Menuju konten utama

Ketika Self-Reward Berubah Menjadi Financial Self-Sabotage

Hubungan kita dengan uang acap kali dipengaruhi oleh pengalaman hidup, pola asuh keluarga, manajemen emosi, dan latar belakang budaya.

Ketika Self-Reward Berubah Menjadi Financial Self-Sabotage
Header Diajeng Financial Self Sabotage. tirto.id/Quita

diajeng.id - Kamu tentu sudah akrab dengan istilah self-reward, self-care, atau self-love sebagai upaya untuk membahagiakan diri sendiri.

Dalam konteks keuangan, self-reward tentu melibatkan tindakan mengeluarkan uang, misalnya dengan beli minuman mathca favorit yang harganya cukup mahal, pergi liburan ke luar negeri, atau mengganti smartphone lama dengan keluaran lebih baru agar bisa membuat konten jadi lebih bagus.

Meski begitu, self-reward yang tidak dikontrol dengan bijaksana dapat berisiko menggelincirkan kita pada financial self-sabotage, yakni kondisi ketika keputusan keuangan yang diambil hari ini berpotensi merugikan diri sendiri di masa depan.

Definisi Financial Self-Sabotage

Dikutip Money 101, financial self-sabotage adalah kondisi ketika perilaku, emosi, keyakinan, atau kebiasaan seseorang justru berdampak negatif pada keputusan keuangannya sendiri.

Pola ini dapat menyebabkan masalah seperti pengeluaran berlebihan, utang, sulit menabung, hingga hilangnya peluang untuk berkembang secara finansial.

Hubungan kita dengan uang sering kali dipengaruhi oleh pengalaman hidup, pola asuh, emosi, dan latar belakang budaya.

Latar belakang itulah yang kemudian tecermin dalam perilaku seperti menunda keputusan keuangan, belanja emosional, takut mengambil risiko, atau menghindari perencanaan dan literasi keuangan.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menghindari perilaku yang merugikan tersebut?

Cara Menghadapi dan Mencegah Financial Self-Sabotage

Untuk mengatasi atau menghindari financial self-sabotage, seperti dilansir Psychology Today, langkah awal yang penting adalah menyadari bahwa pengalaman dan trauma keuangan masa lalu, baik pribadi maupun keluarga, dapat membentuk pola pikir dan perilaku kita terhadap uang saat ini.

Dengan mengenali serta mengakui pengaruh tersebut, kita bisa mulai mengambil kembali kendali atas keputusan keuangan yang akan dilakukan.

Terdapat lima strategi yang dapat dilakukan, antara lain:

1. Sadari pengalaman keuangan di masa lalu

Jangan pernah menyesali pengalaman kesalahan keuangan di masa lalu. Memaafkan, termasuk trauma finansial dalam keluarga, dapat membentuk keyakinan dan perilaku kita terhadap uang.

Dengan menyadari pengaruhnya, kita bisa lebih memahami alasan di balik kebiasaan keuangan yang merugikan dan mulai mengubahnya secara sadar.

2. Melatih welas asih terhadap diri sendiri

Melatih welas asih salah satunya dengan cara memaafkan diri sendiri dan melihat kegagalan sebagai proses belajar, cara ini juga dapat membantu mengurangi rasa malu dan stres yang sering menjadi pemicu sabotase diri finansial.

3. Jauhkan pikiran dari rasa takut, merasa gagal, dan ragu-ragu

Rasa takut gagal, takut tidak cukup, atau cemas berlebihan sering membuat seseorang menunda keputusan atau menghindari peluang finansial.

Mengganti pola pikir berbasis ketakutan dengan keyakinan yang lebih positif dapat membantu mengambil keputusan keuangan dengan lebih tenang dan rasional.

4. Memaafkan

Memaafkan kesalahan keuangan di masa lalu, melepaskan rasa takut dan kecemasan finansial yang berlebihan, serta membangun nilai diri yang tidak bergantung pada kondisi keuangan, bisa mengurangi kekhawatiran kita tentang pemikiran "tidak memiliki cukup".

5. Mencari dukungan

Dukungan dari pihak lain seperti penasihat keuangan, terapis, atau konselor kredit dapat membantu keluar dari pola financial self-sabotage.

Ingat, mencari bantuan bukan tanda kegagalan, melainkan langkah sadar untuk memperbaiki kondisi finansial.

Ubah Pola Pikir Keuanganmu

Kalau kamu pernah merasakan kesulitan keuangan di masa lalu, bahkan mengalami trauma keuangan dalam keluarga, jangan jadikan itu penghambat dalam mencapai cita-cita masa depan keuanganmu.

Dengan memperbaiki pola pikir dan keyakinan tentang uang, maka kamu akan dapat menghentikan perilaku sabotase diri dan membangun kesehatan finansial yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Baca artikel menarik lainnya yang terkait dengan self-love di tautan ini.

Baca juga artikel terkait SELF-LOVE atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih