Menuju konten utama
Diskusi dengan dr. Rizni #2

Anak Mau Jadi Dokter: Empati, Fokus, & Minat Baca Jadi Kuncinya

Dunia kedokteran lekat dengan bacaan berat yang tak selalu menarik secara visual. Bagaimana orang tua menjaga minat anak yang tertarik untuk menekuninya?

Anak Mau Jadi Dokter: Empati, Fokus, & Minat Baca Jadi Kuncinya
Header Diajeng Seri Anak Mau Jadi Dokter. tirto.id/Quita

diajeng.id - Artikel ini adalah bagian kedua dari Serial Diskusi dengan dr. Rizni yang membahas topik "Dukungan Orang Tua untuk Anak yang Bercita-Cita Menjadi Dokter", cek artikel pertama "Anak Mau Jadi Dokter: Dukungan Orang Tua Perlu Disertai Realitas".

Selama berkarier sebagai dokter dan dosen, dr. Rizni Fitriana, M.Biomed kerap mendengar curhatan dari keluarga maupun teman yang anaknya mulai menunjukkan minat menjadi dokter.

Dari cerita-cerita mereka, dr. Rizni menangkap perasaan-perasaan orang tua yang campur aduk, di satu sisi bangga dan senang, akan tetapi di sisi lain muncul kekhawatiran apakah mereka mampu mendampingi dan memfasilitasi perjalanan tersebut dengan baik.

"Saya sangat menganjurkan ke orang tua untuk mempersiapkan anak sedari dini. Mulai dari hal kecil saja, kita harus membiasakan anak untuk berempati, karena ketika menjadi dokter, kita akan berhadapan dengan berbagai karakter manusia," ujar dr. Rizni.

"Sebagai manusia, makhluk hidup yang mungkin sedang menderita, mereka pasti datang ke kita dalam kondisi sakit. Nah, apabila dokter tidak punya empati yang cukup baik, tentu saja itu akan memengaruhi performanya sebagai seorang dokter," lanjutnya lagi.

Selain itu, kemampuan fokus atau konsentrasi perlu dilatih.

Di tengah kebiasaan anak-anak saat ini yang akrab dengan informasi digital yang serba cepat, kemampuan untuk fokus dalam waktu lama menjadi tantangan tersendiri. Padahal, dunia kedokteran sangat lekat dengan buku teks dan jurnal yang padat serta tidak selalu menarik secara visual.

"Kalau kita sudah mulai membiasakan anak dari kecil untuk membaca buku, itu tentu akan membantu kemampuan dia dalam berkonsentrasi. Apalagi sampai detik ini yang namanya ilmu kedokteran itu pasti bersumber dari textbook dan juga jurnal, yang informasinya cenderung 'kurang menarik' karena banyak tulisannya," terang dr. Rizni.

Dengan membiasakan anak membaca sejak kecil, orang tua turut berperan mengasah daya tahan belajar mereka.

"Selanjutnya adalah selalu afirmasi positif kepada anak, bahwa segala mimpinya dan cita-citanya pasti bisa tercapai sepanjang dia bersungguh-sungguh dan mau berusaha dengan giat," imbuh dr. Rizni.

Dukungan emosional seperti ini, menurut dr. Rizni, sering kali menjadi bahan bakar utama bagi anak untuk terus bertahan dalam proses yang panjang.

Orang tua juga dapat mulai memperkenalkan dasar-dasar ilmu yang relevan, seperti biologi sejak dini, lewat buku-buku tentang anatomi tubuh manusia.

"Misalnya, orang tua bisa mencoba mencari buku ensiklopedia yang terkait dengan tubuh manusia, dari hal-hal kecil saja dulu, supaya si anak ini semakin tertarik dan ingin tahu. Rasa ingin tahu anak perlu dilatih. Dengan rasa ingin tahu yang cukup, tentu saja anak akan lebih kritis dan lebih mudah mempelajari sesuatu," ujar dr. Rizni.

"Apabila ada hal-hal yang menarik bagi anak, pasti dia akan bertanya-tanya terus. Jadi kalau memungkinkan, sebaiknya anak mulai difasilitasi untuk hal-hal yang memicu rasa ingin tahunya," saran dr. Rizni.

Nantikan artikel selanjutnya berisi saran-saran praktis dari dr. Rizni untuk orang tua yang ingin mendukung cita-cita anaknya jadi dokter!

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih