diajeng.id - Artikel ini adalah bagian ketiga dari Serial Diskusi dengan dr. Rizni yang membahas topik "Dukungan Orang Tua untuk Anak yang Bercita-Cita Menjadi Dokter", cek artikel kedua "Anak Mau Jadi Dokter: Empati, Fokus, & Minat Baca Jadi Kuncinya".
Di tengah perasaan bangga ketika mendengar anaknya bercita-cita jadi dokter, setiap orang tua pasti akan bergegas mempertimbangkan rencana terbaik, termasuk menyiapkan mental untuk mendukung biaya pendidikan.
Meskipun anak masih duduk di bangku sekolah, tidak ada salahnya orang tua mulai melakukan riset terkait komponen biaya pendidikan untuk rencana kuliah kedokteran.
Memang betul, biaya pendidikan mengalami inflasi dari tahun ke tahun. Artinya, anggaran atau tabungan pendidikan perlu disesuaikan seiring anak bertambah usia.
Maka dari itu, orang tua bisa mulai membiasakan mencari informasi dan belajar mengenali komponen-komponen biaya pendidikan yang terkait agar tidak terkejut dengan nominalnya kelak.
Menurut dr. Rizni Fitriana, M.Biomed, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa pendidikan kedokteran terdiri dari beberapa tahap. Masing-masing memiliki kebutuhan biaya yang berbeda.
Secara umum, perjalanan ini dimulai dari fase pre-klinik (sekitar 3,5-4 tahun), dilanjutkan fase klinik atau koas di rumah sakit, hingga program internship setelah lulus.
Pada tahap awal pendidikan, biaya utama biasanya berupa uang kuliah (SPP) dan kemungkinan ada uang pangkal, tergantung kebijakan masing-masing kampus. Orang tua disarankan aktif mencari informasi langsung ke universitas agar memiliki gambaran biaya yang lebih jelas sejak awal.
"Orang tua sebaiknya melakukan survei langsung. Kadang pihak universitas memang sudah mencantumkan harga di website, tapi akan lebih baik orang tua langsung menanyakan bisa datang ke universitasnya atau menghubungi kontak yang ada di website masing-masing universitas. Dari situ orang tua ada gambaran untuk biaya dari SPP yang harus dikeluarkan sekitar 7-8 semester," terang dr. Rizni.
"Kalau si anak tinggal jauh dari orang tuanya dan harus indekos, mungkin harus dipikirkan mengenai biaya akomodasi dan biaya hidup. Biasanya setiap daerah itu punya range harganya masing-masing, jadi mungkin bisa survei ke lokasi. Mungkin orang tua bisa melihat dari secara kemampuan finansialnya, kira-kira sampai radius manakah anaknya ini bisa dititipkan untuk bersekolah. Jangan sampai terlalu memberatkan di ongkosnya, misalnya ongkos balik-baliknya kalau mau pulang, atau biaya hidupnya yang tinggi di sana. Jadi itu juga harus agak dipikirkan," lanjut dr. Rizni.
Beberapa mahasiswa juga membutuhkan aplikasi penunjang belajar yang berbayar, serta perlengkapan praktikum atau skill lab, yang perlu dipastikan apakah sudah termasuk dalam biaya kuliah atau belum.
Lalu, memasuki fase koas, kebutuhan biaya cenderung bergeser. Selain biaya pendidikan, mahasiswa biasanya mengeluarkan biaya tambahan untuk keperluan laporan, seperti cetak dokumen atau membeli perlengkapan penunjang. Di tahap ini, pengeluaran bisa meningkat karena intensitas tugas yang lebih tinggi.
"Kemudian, terakhir, ketika mau jadi dokter, maka anak-anak akan melalui ujian yang kita sebut sebagai ujian kompetensi. Nah, ujian kompetensi ini ada dua. Sampai saat ini diujikan dalam bentuk ujian praktik yang kita sebut sebagai OSCE dan ujian teori yang kita sebut sebagai ujian CBT. Ujian ini apakah bisa berubah? Bisa jadi, nanti akan tergantung dari kebijakan Kemenkes dan juga kolegium dari kedokteran."
"Sejauh ini masih dua ujian ini, dan ujian ini memang ada biayanya. Ketika akan ujian, mungkin orang tua bisa menanyakan apakah biaya perkuliahan itu sudah termasuk dengan biaya mengikuti ujian tersebut. Dan apabila si anak tidak langsung lulus dalam satu ujian, apakah akan ada biaya yang dikeluarkan? Itu juga boleh ditanyakan kepada universitas yang dituju," sebut dr. Rizni.
Di akhir pendidikan, ada pula biaya ujian kompetensi sebagai syarat menjadi dokter, yang umumnya terdiri dari ujian teori dan praktik. Orang tua perlu memastikan apakah biaya ini sudah termasuk dalam paket pendidikan atau harus dibayar terpisah, termasuk kemungkinan biaya jika harus mengulang ujian.
Selai itu, meski sudah lulus, anak masih harus menjalani masa internship. Pada tahap ini, anak memang sudah menerima penghasilan, akan tetapi biasanya belum sepenuhnya mencukupi, sehingga dukungan orang tua masih dibutuhkan, baik secara finansial maupun emosional.
Nantikan artikel selanjutnya berisi saran-saran praktis dari dr. Rizni untuk orang tua yang ingin mendukung cita-cita anaknya jadi dokter!
Editor: Sekar Kinasih