Menuju konten utama

Mengarungi Gamangnya Dunia Dewasa bersama Keshya Valerie

Bagi penyanyi dan konten kreator Keshya Valerie, kegamangan cari kerja bisa jadi bahan refleksi yang intim dan personal dalam bentuk karya musik.

Mengarungi Gamangnya Dunia Dewasa bersama Keshya Valerie
Header Diajeng Profil Keshya Valerie. tirto.id/Quita

diajeng.id - “Tak kunjung datang kabar dari tempat kerja, apalah daya…

Ratunya menghindar saat tante bertanya, ‘Kapan mulai kerjanya?’

Siang-malam buka LinkedIn, Jobstreet, Glassdoor, Indeed…”

Petikan kalimat di atas, sekilas, terbaca seperti coretan keluh kesah di buku harian anak-anak muda yang tengah berhadapan dengan fase menakutkan bernama “cari kerja”.

Narasi getirnya terdengar akrab, jika bukan blak-blakan, karena itulah pengalaman yang diam-diam dialami banyak orang tapi jarang diucapkan dengan jujur.

Namun begitu, bagi penyanyi dan konten kreator Keshya Valerie (22), kegamangan itu bisa menjadi bahan refleksi yang intim dan personal.

Dari pengalaman menunggu jawaban, ditanya orang, dan berkali-kali ditolak itulah lahir Adegan Dewasa, proyek lagu terbarunya yang merekam satu episode krusial dalam proses “adulting” alias bertumbuh dewasa.

Keshya mengakui, tone keseluruhan lagunya memang “lumayan nyeleneh”.

Lagu yang diproduseri oleh Kafin Sulthan itu Keshya susun saat dirinya tengah belajar memproses penolakan dari berbagai perusahaan yang dilamarnya. Fase ini acap kali menggerus rasa percaya diri, terutama pada kalangan dewasa muda.

“Tapi aku menertawakan itu semua, aku rasa itu seperti merefleksikan karakter Gen Z: ada hal kurang baik, tapi senyumin aja!” cerita Keshya saat mengobrol dengan Diajeng Tirto pada Oktober silam.

Di tangan Keshya, kegagalan tidak perlu dibalut dalam tragedi berlebihan.

Keshya memilih untuk merawat pengalaman pahit tersebut dengan humor tipis dan jarak emosional yang sehat. Tentu bukan bermaksud menyepelekan, melainkan agar momen itu tetap bisa ditengok lagi tanpa membuat sedih.

Keshya memaknai Adegan Dewasa sebagai prekuel dari Two Pawns, proyek kreatif yang dirilis beberapa bulan sebelumnya bersama Kafin.

Dua lagu ini, bagi Keshya, saling menyapa dalam satu semesta yang sama, yaitu dunia kerja sebagai arena relasi, tawar-menawar, dan pencarian posisi diri.

“Sebenarnya, dua lagu itu ada kaitannya. Two Pawns sebagai metafora tentang menjalin relasi di dunia kerja, sementara Adegan Dewasa tentang mencari kerja,” tutur Keshya lagi, yang kini tertarik memperluas lingkup ranah kreatifnya untuk menelusuri fase-fase menjadi dewasa, termasuk relasi asmara, persahabatan, dan segala ketidakpastian yang menyertainya.

Perjalanan Keshya di dunia hiburan sudah dimulai sejak usia dini lewat ajang pencarian bakat La Academia Junior dan The Voice Kids.

Sejak itu, ia konsisten merawat kreativitasnya melalui YouTube dan Instagram dengan membagikan keseharian, eksplorasi diri, serta kegemarannya membawakan lagu-lagu kover.

Tahun lalu, Keshya memutuskan kembali menekuni musik di Indonesia setelah meraih gelar sarjana psikologi dari Leiden University, Belanda.

Alih-alih sekadar pencapaian akademik, pendidikan juga berperan penting membentuk cara Keshya memahami dan mengolah pengalaman batinnya.

Keshya menuturkan, ilmu psikologi berkontribusi pada proses kreatif selama ini, terutama lewat praktik journaling dan mindfulness yang ia jalani secara konsisten.

“Ketika ada inspirasi lagu yang tiba-tiba muncul, aku terapkan grounding technique: duduk dengan nyaman, dan menggunakan lima indra kita untuk menamakan apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita cium, apa yang kita rasakan, kecap, sentuh," tutur Keshya.

"Dan dari situ biasanya muncul ide-ide lirik yang lumayan deskriptif, ya. Karena itu dari pengalaman sendiri, dan lebih conscious. Otakku bermain dengan segala hal yang aku rasakan,” lanjutnya.

Pendekatan yang personal itu sejalan dengan kepribadian Keshya yang crafty.

Selain journaling, Keshya gemar membaca buku, merajut, hingga membuat prakarya dari clay dan gantungan kunci.

Bahkan, lyric visualiser untuk Adegan Dewasa ia kerjakan sendiri, sebuah bentuk penegasan betapa personal proyek ini baginya.

Dorongan kreatif itu juga terpancar dari hasrat Keshya untuk mengeksplorasi sudut pandang yang tidak lazim dalam penulisan lagu.

“Lebih aneh, lebih konseptual, dan deskriptif,” begitu Keshya menyebut arah yang ingin dituju.

Keshya pernah mencoba menulis lagu dari perspektif seekor kucing atau bahkan tembok, entitas yang hanya bisa mendengar, menyimpan, dan memantulkan suara manusia.

Eksperimen-eksperimen ini terasa seperti upaya memahami dunia dari jarak yang berbeda, tanpa harus selalu menempatkan diri sebagai pusat cerita.

Di tengah dunia yang menuntut kepastian cepat dan definisi sukses yang sempit, kerja-kerja kreatif Keshya terasa seperti ajakan untuk memberi ruang pada proses: menunggu, gagal, menertawakan diri sendiri, lalu pelan-pelan mulai tumbuh dan berkembang.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Sekar Kinasih

diajeng.id - Binar
Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Dhita Koesno