Menuju konten utama

Berteman dengan Pemalas? Hubungan Bisa Terasa Berat Sebelah

Meski sepele, teman yang malas-malasan bisa jadi beban emosional pada kita yang dituntut untuk selalu berinisiatif dan jadi penyedia informasi baginya.

Berteman dengan Pemalas? Hubungan Bisa Terasa Berat Sebelah
Header Diajeng Berteman dengan Pemalas. tirto.id/Quita

diajeng.id - Dari sekian banyak teman yang pernah mengisi hari-hari kita, mungkin ada satu atau beberapa yang karakternya pemalas atau tampak ogah-ogahan.

Kita mungkin pernah merasa lelah saat membantu mencarikan lowongan kerja untuk teman, akan tetapi mereka malas melamar dan mengeluh tentang solusi yang kita tawarkan.

Atau, ketika teman sudah dibantu sampai diterima kerja di tempat kita, performanya memprihatinkan dan tidak ada niat bekerja. Akibatnya, kita sebagai yang merekomendasikan di tempat kerja malah menanggung malu pada HR serta kolega lainnya.

Di contoh lain, kita berinisiatif mengajak teman belajar bersama di perpustakaan demi skripsi yang tak kunjung digarap. Namun begitu, teman kita tidak tergerak.

Bahkan untuk urusan sederhana seperti menentukan tempat makan atau menonton film, mungkin ada teman-teman kita yang cenderung pasif dan bergantung pada kita untuk mengambil keputusan.

Tak jarang, kita juga harus menjadi "bendahara tetap" yang menalangi biaya karena mereka malas bergerak untuk sekadar membayar bagiannya sendiri. Intinya, dia tidak punya motivasi untuk berinisiatif, sehingga kita jadi lelah menjalani hari bersamanya.

Seperti dijelaskan dalam artikel SELF, fenomena teman yang enggan melakukan usaha sekecil apa pun, seperti bertanya hal-hal yang sebenarnya bisa dicari sendiri di internet, dikenal dengan istilah "finger princess" atau ping-peu.

Perilaku ini, meski tampak sepele, sebenarnya membebankan "kerja emosional" kepada orang lain karena kita dipaksa menjadi penyedia informasi dan pengingat yang konstan.

Menyemangati Teman Pemalas Tanpa Menguras Emosi

Lantas, sebagai teman yang baik, apa yang bisa kita lakukan untuk menyadarkan atau menyemangati mereka tanpa harus menguras energi sendiri?

1. Awali dengan Dialog, Bukan Omelan

Langkah pertama untuk memotivasi seseorang adalah dengan memahami apa yang ada di pikiran mereka. Alih-alih langsung menghakimi, cobalah membuka percakapan untuk mengetahui apakah mereka sebenarnya ingin berubah tetapi tidak tahu caranya.

Kadang-kadang, kemalasan bisa jadi merupakan gejala dari masalah yang lebih dalam, seperti kendala kesehatan mental atau kebingungan terhadap tugas yang dihadapi.

2. Beri "Tekanan" yang Positif ke Teman

Jika teman kamu sulit diajak bergerak, cobalah menggunakan sedikit tekanan teman (peer pressure) yang positif.

Ingatkan mereka secara halus bahwa orang lain bersedia keluar dan melakukan sesuatu yang menyenangkan. Jangan sampai mereka menjadi satu-satunya yang "tertinggal" dengan bertahan di dalam kenyamanan rumah.

Selain itu, buatlah tantangan atau permainan kecil yang memicu kompetisi sehat. Permainan sering kali membangkitkan spontanitas dan motivasi yang biasanya tidak muncul dalam rutinitas normal.

Kamu juga bisa mencoba "membuat mereka iri" dengan menceritakan pengalaman seru yang kamu alami tanpa mereka, sehingga muncul keinginan untuk ikut serta dalam petualangan berikutnya.

3. Stop Jadi "Google" Berjalan

Masih melansir SELF, cara lainnya yang bisa dilakukan untuk menyemangati teman tipe finger princess, belajarlah bersikap asertif. Jika mereka menanyakan hal yang sangat mudah dicari sendiri, jangan langsung memberikan jawabannya.

Gunakan kalimat seperti, "Aku kurang tahu, coba kamu cek di internet dulu, nanti kabari aku hasilnya, ya."

Dengan memberikan tanggung jawab kecil ini, kamu secara halus memaksa mereka untuk melakukan pemecahan masalah secara mandiri.

4. Bekerja Bersama dengan Langkah Kecil

Alih-alih menuntut perubahan besar secara instan, seperti ditekankan dalam artikel di Filling The Jars, coba ajak mereka bekerja sama demi mencapai tujuan bersama. Mulailah dengan langkah-langkah kecil (baby steps).

Misalnya, alih-alih menyuruh mereka menyelesaikan seluruh skripsi, ajaklah mereka untuk sekadar menulis satu paragraf bersama di kafe.

Komunikasi yang jelas mengenai instruksi dan harapan juga sangat membantu karena membuat tugas yang terasa berat jadi lebih mudah dipahami oleh mereka.

5. Berikan Apresiasi dan "Bakar" Semangatnya

Manusia cenderung merespons positif terhadap pujian yang tulus. Kalau temanmu mulai menunjukkan inisiatif sekecil apa pun, jangan ragu untuk memberikan apresiasi.

Strategi memuji ini dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka, yang pada gilirannya akan memotivasi mereka untuk tetap produktif demi mempertahankan citra positif tersebut.

Jaga Batas! Mengubahnya Bukan Tanggung Jawabmu

Satu hal yang perlu ditegaskan, meski kita sudah berusaha membantu, sadari bahwa kita tidak memiliki tanggung jawab penuh untuk mengubah sifat seseorang.

Mengubah kebiasaan malas adalah proses yang sulit dan memerlukan keinginan dari diri sendiri.

Penting untuk menetapkan batasan (boundaries) agar ketimpangan dalam hubungan tidak menimbulkan kebencian atau perasaan martir dalam diri kita.

Apabila segala upaya sudah dilakukan dan mereka tetap tidak mau bergerak, mulailah memprioritaskan energimu untuk diri sendiri atau mencari lingkaran pertemanan yang lebih suportif dan aktif.

Sebab pada akhirnya, kita hanya bisa menawarkan bantuan, selebihnya adalah keputusan mereka untuk melangkah maju.

Simak juga artikel lain yang terkait motivasi diri di link tentang menyemangati.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih