diajeng.id - “What are you?”
“I'm a mouse, duh!”
Ingat dengan percakapan ikonik tersebut?
Tenang, pertanyaan ini bukan jebakan umur untuk kamu yang tumbuh remaja di awal tahun 2000-an.
Dialog di atas merupakan bagian dari adegan memorable antara Karen (diperankan Amanda Seyfried) dan Gretchen (Lacey Chabert ) saat menghadiri pesta Halloween yang diadakan oleh Regina (Rachel McAdams) di film Mean Girls (2004).
Regina disebut sebagai salah satu sumber inspo costume untuk Halloween dari tahun ke tahun di SMA mereka.
Kali ini, dia mengenakan baju kelinci ala ikon majalah Playboy. Kostumnya dipadu dengan white bodysuit, short warna hitam, thigh high stockings, dan gelang berbulu.
Karen memilih kostum tikus seksi dengan gaun pendek warna hitam, sementara Gretchen memutuskan untuk role playing sebagai Cat Woman.
Hal yang menarik dari adegan Halloween di Mean Girls adalah komentar tokoh protagonis Cady (Lindsay Lohan) tentang perayaan di tiap akhir Oktober itu.
Opini Cady di atas patut dicermati karena menunjukkan bahwa pada periode dan kondisi tertentu, perempuan seakan terus-menerus berada dalam situasi perang dan hanya memiliki kesempatan untuk bebas mengekspresikan diri satu hari dalam setahun.
Sayangnya, opini Cady tidak berlaku dalam semesta film lain, seperti misalnya Legally Blonde (2001).
Tokoh Elle Woods (Reese Witherspoon) dijebak oleh tunangan mantan pacarnya ke pesta Halloween dengan embel-embel pesta kostum.
Ia dengan percaya diri muncul mengenakan kostum kelinci pink dan korset, mirip dengan yang dikenakan oleh Regina di Mean Girls.
Pesta tersebut ternyata bersifat semiformal, sehingga Elle tampak seperti anomali.
Alih-alih bersenang-senang, ia justru dipermalukan karena terlihat “berbeda” dengan tamu lain yang mengenakan pakaian kasual.
Kostum kelinci yang dikenakan Elle bukan sekadar bagian dari lelucon. Justru kostum tersebut menyimbolkan upaya-upaya untuk mendiskreditkan sosok Elle.
Di sisi lain, para tamu pesta yang mengenakan jas atau pakaian kasual adalah jajaran orang terhormat dengan kualitas yang jauh dibandingkan Elle.
Ini terlihat, contohnya, dalam komentar si mantan pacar Warner kepada Elle di tengah pesta, "El, ayolah. Nilaimu tidak akan cukup untuk memenuhi kualifikasi. Kamu tidak cukup pintar, Sayang… Seriuslah sedikit, kamu punya banyak waktu luang untuk hal yang lebih berharga.”
Stigmatisasi seperti yang dilakukan Warner juga mewujud di dunia nyata.
Bukan hal langka jika mayoritas publik sekarang mengasosiasikan pakaian seksi dengan tingkat intelektualitas si pemakainya.
Pikiran dangkal tersebut menampik fakta bahwa kostum Halloween mengalami evolusi yang cukup panjang.
Kostum Halloween bukan sekadar tentang pilihan cara berpakaian, tetapi juga produk panjang dari sejarah gerakan perempun.
Kemerdekaan berekspresi melalui perayaan Halloween adalah hasil dari perjuangan perempuan merebut kontrol atas tubuh sendiri.
Seperti ditulis Teresa Pavia dari University at Albany di New York, fesyen telah lama jadi alat untuk menekan gerak perempuan.
Maka gerakan feminisme gelombang dua yang muncul pada dekade 1960-an di Amerika Serikat menjadikan material yang sama sebagai alat pembebasan.
Memahami akar dari pakaian terbuka dalam tradisi Halloween membuat kita lebih waspada untuk melemparkan penilaian jika menyangkut cara berpakaian seseorang.
Ketika zaman dan pemikiran semakin progresif, gaya berpakaian ala Halloween yang awalnya menjadi gerakan perlawanan semakin ke sini justru dikapitalisasi oleh industri fesyen dengan menjadikan perempuan sebagai konsumen utama.
Hal ini ditegaskan oleh Adie Nelson dari University of Waterloo dalam artikel "The Pink Dragon Is Female: Halloween Costumes and Gender Markers" (2006).
Meski fokus penelitiannya adalah politik pilihan kostum Halloween di kalangan anak-anak, temuannya tetap saja menarik.
Dalam wawancara dengan New York Times, Adie berpendapat bahwa kemunculan kostum seksi Halloween secara tidak langsung berhubungan dengan label gender pada pakaian anak-anak.
Menariknya, kostum anak laki-laki lebih netral, sedangkan pakaian perempuan dibuat lebih menonjol dengan beragam modifikasi.
"Ketika anak-anak ini dewasa, tren gender [dalam Halloween] terus berlanjut," tuturnya.
Lebih lanjut, Adie juga menyoroti bagaimana seolah individu memiliki kebebasan dan kontrol untuk memilih kostum Halloween sendiri.
Padahal, dalam penelitiannya, Adie menegaskan pasar komersial adalah pihak yang berperan penting dalam menentukan imajinasi kostum yang tengah populer saat itu.
"Berpuluh tahun setelah gelombang kedua gerakan feminisme, kamu pasti mengira ada lebih banyak pilihan netral dalam kostum (Halloween)," Adie menyayangkan.
Kenyataannya tidak sesimpel itu.
Kostum Halloween untuk laki-laki, menariknya, tidak mengalami pelabelan aneh-aneh. Jika pun ada, popularitasnya tidak seheboh atau semasif kostum seksi perempuan.
Berkaca dari pakaian seksi di Halloween, kita dapat memahami kompleksitas situasi di balik sebuah tren.
Akan selalu ada kelindan antara kebebasan berekspresi dengan tren yang secara sembunyi-sembunyi disponsori oleh industri besar dalam rangka meraup untung dari tren yang ada di masyarakat.
Namun ketika berbicara tentang kostum Halloween, yang pertama dan utama adalah kenyamanan si pemakainya. Setuju?
Penulis: Erika Rizqi
Editor: Sekar Kinasih