Menuju konten utama

Mengapa Rasanya Begitu Sulit Mengambil Keputusan?

Di balik keragu-raguan mengambil keputusan, tersembunyi persoalan mendalam seperti takut salah, terlalu banyak pilihan, atau kebiasaan menunda.

Mengapa Rasanya Begitu Sulit Mengambil Keputusan?
Header diajeng Sulit Ambil Keputusan. tirto.id/Quita

diajeng.id - Apa kamu pernah merasa bingung dalam menentukan pilihan, bahkan termasuk hal-hal kecil?

Seperti saat membeli sandal atau sepatu, memilih jenis lagu yang didengar, film yang akan ditonton, atau sekedar menentukan menu makan malam?

Tanpa disadari, ada banyak waktu yang habis hanya karena menimbang-nimbang, sementara keputusan tak juga diambil.

Inilah yang disebut indecisiveness atau keragu-raguan.

Keraguan seperti ini memang terlihat sepele, tapi jika terlalu sering terjadi, bisa membuat yang mengalaminya kelelahan secara mental dan kehilangan kepercayaan diri.

Padahal, kemampuan mengambil keputusan adalah keterampilan penting yang memengaruhi hampir semua aspek hidup, dari karier, hubungan, sampai kesejahteraan pribadi.

Menjadi indecisiveness bukan berarti lemah, tapi sering kali tanda bahwa ada hal-hal mendalam di baliknya: takut salah, terlalu banyak pilihan, atau kebiasaan menunda.

Melansir artikel Psychology Today, ketika kita tidak punya pilihan, yang terjadi adalah kebuntuan.

Menariknya, apabila pilihan yang tersedia justru terlalu banyak, kita juga bisa merasa terjebak. Inilah yang disebut paradoks pilihan.

Sebagian orang diliputi kegelisahan untuk memastikan keputusan yang diambil benar-benar tepat, sedangkan yang lain memilih bertindak cepat tanpa banyak pikir panjang.

Kalau kamu termasuk yang sering galau saat dihadapkan pada keputusan penting, kamu tidak sendirian.

Penyebab Orang Sulit Mengambil Keputusan

Keraguan bukan hanya soal logika, tapi juga emosi. Ada ketakutan yang bersembunyi di baliknya, takut menyesal, takut mengecewakan orang lain, atau takut menghadapi konsekuensi dari pilihan sendiri.

Padahal, menunda keputusan demi “bermain aman” juga punya harga: hilangnya kesempatan, energi yang terkuras karena terlalu banyak berpikir, atau bertahan dalam situasi yang tak lagi sehat.

Dua hal yang sering memperparah keadaan adalah perfeksionisme dan kelumpuhan analisis: terlalu ingin membuat keputusan sempurna, atau justru tenggelam dalam pencarian informasi tanpa ujung demi mencari kepastian yang mustahil.

Keragu-raguan ternyata juga bisa berakar dari berbagai hal.

Sebuah studi kecil yang dilakukan Joseph Ferrari, profesor psikologi DePaul University (1994) seperti dikutip Wonder Mind menemukan bahwa individu yang tumbuh dengan figur ayah yang otoriter cenderung lebih ragu dalam mengambil keputusan.

Akibatnya, anak-anak yang sering dibatasi pilihannya oleh ayah otoriter memahami bahwa membuat keputusan sendiri berisiko menimbulkan masalah, sehingga menunda keputusan terasa lebih aman.

Meski begitu, pola asuh bukanlah satu-satunya penyebab.

Penelitian dari Ferrari juga mengaitkan sifat mudah ragu dengan tingkat neurotisisme yang tinggi, ketika seseorang lebih rentan terhadap kecemasan, keraguan diri, dan emosi negatif. Dalam kondisi ini, menghindari keputusan sering menjadi cara untuk mengurangi tekanan atau rasa takut disalahkan.

Tak heran, banyak orang lebih memilih membiarkan orang lain memutuskan demi menghindari rasa bersalah jika hasilnya tidak sesuai harapan.

Lalu, bagaimana caranya agar tidak terjebak dalam keraguan?

Trik Mengatasi Indecisiveness

Masih melansir Psychology Today, berikut beberapa cara sederhana untuk melatih keberanian mengambil keputusan:

1. Tentukan Batas Waktu

Jangan biarkan keputusan menggantung tanpa ujung. Buat tenggat yang jelas, misalnya “Senin siang ini aku harus sudah ambil keputusan.”

Terkait hal-hal kecil, coba latihan cepat dengan batas waktu lima menit agar terbiasa berpikir tegas.

2. Batasi Pilihan

Terlalu banyak opsi bisa membingungkan. Sempitkan pilihan menjadi dua atau tiga saja agar pikiran lebih fokus dan tidak mudah lelah.

3. Latih Kebijaksanaan

Tulis pro dan kontra dari tiap pilihan. Bayangkan nasihat yang akan kamu berikan pada teman di posisi serupa. Selain itu, kamu coba bisa mencoba memikirkann pada konteks masa depan, keputusan mana yang akan membuatmu lebih damai saat mengenangnya kelak?

4. Selaraskan dengan Nilai-Nilai Pribadi

Ingat hal-hal yang paling kamu hargai seperti kejujuran, kebebasan, atau kebaikan. Keputusan yang sejalan dengan nilai-nilai itu biasanya terasa lebih ringan dijalani.

5. Latih Ketegasan Lewat Keputusan Kecil

Mulailah dari hal sederhana, memilih menu, rute jalan, atau pakaian hari ini. Setiap keputusan kecil akan memperkuat kepercayaan diri untuk menghadapi keputusan besar di kemudian hari.

Memang tidak ada yang bisa menjamin hasil dari setiap keputusan, tetapi di sinilah pelajaran yang bisa dambil. Setiap kali kamu berani memilih dan menerima konsekuensinya, kamu sedang membangun ketahanan dan kepercayaan diri.

Sedikit demi sedikit, kamu akan semakin bijak dan berani merancang hidupmu sendiri satu keputusan pada satu waktu.

Simak juga artikel menarik lainnya di tautan ini.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih