diajeng.id - Saat baru mulai bekerja, wajar kalau kamu tiba-tiba merasa gelisah tanpa alasan yang jelas.
Duduk di ruang meeting pertama kali, lalu mendengar rekan kerja berbicara dengan percaya diri muncul pikiran, “Apa aku pantas ada di sini?” atau, “Jangan-jangan, ini semua cuma kebetulan."
Perasaan ragu seperti ini sering datang diam-diam, bahkan ketika kamu sudah berusaha dan bekerja dengan sungguh-sungguh.
Inilah yang kerap disebut sebagai impostor syndrome. Alih-alih tanda kurang mampu, hal ini adalah respons yang umum muncul di fase awal karier, terutama pada perempuan yang terbiasa memasang standar tinggi pada diri sendiri.
Apa saja langkah praktis untuk mengurangi impostor syndrome dan bagaimana membangun rasa percaya diri secara bertahap?
Tips Mengatasi Impostor Syndrome bagi Perempuan di Awal Karier
Menghadapi impostor syndrome di awal karier bukan tentang memaksa diri agar langsung percaya diri.
Yang dibutuhkan sering kali adalah memahami apa yang sedang kamu rasakan dan memberi ruang untuk bertumbuh tanpa terus menyalahkan diri sendiri.
Di fase ini, kamu masih belajar menyesuaikan diri dengan ritme kerja, ekspektasi atasan, dan dinamika lingkungan profesional.
Beberapa langkah sederhana di bawah ini bisa kamu terapkan secara perlahan untuk membantu meredakan rasa ragu, tanpa harus mengubah dirimu secara drastis.
1. Kenali dan Namai Perasaanmu
Rasa diterima di lingkungan kerja sangat berpengaruh pada kepercayaan diri.
Saat kamu menjadi satu-satunya atau salah satu dari sedikit orang yang terlihat berbeda di ruangan, entah karena usia, latar belakang, atau posisi wajar jika muncul perasaan tidak sepenuhnya cocok.
Apalagi jika kamu berada di posisi yang jarang diisi perempuan, biasanya ada tekanan tambahan untuk “mewakili” banyak orang sekaligus.
Dalam kondisi seperti ini, rasa ragu bukan tanda kamu tidak mampu, melainkan respons yang manusiawi terhadap lingkungan yang masih sarat ekspektasi dan stereotip.
2. Tuliskan Semua Bukti Prestasi
Pencapaianmu bukan kebetulan. Jika kamu sampai di posisi ini, itu karena usaha dan proses yang kamu jalani. Nilai dirimu nyata, dan kamu pantas berada di tempatmu sekarang.
Meski sering terasa seolah-olah orang lain lebih yakin dan lebih tahu, kenyataannya hampir semua orang masih belajar sambil jalan. Kamu tidak sendirian, dan kamu tidak kurang dari siapa pun.
Oleh karena itu, kamu bisa catat pencapaian, pujian, dan hasil kerja yang kamu raih. Ini membantu melawan narasi negatif dalam kepala.
3. Alihkan Fokus dari Perfeksionisme ke Pembelajaran
Setiap orang pasti pernah gagal. Tidak ada perjalanan karier yang benar-benar mulus.
Namun, banyak perempuan takut pada kegagalan karena merasa satu kesalahan saja bisa “membuktikan” bahwa dirinya tidak cukup mampu.
Padahal, kegagalan bukan tanda kamu tidak berharga, melainkan bagian dari proses belajar yang juga dialami orang-orang sukses.
Jika kamu bisa bersikap lembut pada teman yang gagal, kamu juga pantas memberi pengertian yang sama pada dirimu sendiri.
4. Ubah Cara Kamu Bicara ke Diri Sendiri
Sikap perfeksionis sering muncul karena kamu peduli pada kualitas kerja, dan itu bukan hal yang jelek.
Yang penting adalah tahu kapan perlu memberi usaha ekstra, dan kapan cukup berhenti tanpa terus menyalahkan diri sendiri saat ada kesalahan.
Kegagalan bisa dipelajari, lalu ditinggalkan tanpa membawa rasa bersalah berlarut-larut.
Impostor syndrome kerap membuatmu merasa keberhasilanmu hanya kebetulan.
Padahal, pencapaian itu nyata dan sah tanpa perlu pembenaran. Kesuksesanmu adalah milikmu sendiri, dan kamu berhak menempuh jalur kariermu dengan caramu sendiri.
5. Bangun Networking atau Jaringan Dukungan
Berbagi cerita dengan mentor atau kolega bisa membantu kamu merasa tidak sendirian.
Hanya dengan mendengar bahwa orang lain juga pernah merasakan hal yang sama, beban di kepala bisa jadi terasa lebih ringan.
Dari percakapan-percakapan sederhana, kamu juga bisa mendapatkan sudut pandang baru, masukan yang relevan, atau sekadar penguatan bahwa apa yang kamu alami itu wajar dan tidak perlu kamu hadapi sendirian.
6. Minta Feedback yang Spesifik
Kekuatan sering kali datang dari rasa terhubung dengan orang lain.
Berbagi cerita dengan sesama perempuan yang mengalami hal serupa bisa terasa sangat melegakan, karena kamu sadar bahwa impostor syndrome bukan pengalaman pribadi semata.
Rasa ragu itu bukan tanda kegagalan, melainkan pikiran yang datang dan pergi. Saat kamu memahaminya, kepercayaan diri bisa tumbuh lebih kokoh tanpa terus dibayangi rasa tidak cukup.
7. Pisahkan Identitas Diri dari Pekerjaan
Memisahkan identitas diri dari pekerjaan adalah langkah penting agar kamu tidak terus menilai diri hanya dari hasil kerja.
Jabatan kerja, target, atau review performa memang bagian dari kehidupan profesional, tapi itu bukan satu-satunya penentu nilai dirimu.
Satu proyek yang belum berjalan mulus tidak menghapus kemampuan, usaha, dan kualitas yang kamu miliki sebagai pribadi.
Saat kamu mulai melihat diri lebih utuh, tekanan untuk selalu “sempurna” di kantor pun bisa terasa lebih ringan.
8. Ciptakan Ritual Kecil untuk Merayakan Keberhasilan
Cobalah untuk berhenti dalam mencari pengakuan dari luar dengan mulai memberi apresiasi pada diri sendiri.
Kamu bisa melakukan self-reward untuk diri sendiri, seperti makan enak, membeli barang yang kamu inginkan atau selfcare day.
Menghadapi impostor syndrome bukan tentang menghilangkan rasa ragu sepenuhnya. Dalam situasi ini, kita belajar mengenalinya dan meresponsnya dengan lebih sehat.
Perasaan tidak yakin bisa saja muncul, tapi kamu tetap bisa melangkah tanpa harus terjebak di dalamnya.
Langkah-langkah sederhana seperti mencatat pencapaian, berbagi cerita dengan orang tepercaya, dan memberi apresiasi pada diri sendiri atas keberhasilan kecil dapat membantu membangun kepercayaan diri secara perlahan.
Ingat, rasa tidak layak yang kadang muncul bukan cerminan kemampuanmu. Perasaan itu adalah bagian dari proses bertumbuh dan mengenal diri di dunia kerja.
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih