "menyala sepenuhnya seperti sedang terbakar".

Selain itu, sering terjadi kebingungan antara kepentingan (importance) dan prioritas (priority). Sebagian besar dari kita mungkin setuju bahwa kesehatan penting, akan tetapi perilaku sehari-hari bisa jadi menunjukkan bahwa kesehatan bukan prioritas yang mendesak untuk segera diurus.

Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa melihat contohnya seperti orang yang suka menunda-nunda untuk periksa ke dokter atau ke fasilitas kesehatan, padahal gejala sakitnya sudah tampak.

Pada era sekarang yang memungkinkan banyak orang melakukan pinjaman uang secara daring misalnya, adalah membiarkan tagihan utang menumpuk dan membengkak dengan asumsi akan membayar sekaligus ketika sudah mendapat "uang kaget".

Di dalam dunia kerja, kita juga menyaksikan, misalnya, karyawan tanpa sense of urgency baru mau maraton mengerjakan tugas atau proyek besar saat akhir bulan. Akibatnya, hasilnya jadi terburu-buru dan sangat berisiko meleset dari tenggat waktu.

Dalam konteks customer service atau layanan pelanggan, tim yang lamban merespons akan membuat pelanggan frustrasi dan akhirnya berpindah ke kompetitor yang lebih sigap. Bagi perusahaan, ketiadaan rasa urgensi ini bisa berarti kekalahan telak dari pesaing yang lebih fokus dan cepat.

Menjadi Orang yang Lebih Responsif

Dengan menjadi orang yang lebih responsif, bukan berarti kita hidup dalam stres permanen. Kesadaran ini membantu kita untuk belajar menghargai waktu kita dan waktu orang lain.

Jef Menguin, motivator sekaligus konsultan pengembangan kepemimpinan, dalam situs pribadinya memberikan beberapa langkah yang yang bisa diambil. Menurut Menguin, kita perlu memulai kesadaran ini dari dalam diri sendiri dengan cara berikut:

  • Tetapkan Tujuan yang Jelas dan Terukur: Jangan biarkan hari-hari mengalir tanpa rencana. Tuliskan tiga tujuan utama setiap pagi dan fokus untuk menyelesaikannya.
  • Bedakan Prioritas: Belajarlah untuk membedakan mana tugas yang sekadar "sibuk" dan mana yang benar-benar produktif. Kerjakan tugas yang paling mendesak dan penting terlebih dahulu.
  • Ciptakan Tenggat Waktu Buatan: Jika suatu tugas tidak memiliki deadline resmi, buatlah sendiri. Gunakan pengatur waktu (timer) untuk memicu motivasi otak agar segera bergerak.
  • Bandingkan Hasilnya: Saat merasa malas, tanyakan pada diri sendiri, "Apa konsekuensinya jika aku tidak melakukan ini sekarang?" Menyadari kerugian di masa depan dapat mengingatkan pada hal-hal yang penting pada waktu yang sedang berjalan (present moment).
  • Cari Teman yang Suportif: Kadang-kadang, kita butuh orang lain untuk mengingatkan. Memiliki rekan yang mengecek kemajuan tugas bisa mendorong kita untuk tetap pada jalur yang benar.

Dengan menumbuhkan sense of urgency, kita berusaha membuat setiap momen berharga.

Artikel berjudul "“Constant Sense of Urgency: When Your Nervous System Won’t Let You Slow Down” dari Tidal Trauma Center yang ditulis oleh Danielle Palmer menyatakan, rasa urgensi sangat wajar untuk membantu kita merespons situasi yang memang membutuhkan tindakan cepat.

Namun, perlu diingat, ketika rasa harus selalu terburu-buru muncul terus-menerus, tubuh dapat berada dalam kondisi hypervigilance atau low-level fight-or-flight.

Kondisi ini dapat membuat kita sulit beristirahat, merasa bersalah ketika tidak produktif, terus merasa “tertinggal”, dan menganggap kecepatan atau produktivitas sebagai ukuran nilai dirinya.

Maka dari itu, masalahnya bukan menghilangkan sense of urgency sepenuhnya. Kita perlu melatih fleksibilitas agar mampu membedakan mana yang benar-benar mendesak dan mana yang sebenarnya tidak.

Jadi, kamu mau memulai aktivitas hari ini dari mana?

Artikel menarik lainnya juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN MENTAL atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih