diajeng.id - Keputusan untuk melakukan eksplorasi mandiri atau masturbasi adalah bagian dari pengalaman seksualitas yang alami dan manusiawi, tak terkecuali pada perempuan.
Masturbasi, seperti dijelaskan dalam Luma Therapy, acap kali menjadi cara sehat untuk mengenal tubuh dan memahami apa yang memberikan kenyamanan serta kepuasan bagi diri sendiri.
Survei di Amerika Serikat oleh Alfred Kinsey yang dipublikasikan di The Kinsey Report sepanjang tahun 1948 dan 1953 menunjukkan bahwa masturbasi pernah dilakukan oleh sebanyak 62 persen responden perempuan, sementara persentasenya mencapai 92 persen pada responden laki-laki.
Temuan di atas seakan-akan meruntuhkan asumsi yang ramai berseliweran tentang perempuan era Victoria yang menahan diri, alias tidak memiliki hasrat seksual.
Di balik realitasnya yang manusiawi, masturbasi masih dipandang tabu dan "keliru" dari lensa moral masyarakat pada umumnya.
Apabila kamu pernah merasakannya, kamu jelas tidak sendirian. Fenomena ini nyata, lazim, dan bukan berarti ada yang salah dengan diri atau tubuhmu.
Pertanyaannya, mengapa perasaan ini bisa muncul? Bagaimana cara menavigasi rasa bersalah tersebut dengan tetap fokus pada kasih sayang untuk diri sendiri?
Mengapa Rasa Bersalah Itu Muncul?
Rasa bersalah setelah masturbasi biasanya berkaitan dengan "pesan-pesan" yang kita terima sejak kecil, yang kemudian mengakar ke dalam alam bawah sadar kita.
Berikut adalah beberapa faktor utama yang sering melatarbelakanginya dirangkum dari situs Inner Planet, Choosing Therapy, dan Luma Therapy:
1. Kondisi Budaya dan Agama
Banyak dari kita tumbuh dalam lingkungan atau tradisi yang memandang seksualitas, terutama seksualitas solo, sebagai hal yang tabu, tidak pantas, atau bahkan dosa.Pesan-pesan seperti "perempuan baik-baik tidak menyentuh diri sendiri" atau "tubuhmu suci dan tidak boleh dinodai" dapat meresap jauh ke dalam sistem saraf.
Meskipun secara intelektual kita mungkin sudah berpikiran progresif, residu dari keyakinan lama tetap berpotensi memicu rasa malu secara otomatis.
2. Mitos dan Misinformasi
Selama berabad-abad, banyak mitos yang digunakan untuk menakut-nakuti orang agar tidak melakukan masturbasi, seperti anggapan bahwa hal itu bisa menyebabkan kebutaan, ketidaksuburan, atau masalah kesehatan mental.Meski begitu, dalam penjelasan medis, hal ini belum terbukti kebenarannya. Narasi ini pun cukup sering menghantui dan menimbulkan kecemasan yang tidak berdasar.
3. Dinamika Hubungan dan Pandangan Moral
Beberapa orang merasa bersalah karena menganggap masturbasi adalah bentuk "pengkhianatan" terhadap pasangan atau merasa bahwa hasrat seksual seharusnya hanya ditujukan langsung kepada orang lain.Padahal, eksplorasi mandiri sebenarnya bisa meningkatkan kepercayaan diri seksual yang berdampak positif pada hubungan bersama pasangan.
4. Perubahan Hormonal dan Kimiawi
Kadang-kadang, perasaan negatif setelah orgasme bukan disebabkan oleh moralitas, melainkan murni faktor biologis.Setelah orgasme, tubuh mengalami penurunan hormon dopamin dan oksitosin secara drastis.
Penurunan ini terkadang menyebabkan penurunan suasana hati sesaat yang dikenal sebagai post-orgasm dysphoria.
Langkah-Langkah Mengelola Perasaan Bersalah Setelah Marturbasi
Menghilangkan rasa bersalah yang sudah tertanam lama memang memerlukan waktu dan kesabaran.
Masih melansir sumber-sumber di atas, berikut adalah panduan teknis untuk membantumu menavigasi rasa bersalah ini:
1. Sadari dan Beri Nama pada Keyakinan Tersebut
Saat rasa bersalah muncul, coba tanyakan pada diri sendiri, "Dari mana asal keyakinan ini? Apa ini murni pikiranku sendiri atau berkaitan denganpesan lama dari orang lain?"Kesadaran ini bisa jadi langkah pertama untuk merelakan atau melepaskan beban yang sebenarnya bukan milik kita.
2. Praktikkan Belas Kasih pada Diri Sendiri (Self-Compassion)
Coba sampaikan pada diri sendiri, "Aku merasa bersalah saat ini, tetapi itu bukan berarti aku telah melakukan kesalahan yang bersifat merugikan."Akui perasaan itu tanpa sampai perlu menghakiminya.
3. Edukasi
Ingatkan diri bahwa masturbasi adalah pengalaman manusiawi yang sama alaminya dengan makan atau tidur.
Membaca literatur yang positif tentang seksualitas dapat membantu mematahkan mitos-mitos lama dan memberikan perspektif baru bahwa pengalaman ini bisa menjadi salah satu bentuk perawatan diri (self-care).
4. Gunakan Teknik Penenangan Diri (Grounding)
Kalau emosi terasa terlalu meletup-letup setelahnya, coba letakkan satu tangan di dada dan satu lagi di perut.Ambil napas dalam secara perlahan sebanyak lima kali sambil ingatkan diri sendiri, "Aku merasa aman, tubuhku berhak merasakan kenyamanan."
5. Ciptakan Ritual yang Positif
Alih-alih melakukan masturbasi dengan terburu-buru atau sembunyi-sembunyi yang bisa memicu rasa malu, cobalah mengubahnya menjadi ritual yang dilakukan dengan mindful.Gunakan musik yang menenangkan atau suasana yang nyaman untuk menekankan bahwa ini adalah momen koneksi dengan diri sendiri.
Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?
Apabila rasa bersalah setelah masturbasi terus-menerus muncul, sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, atau berkaitan dengan trauma masa lalu, coba pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan terapis atau konselor kesehatan seksual.
Terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dapat membantu membongkar pola pikir negatif dan menggantinya dengan cara pandang lebih sehat.
Alih-alih diperlakukan sebagai masalah yang harus diselesaikan, hasrat masturbasi adalah bagian dari pengalaman yang lumrah dan manusiawi. Kamu berhak merasa bebas dan nyaman di dalam tubuhmu sendiri.
Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih