diajeng.id - Apa kamu pernah mencintai seseorang dengan menggebu-gebu sampai perasaanmu berubah jadi obsesi?
Kamu begitu ingin memiliki sosok orang yang kamu kasihi tersebut, hingga sulit membedakan antara kasih sayang dan keinginan untuk mengendalikan.
Itulah gambaran utama dalam film horor Obsession (2026). Cinta yang manis dan tulus ternyata bisa berubah jadi sensasi yang gelap dan menyesakkan, sebuah obsesi tidak sehat yang dipenuhi dorongan untuk menguasai.
Alih-alih membawa kebahagiaan, obsesi atas nama cinta tersebut justru menimbulkan luka, tidak hanya bagi si pelaku, tetapi juga bagi orang-orang di sekitarnya.
Resensi Film Obsession (2026)
Obsession (2026) mengisahkan Bear (Baron), sosok laki-laki pendiam yang memendam perasaan pada Nikki, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerjanya di toko musik.
Hubungan mereka yang dekat membuat Bear ragu untuk jujur tentang perasaannya lantaran takut merusak persahabatan yang sudah terjalin lama.
Situasi berubah ketika Bear tanpa sadar terjerat kutukan one wish willow. Sekilas, istilah tersebut tidak terdengar seperti kutukan, tetapi konsekuensinya mengerikan.
Bear berharap Nikki bisa mencintainya lebih dari apa pun di dunia. Permintaan itu memang terkabul, tetapi dengan cara yang jauh dari bayangannya.
Nikki yang Bear kenal perlahan menghilang, digantikan oleh sosok lain yang ganjil dan tak terkendali. Tatapannya kosong, perilakunya tidak stabil, bahkan cenderung berbahaya hingga melukai diri sendiri dan orang di sekitarnya.
Di balik itu semua, terungkap kenyataan mengerikan, Nikki yang asli justru tersiksa di dimensi lain, sedangkan versi “pengganti” hidup berdampingan dengan Bear.
Alih-alih memperbaiki keadaan, Bear justru terjebak dalam keegoisannya sendiri.
Bear memilih mempertahankan cinta semu tersebut, meski harus mengorbankan kenyataan yang jauh lebih kelam. Keputusan ini akhirnya menyeret Bear pada konsekuensi fatal. Kutukan one wish willow ternyata menagih harga dari setiap keinginan yang dipaksakan.
Dari awalnya kisah cinta yang terasa akrab dengan kehidupan sehari-hari, Obsession bergeser jadi horor psikologis yang gelap dipenuhi teror, kekerasan, dan tekanan emosional yang semakin intens.
Catatan untuk Film Obsession (2026)
Obsession berhasil mengangkat tema yang relevan dengan fenomena masa kini, terutama soal obsesi dalam cinta dan budaya internet yang sarat dengan toxic attachment serta keinginan untuk memiliki secara berlebihan.
Pendekatan horor yang diusung terasa berbeda karena tidak bergantung pada jumpscare, melainkan membangun rasa tidak nyaman melalui ritme yang ganjil dan atmosfer yang mengganggu.
Selain itu, akting Inde Navarrette sebagai Nikki menjadi salah satu daya tarik utama.
Transformasi karakternya dari sosok perempuan normal menjadi tidak stabil terasa kuat dan meyakinkan. Visual film yang berani menampilkan nuansa gelap yang sesak dan adegan disturbing juga berhasil mempertegas kesan horor yang intens.
Di balik itu, cerita ini terlalu berfokus pada sudut pandang Bear. Akibatnya, perspektif Nikki, terutama terkait penderitaan psikologis dan seksualnya, kurang tergali secara mendalam.
Karakter Bear sendiri juga terasa kurang simpatik karena sifatnya yang egois, sehingga menyulitkan penonton untuk terhubung secara emosional.
Secara keseluruhan, alur cerita dalam film ini terasa kurang rapi dengan intensitas kekerasan yang cukup tinggi, bahkan di beberapa bagian terkesan berlebihan.
Alih-alih memperkuat jalannya cerita, sejumlah adegan brutal justru lebih menonjolkan unsur kejutan dibandingkan makna yang ingin disampaikan.
Padahal, tema utama mengenai obsesi dan dinamika relasi gender memiliki potensi besar, yang sayangnya belum sepenuhnya digarap secara optimal.
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih