Menuju konten utama

Mengenali Tanda-Tanda Awal Kekerasan Emosional dalam Relasi

Pola-pola kekerasan emosional, mulai dari love bombing, sifat posesif, hingga gaslighting merupakan kunci untuk mengidentifikasi relasi yang tidak sehat.

Mengenali Tanda-Tanda Awal Kekerasan Emosional dalam Relasi
Ilustrasi relasi abusif. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Apa yang muncul di benakmu ketika mendengar tentang kekerasan domestik atau kekerasan dalam relasi?

Luka fisik atau cedera akibat perilaku pasangan? Ya, betul, tetapi tidak sepenuhnya tepat.

Kekerasan di ranah personal tidak terbatas pada insiden fisik, tetapi bisa juga melalui perilaku-perilaku "halus" yang lebih banyak meninggalkan dampak secara emosional dan psikologis pada korban.

Kekerasan emosional biasanya lebih sulit dikenali karena pelaku punya kemampuan untuk menutupi-nutupi aksinya dan dapat meyakinkan pasangan serta orang-orang terdekat mereka bahwa semua berjalan baik-baik saja.

Tanda-tanda awal kekerasan emosional dalam relasi sering kali tidak terlihat seperti ancaman. Yang ada, korban malah mendapatkan perhatian lebih dari pelaku.

Atau, pelaku juga bisa menunjukkan "sifat buruk" yang dianggap masih dalam tahap wajar oleh korban lantaran mereka masih berada di masa-masa perkenalan.

Di satu sisi, mengenali tanda-tanda kekerasan sejak dini merupakan langkah penting untuk menjaga keselamatan diri di kemudian hari.

Yang Sering Ditunjukkan Pelaku Kekerasan

Salah satu perilaku yang lazim ditunjukkan oleh pelaku kekerasan emosional dalam relasi kepada pasangannya adalah love bombing.

Love bombing merujuk pada upaya untuk memberikan kasih sayang secara berlebihan, seperti sering memberikan hadiah mahal-mahal kepada pasangan, terutama di awal menjali hubungan.

Meski terkesan seperti bentuk kasih sayang, love bombing pada esensinya merupakan manipulasi emosional agar korban merasa terikat, alih-alih bentuk cinta yang tulus.

Beberapa cara lainnya yang pelaku lakukan untuk menjerat korban seperti mendesak untuk segera berkomitmen, mulai dari meminta tinggal bersama atau mengajak segera menikah meski baru saja kenal.

Perilaku-perilaku tersebut, tidak bisa dimungkiri, menciptakan kesan positif pada sosok pelaku kekerasan. Akibatnya, jika di kemudian hari ada tindak kekerasan yang dilakukan, korban akan menyangkal kejadiannya karena dibayang-bayangi fakta love bombing oleh pelaku selama ini.

Lalu, seiring waktu, kasih sayang yang ditunjukkan itu bisa berubah menjadi bentuk posesif dan rasa cemburu yang ekstrem.

Misalnya, pelaku terus-menerus mengirim pesan ketika tidak sedang bersama korban, atau tiba-tiba muncul di hadapan korban tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Meski pelaku berdalih perilakunya adalah ekspresi rasa sayang, kepedulian, dan keinginan untuk selalu dekat, pada akhirnya yang terjadi adalah upaya mengontrol dan memonitor gerak-gerik korban.

Yang menyakitkan, hal ini sering berujung pada isolasi.

Pelaku akan mencoba menjauhkan korbannya dari orang-orang terdekat, seperti teman dan keluarga dengan cara menjelek-jelekkan atau membuat korban jadi merasa bersalah karena menghabiskan waktu bersama orang lain.

Tindakan lain yang ditunjukkan oleh pelaku kekerasan emosional adalah perilaku mengontrol, termasuk memaksa korban untuk memberikan informasi pribadi yang sebenarnya tidak boleh diketahui.

Misalnya, pelaku menuntut korban memberikan semua kata sandi di perangkat dan aplikasi pribadi, mengatur cara berpakaian, apa yang boleh dan tidak boleh dimakan, hingga mengontrol keuangan korban.

Pelaku acap kali berargumen bahwa tindakannya dilakukan atas dasar melindungi korban. Pada waktu sama, hal tersebut berdampak pada hilangnya otonomi diri. Korban pun akan semakin bergantung pada pelaku.

Dalam interaksi sehari-hari, pelaku kekerasan emosional sering menggunakan taktik gaslighting untuk membuat korban meragukan realitas dan ingatannya sendiri.

Situs Texas Tech University menyebutkan, pelaku kemungkinan berbohong secara konsisten, menyebut korban "terlalu sensitif," atau mengklaim tidak pernah mengatakan sesuatu yang jelas-jelas bisa didengar.

Taktik tersebut sangat efektif untuk meraih kekuasaan karena membuat korban merasa bahwa merekalah yang bersalah atau "tidak stabil".

Selain itu, pelaku sering menolak bertanggung jawab atas perilaku mereka sendiri. Mereka mungkin menyalahkan mantan pasangan, stres kerja, atau bahkan pengaruh alkohol dan obat-obatan atas kemarahan mereka, seolah-olah perilaku kekerasannya adalah sesuatu yang tidak bisa dikontrol.

Pelaku Kekerasan

Penting untuk dipahami bahwa pelaku kekerasan, baik fisik maupun emosional, sebenarnya memiliki kendali penuh atas perilaku mereka.

Mayoritas pelaku kekerasan berperilaku selayaknya orang biasa. Mereka bisa mempresentasikan diri sebagai sosok yang rapi menawan dan sopan di depan umum, akan tetapi mereka juga bisa menunjukkan sisi abusifnya kepada orang-orang terdekat di balik pintu tertutup.

Mereka memilih waktu dan tempat yang tepat untuk melancarkan aksi kekerasan tanpa ada saksi yang melihat, bahkan menampilkan perilaku yang sempurna di depan publik untuk memanipulasi korban agar merasa bahwa kekerasan yang terjadi di ranah privat hanyalah imajinasi semata.

Mengenali pola-pola kekerasan emosional, mulai dari love bombing, posesivitas, hingga gaslighting adalah kunci untuk mengidentifikasi relasi yang tidak sehat.

Kekerasan emosional mungkin tidak meninggalkan luka berdarah di kulit, tetapi dampaknya bisa sangat merusak harga diri dan keamanan jiwa.

Apabila kamu adalah korban kekerasan dalam sebuah relasi, ingatlah bahwa kamu selalu punya kesempatan untuk mencari bantuan lewat sistem pendukung, baik itu teman, keluarga, Lembaga Bantuan Hukum (LBH), atau organisasi pendukung korban kekerasan lainnya yang dapat membantu memberikan saran dan rencana keselamatan.

Ingat, kamu tidak harus menghadapi situasi ini sendirian.

Artikel lainnya seputar relasi juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait KEKERASAN PACARAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih