Menuju konten utama

Ekspresi Seksual Musisi Perempuan: Kenapa Sering Dipersoalkan?

Ketika sebuah lagu menyinggung isu seksualitas, baik secara eksplisit maupun simbolis, reaksi publik bisa beragam: dari pujian, hingga kritik dan kecaman.

Ekspresi Seksual Musisi Perempuan: Kenapa Sering Dipersoalkan?
Header Diajeng Ekspresi Seksual Musisi. foto/Quita

diajeng.id - Musik kerap menjadi ruang eksplorasi bagi penciptanya untuk mengekspresikan hasrat, identitas, dan kebebasan sejak zaman dulu.

Namun, ketika sebuah lagu menyinggung isu seksualitas, baik secara eksplisit maupun simbolis, reaksi publik dan industri bisa beragam: dari pujian atas keberanian artistik, hingga kritik dan kecaman karena dianggap melampaui batas norma sosial.

Sepanjang sejarah, beberapa lagu bahkan memicu kontroversi besar, menjadi perbincangan publik, dicekal, atau justru semakin populer karena kontroversinya.

Apa saja lagu yang pernah memantik kontroversi dan polemik terkait seksualitas?

1. WAP (2020) dari Cardi B

Lagu WAP karya Cardi B dan Megan Thee Stallion telah menimbulkan banyak kontroversi, baik di industri musik maupun dalam konteks sosial.

Lagu ini secara deskriptif menjelaskan pengalaman seksual yang menyenangkan dan sarat hasrat dari perspektif perempuan.

Laman The Athenaeum menuliskan, liriknya yang berani telah memicu banyak percakapan konstruktif seputar seksualitas perempuan, kesehatan perempuan, dan pemberdayaan perempuan.

Lagu ini juga membuat banyak orang berpikir dan mempertanyakan niat rapper dan penyanyi laki-laki ketika lirik mereka berangkat dari ide yang serupa.

Di satu sisi, kalangan orang tua dan politisi di AS mengecam lagu yang ada di album "Am I the Drama?" ini karena menilai isinya tak pantas untuk remaja.

Meski lagu ini tak secara resmi dilarang, tetapi beberapa stasiun radio AS dan Inggris membatasi penayangannya serta hanya memutar versi "bersih".

Perdebatan utamanya adalah soal standar ganda: lagu vulgar laki-laki sering dibiarkan disebarluaskan, tetapi ketika perempuan yang bercerita tentang tubuhnya sendiri, reaksi publik jauh lebih keras.

2. Like A Virgin (1984) dari Madonna

Lebih dari empat dekade silam, Madonna menyanyikan lagu ini di MTV VMA dengan kostum pengantin yang dihiasi salib menjuntai dan ikat pinggang perak bertuliskan "Boy Toy".

Sembari membawakan lagu, ia menari dengan gerakan provokatif.

Aksi kreatifnya pun langsung memicu kontroversi karena dianggap menyinggung norma agama dan moral.

Lagu Like A Virgin itu sendiri sebenarnya merayakan semangat hidup baru atau "kelahiran baru" seorang perempuan yang telah patah hati sekian lama.

Dilansir NPR, pada tur konser “Blonde Ambition” tahun 1990, Madonna bahkan diancam ditangkap oleh polisi Toronto di Canada apabila ia tidak menyensor adegan panggung yang dianggap menyerupai aksi masturbasi.

BBC dan sejumlah stasiun TV di beberapa negara juga pernah membatasi pemutaran versi pertunjukan maupun video lagu ini. Kontroversi yang muncul terutama berkaitan dengan citra “keperawanan” yang ditampilkan secara provokatif.

Like a Virgin menjadi singel pertama Madonna yang memuncaki tangga lagu selama enam minggu.

3. The Pill (1975) dari Loretta Lynn

Lagu country ini kontroversial karena membahas pil kontrasepsi dari sudut pandang perempuan, sesuatu yang dianggap terlalu berani pada masanya, dekade 1970-an.

Menurut laman American Song Writer, banyak stasiun radio country di Amerika Serikat saat itu melarang memutar lagu The Pill, terutama di wilayah AS bagian selatan dan negara bagian yang penduduknya tergolong konservatif.

Label Lynn bahkan menunda rilisnya beberapa tahun karena takut menuai protes.

Ironisnya, setelah dilarang di banyak tempat, lagu ini justru menjadi hit dan membuka percakapan publik tentang hak reproduksi perempuan.

4. Wrecking Ball (2013) dari Miley Cirus

Kontroversi utama lagu ini datang dari video musik yang menampilkan Miley telanjang bulat, duduk bergantung di atas bola buldoser, dan menampilkan pose sensual.

Banyak orang tua di AS dan Inggris mengecam video ini karena mayoritas penggemar Cyrus masih berusia remaja.

Video tersebut tidak dilarang, tetapi beberapa saluran TV musik membatasi penayangannya pada jam malam.

Kritikus menilai Cyrus sengaja mengejutkan publik dengan cara yang sangat seksual untuk melepaskan citranya sebagai remaja Disney pemeran tokoh Hannah Montana.

Lagu itu sendiri mengungkapkan tentang luka dan rasa putus asa yang timbul dari relasi asmara yang gagal.

Melansir tulisan Tomas Ortola di Fusion Magazine, kontroversi di sekitar lagu-lagu berbahasa Inggris di atas menunjukkan bagaimana budaya masyarakat di belahan Bumi Utara, terutama masyarakat Amerika Serikat, masih memegang ekspektasi yang tidak adil tentang bagaimana perempuan “seharusnya” tampil.

Ada anggapan mengakar bahwa perempuan harus terlihat sopan, bersih, atau lugu.

Ketika mereka mengekspresikan seksualitasnya sendiri, publik begitu cepat mengkritik dan mempermalukan.

Hal ini terasa kontras apabila disandingkan dengan perlakuan terhadap laki-laki. Dalam konteks ini, seniman laki-laki lebih sering diberi ruang untuk bersikap sensual maupun seksual, baik dalam musik maupun kehidupan sehari-hari.

Di industri musik, standar ganda ini tampak jelas: perempuan bisa dikecam hanya karena pakaian atau gerakannya di panggung, sedangkan iklim lebih permisif berlaku pada laki-laki yang memamerkan citra hipermaskulin atau bahkan bernuansa seksual.

Ekspektasi tentang “kemurnian” perempuan tidak hanya membatasi cara mereka mengekspresikan tubuh dan keinginannya, melainkan juga menempatkan beban moral yang tidak adil gender.

Amerika Serikat memang tidak menghadirkan konsekuensi ekstrem seperti di beberapa negara lain yang masyarakatnya cenderung lebih religius, di mana ekspresi seksual bisa berujung pada pengucilan atau konsekuensi hukum.

Meski begitu, pada waktu sama, reaksi yang mendasarinya tetap sama: kontrol atas tubuh perempuan.

Maka dari itu, setiap kontroversi yang muncul dari lagu-lagu bertema seksualitas sesungguhnya bukan soal lirik atau tariannya semata, melainkan cermin dari standar sosial yang masih timpang.

Melalui karya-karya yang berani ini, kalangan musisi terutama perempuan, menegaskan kembali hak dasar mereka untuk mendefinisikan diri, tubuh, dan suara mereka sendiri.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih