Menuju konten utama

Mengajarkan Anak untuk Menerima dan Menghargai Tubuhnya

Penting bagi orang tua untuk mengajarkan body respect (menghormati tubuh) ketimbang menuntut anak untuk selalu menyukai penampilannya.

Mengajarkan Anak untuk Menerima dan Menghargai Tubuhnya
Header diajeng anak percaya diri tubuh. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Di era yang menyorot banyak selebritas sebagai sosok langsing dan berwajah tirus, membesarkan anak yang percaya diri dengan fisiknya menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua.

Anak-anak kini jauh lebih mudah menerima pesan tentang standar penampilan ideal sejak usianya yang sangat dini. Orang tua pun memiliki peran kunci untuk membangun ketahanan mental anak dengan mengalihkan fokus dari sekadar penampilan fisik menuju kesehatan dan fungsi tubuh yang sejati.

Farra (bukan nama sebenarnya), anak perempuan usia 8 tahun yang tinggal di Palembang, Sumatera Selatan pernah mogok makan hanya karena merasa bentuk tubuhnya terlalu gemoy dan tidak secantik salah satu selebgram cilik idolanya.

"Jadi Farra waktu itu sempat mengeluh kenapa badannya bisa gemuk dan jadi agak minder karena merasa tidak cantik," ujar ibunda Farra kepada Diajeng belum lama ini.

Meski memiliki prestasi di bidang lain, bagi Farra, pencapaiannya akan terlihat semakin sempurna apabila ditunjang dengan tubuh langsing dan wajah yang tirus sebagaimana selebgram cilik yang sering disaksikannya di layar smartphone.

Sang ibu mengakui, hal tersebut sempat membuat Farra jadi anak yang pemurung. Ibu Farra pun berusaha keras memengaruhi pola pikir anaknya agar

"Kondisi Farra ini berlangsung hampir 3 bulan, dan sebagai ibu pasti sedih. Farra juga sempat sakit. Aku sama ayahnya sampai minta ke keluarga buat datang ke rumah, dari neneknya, tante, om, sepupu-sepupunya supaya meyakinkan Farra [bahwa dirinya berprestasi tanpa tubuhnya harus menjadi langsing]. Karena Farra ini sebenarnya berprestasi di bidang akademik, dan itu merupakan kebanggaan juga," jelasnya.

Kondisi tersebut, menurut ibunya, terjadi setelah Farra naik kelas 2 SD. Ternyata salah satu pemicunya juga karena ada seorang teman yang sering menjuluki Farra gemoy.

"Aku nanya kenapa kok Farra ngomong gemoy itu jelek kenapa? Padahal kamu itu enggak jelek kok, kamu sehat, dan udah beberapa kali juga menang kalau ikut lomba, dari hafalan surat, mewarnai, sama nilainya juga bagus di kelas, itu kebanggaan nak. Terus dia jawab: Naura (temannya) bilang bagusan kurus daripada gemoy," katanya menirukan Farra.

Alih-alih memarahi dan mendesak anak satu-satunya tersebut, ibunya pun mencoba mengembalikan kepercayaan diri Farra dengan cukup intens mendampinginya.

"Yang waktu itu aku sama ayahnya lakukan, ya sering ngobrol dan meyakinkan Farra kalau dia itu luar biasa, dan gemoy itu bukanlah hal yang buruk. Alhamdulilah, sekarang dia sudah lebih mau mensyukuri itu," tukas sang ibu.

Apa yang dialami Farra mungkin juga pernah dialami beberapa atau sebagian anak lainnya. Orang tua pun mempunyai peran krusial dalam hal menanamkan rasa syukur dan menumbuhkan kepercayaan diri anak.

Diajeng merangkum beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membangun kepercayaan diri anak dengan tubuh yang sehat.

Membangun Filter Media dan Menghormati Tubuh

Artikel Motherly berjudul "How to Raise Kids With a Positive Body Image: 7 Expert Tips" menekankan pentingnya mengajarkan body respect (menghormati tubuh) alih-alih menuntut anak untuk selalu menyukai penampilannya.

Menghormati tubuh berarti menyadari bahwa tubuh berhak dirawat dan dihargai dalam kondisi apa pun. Di era selebritas yang kelihatan langsing akibat tren tertentu, orang tua dapat membantu anak membangun "filter" saat berselancar di media sosial, alih-alih sekadar melarang.

Orang tua juga dapat mengajak anak berdiskusi mengenai apa yang mereka lihat di televisi atau smartphone dan mempertanyakan apakah citra tersebut realistis. Lalu, ingatkan pula anak untuk menetralkan makanan; tidak ada makanan "buruk/jahat".

Selain itu, berikan pandangan bahwa olahraga merupakan sarana menjaga kekuatan dan kesehatan, bukan "hukuman" atau alat pembakar kalori.

Menjaga Bicara dan Pola Pikir Seputar Berat Badan

Psikolog klinis Dr. Margaret Rutherford melalui situs resminya menggarisbawahi bahwa anak-anak sangat mudah meniru cara orang tua memandang tubuh mereka sendiri.

Dr. Margaret Rutherford menyarankan agar orang tua sama sekali tidak mendiskusikan masalah berat badan, hitungan kalori, atau ukuran pakaian yang menyempit di depan anak.

Pujilah ketangkasan, bakat, atau keberanian anak ketimbang ukuran fisiknya.

Apabila orang tua memiliki riwayat hubungan yang tidak sehat dengan makanan atau bentuk tubuh (eating-disorder), sangat penting untuk menyadarinya dan mencari bantuan agar pola pikir tersebut tidak diturunkan kepada anak.

Menanamkan Batasan Tubuh dan Menghargai Keberagaman

Melansir Coram Kidscape, orang tua juga sebaiknya membangun budaya body respect sejak dini guna mencegah perundungan karena penampilan.

Ajarkan prinsip batasan tubuh yang jelas, seperti afirmasi "My body my business" (tubuhku adalah urusanku, tubuh orang lain bukan urusanku).

Orang tua dan pendidik perlu memulai untuk menghargai keberagaman bentuk tubuh (body diversity), sebab secara alami tubuh manusia diciptakan berbeda-beda.

Jangan lupa untuk membiasakan diri memberi pujian pada sifat, kebaikan, atau karakter anak yang sama sekali tidak berhubungan dengan penampilan fisik.

Fokus pada Fungsi Tubuh dan Gerak yang Menyenangkan

Laman Kidswell Health menekankan untuk melakukan perubahan cara pandang dari "bagaimana tubuh terlihat" menjadi "apa yang bisa dilakukan oleh tubuh".

Contohnya, orang tua dapat memberikan kalimat penguatan seperti memuji kekuatan kaki anak untuk berlari atau bagaimana tubuhnya tumbuh dengan sehat untuk beraktivitas.

Cara lainnya, bisa juga dengan menyediakan buku cerita atau media yang menampilkan variasi bentuk tubuh yang beragam dan inklusif. Ketika anak mengungkapkan rasa cemas terhadap bentuk tubuhnya, tanggapilah dengan empati dan rasa ingin tahu tanpa terburu-buru menghakimi.

Membimbing anak agar percaya diri dengan tubuh yang sehat membutuhkan konsistensi dan contoh nyata di rumah.

Dengan menyatukan langkah-langkah praktis ini, kita membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang menghargai tubuhnya, tangguh menghadapi tekanan media, dan bangga akan dirinya sendiri di tengah dunia yang terus berubah.

Artikel terkait pola asuh anak juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait POLA ASUH ANAK atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih