diajeng.id - Sabrina Carpenter dihujani kritik pedas setelah mengunggah dua gambar yang menandai peluncuran album terbarunya—direncanakan rilis 29 Agustus mendatang.
Gambar pertama yang menjadi sampul depan album berjudul Man’s Best Friend tersebut memperlihatkan dirinya yang tengah berpose seperti seekor anjing.
Sabrina tampak berlutut di lantai dalam balutan minidress hitam dan sepatu high heels dengan satu tangannya menyentuh paha seorang laki-laki yang terpotong dari bingkai.
Sosok laki-laki dengan setelan serbahitam itu menggenggam rambut pirangnya yang terurai jatuh seperti tengah memegang tali kekang anjing. Sabrina menatap ke arah kamera dengan ekspresi sensual, mulut menganga, dan mata terbelalak.
Gambar kedua yang diunggah bersamaan ikut menegaskan makna pose Sabrina.
Foto itu menunjukkan close-up badan seekor anjing putih yang mengenakan kalung dengan pendan berbentuk hati bertuliskan judul album tersebut, Man’s Best Friend.
Cover art albumnya itu pun mengundang kontroversi dan reaksi yang beragam.
Ada yang menganggapnya sebagai satir yang cerdas. Di sisi lain, banyak orang beranggapan bahwa posenya berpotensi mengobjektifikasi perempuan serta mempromosikan male gaze.
Kritik paling keras datang dari sejumlah feminis yang menganggap cover art tersebut regresif.
Organisasi advokasi untuk melawan kekerasan domestik asal Skotlandia, Glasgow Women’s Aid, mengatakan bahwa sampul album Man’s Best Friend membangkitkan stereotip berbahaya yang mereduksi perempuan sebagai hewan peliharaan, properti, dan objek.
Tidak sedikit penggemar Sabrina menepis kritik demikian karena dianggap dangkal dan melenceng dari konteks kreatif sang penyanyi.
Lead single dari album ini, Manchild—keluar awal Juni kemarin—menjadi bukti bahwa sampul tersebut satir belaka.
Keseluruhan lagu Manchild menyindir tingkah laku laki-laki yang kekanak-kanakan dalam hubungan.
“I swear they choose me, I’m not choosing them. Amen!” ujarnya berkali-kali dalam bridge lagu Manchild untuk membela diri.
Jika menengok lirik lagu-lagunya yang jenaka dan kerap menyinggung laki-laki, pendapat ini memang terdengar masuk akal.
Hampir di setiap musik videonya, selalu ada saja tokoh laki-laki yang mati. Hanya saja, kali ini Sabrina sepertinya bermain-main terlalu dekat dengan api.
Gambar sampul album itu seakan mempermainkan persona bintang popnya yang hiperfeminin dan berbau seksual—tidak jauh berbeda dengan gimmick untuk lagu Juno yang selalu dilakukannya di tur konser “Short n’ Sweet” di mana ia akan memperagakan posisi seks yang berbeda untuk tiap tur.
Meskipun penampilan Juno juga menuai kritik dari pihak konservatif, kontroversi sampul album Man’s Best Friends membuatnya semakin jadi sorotan para feminis.
@thatespressoo " why is there no text " I"m lazy. #sabrina#carpenter#fyp#juno#junopositions#sabrinacarpenter#shortnsweettour
♬ son original - 𝓥𝓪𝓷𝓲𝓵𝓵𝓪
Dari lensa feminis, aksi sensual dan provokatif Sabrina tidak lagi diartikan memberdayakan dan menumbangkan seksualitas tradisional perempuan, tetapi semata-mata memanjakan tatapan laki-laki (male gaze).
Tidak mengherankan apabila ada yang kesulitan memahami gambaran seorang perempuan merangkak dengan rambut yang dijambak ke atas sebagai sebuah satir atau ironi atas nama kerja kreatif, alih-alih soft-porn yang merugikan perempuan.
Jurnalis Poppie Platt dalam tulisannya di The Telegraph membandingkan sampul album Sabrina dengan tren “traditional wife”, gaya hidup istri bergaun cantik yang selalu siap menyambut suaminya pulang dari bekerja.
Kesimpulan itu ditarik dari pose berlutut Sabrina yang menunjukkan sikap tunduk atau submisif terhadap laki-laki terlepas dari konteks seks atau tidak.
Tak hanya itu, Platt juga membandingkan pasar musik Sabrina dengan bisnis baru aktris Sydney Sweeney yang menjual sabun dari air bekas mandinya.
Kolaborasi ini Sydney lakukan dengan brand bernama Dr. Squatch, produsen sabun batang berbahan natural yang menargetkan produknya untuk laki-laki.
Sebanyak 5.000 batang sabun “Sydney’s Bathwater Bliss” seharga 8 USD (sekitar Rp130 ribu) tersebut dikabarkan habis terjual dalam hitungan menit ketika dirilis pada 6 Juni silam.
Meski begitu, komparasi yang dibuat Platt kurang tepat karena berbeda dari Sydney, Sabrina jelas menargetkan pasar musiknya pada perempuan muda.
@drsquatch Sydney’s Bathwater Bliss is now available for purchase! 🛁 Made with @syds_garage’s actual bathwater + notes of Pine, Fir & Moss. Only 5,000 of these briccs exist. Grab one now so you can finally say you"ve showered with Sydney Sweeney 🧼❤️ Shop Now: Link in bio!
♬ original sound - Dr. Squatch - Dr. Squatch
Di sisi lain, Alex Lalli berargumen di Ms. Magazine bahwa ketidaknyaman sesungguhnya dari kontroversi sampul album Sabrina Carpenter bukanlah unsur seksualitasnya, melainkan tentang normalisasi gambar-gambar kekerasan terhadap perempuan.
Visual rambut yang dijambak memiliki kaitan yang erat dengan kekerasan domestik. Sampul album itu mencerminkan dominasi dan kontrol laki-laki sekaligus menggambarkan perempuan dalam konteks kekerasan.
Lalli mengutip studi di esai opini The New York Times berjudul “The Troubling Trend in Teenage Sex”. Ternyata, dua pertiga dari 5.000 perempuan yang disurvei mengatakan pernah dicekik saat berhubungan seks dengan pasangannya. Statistik tersebut diiringi dengan fakta bahwa sebagian besar partisipan melaporkan antusiasme dan bahkan meminta untuk dicekik.
Kendati demikian, masih terlalu awal untuk menganalisis secara berlebihan terhadap makna di balik sampul depan album Man’s Best Friend yang baru akan keluar minggu depan.
Satir nakal dalam lagu Manchild saja tidak cukup untuk menebak-nebak nuansa keseluruhan isi album Man’s Best Friend dan maksud sampulnya.
Sabrina barangkali ingin mengomentari bagaimana perempuan diminta tunduk terhadap laki-laki dan kerap diperlakukan semena-mena, seperti binatang peliharaan.
Atau mungkin ia hanya sedang mengejek kita yang terlalu berpikiran kotor.
Selain itu, bisa juga ini semua hanyalah strategi pemasaran yang cerdik supaya album barunya menjadi pusat pembicaraan di internet.
Lagipula, penafsiran kita acap kali lebih mencerminkan diri kita sendiri daripada maksud asli seni tersebut.
Perdebatan ini justru memberikan pertanyaan yang lebih besar, mengapa kita begitu terobsesi dengan ekspresi seksualitas perempuan?
Penulis: Yolanda Florencia Herawati
Editor: Sekar Kinasih