diajeng.id - Memasuki dunia daycare merupakan tonggak sejarah besar bagi anak dan orang tua. Wajar saja jika anak merasa cemas atau gelisah karena mereka harus menyesuaikan diri dengan rutinitas, orang-orang baru, dan lingkungan yang juga baru.
Artikel di Cefa berjudul "A Parent’s Guide to Daycare Separation Anxiety" menyebutkan, kecemasan perpisahan atau separation anxiety adalah bagian normal dari perkembangan anak yang menunjukkan bahwa mereka memiliki keterikatan yang kuat dengan orang tuanya.
Namun, dalam beberapa kasus, kecemasan anak saat berpisah tidak selalu berdiri sendiri sebagai bagian dari proses tumbuh kembang.
Ada kalanya, perasaan tidak nyaman itu berkaitan dengan pengalaman yang kurang menyenangkan di lingkungan baru mereka, seperti kasus yang terjadi di daycare Little Aresha, Yogyakarta belum lama ini, di mana anak-anak justru mengalami kekerasan dan penelantaran oleh pengasuhnya.
Sinyal yang Sempat Terabaikan: Saat Kekhawatiran Orang Tua Muncul
Noorman, salah satu orang tua yang menitipkan kedua anaknya di daycare Little Aresha saat berbincang dengan Diajeng mengaku sempat tidak menyadari adanya masalah serius. Alasannya, sedari awal, dia tidak menemukan tanda-tanda yang mencurigakan.
"Kami tidak menyangka sama sekali karena awalnya tidak ada kecurigaan yang signifikan, meski anak pertama saya sering mengalami luka di dahi, punggung, hingga tangan yang selalu diklaim pengasuh sebagai luka dari rumah," ujar Noorman.
Meski begitu, Noorman mulai memerhatikan beberapa hal yang terasa janggal, seperti luka yang berulang pada anak, kondisi kesehatan yang menurun, hingga perubahan perilaku yang sulit dijelaskan.
"Anak yang kecil ini bolak-balik ke dokter, divonis pneumonia, dan sering ada luka di bibir serta punggung. Setiap kami tanya ke pengasuh, jawabannya selalu sama, bahwa luka itu sudah ada dari rumah, padahal sebelum berangkat saya sendiri yang memandikan dan memastikan kondisinya baik-baik saja," terang Noorman.
Selain itu, Noorman juga menyebut bahwa anak sulungnya yang kini berusia 6 tahun jadi sering mengompol dan buang air besar di celana karena sering diancam oleh pengasuh.
Pengalaman Noorman menjadi pengingat bahwa sinyal ketidaknyamanan pada anak, sekecil apa pun, patut diperhatikan dengan saksama.
Dalam banyak situasi, anak belum mampu mengungkapkan apa yang mereka rasakan secara langsung, sehingga orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan yang muncul.
Lalu, apa saja tanda-tanda yang bisa menunjukkan bahwa anak sedang mengalami daycare separation anxiety atau tekanan saat berada di daycare?
Tanda-Tanda Anak Mengalami Kecemasan Perpisahan
Anak-anak sering kali tidak bisa mengungkapkan kecemasan mereka dengan kata-kata, sehingga mereka menunjukkannya melalui perilaku.
Beberapa tanda yang umum meliputi seperti dilansir blog Happiest Baby di antaranya:
- Perubahan perilaku saat diantar: Menjadi sangat lekat (clingy), menangis histeris, atau menolak masuk ke dalam ruangan.
- Gangguan tidur: Sulit tidur atau terbangun lebih awal dari biasanya.
- Perubahan emosi: Menjadi lebih pendiam, lebih sering tantrum, atau mengalami suasana hati yang berubah-ubah (mood swings).
- Keluhan fisik: Mengeluh merasa tidak enak badan saat akan berpisah.
- Kelelahan setelah daycare: Menjadi lebih rewel atau membutuhkan perhatian ekstra setelah pulang ke rumah karena mereka telah menahan emosi seharian.
- Regresi sementara: Menunjukkan perilaku agresif atau tantrum yang sebelumnya sudah jarang terjadi.
Cara yang Bisa Dilakukan Orang Tua saat Daycare Separation Anxiety
Masih menukil Cefa dan Happiest Baby, berikut adalah langkah-langkah praktis untuk membantu anak melewati fase transisi ini:
1. Tetapkan Rutinitas yang Konsisten
Rutinitas pagi yang dapat diprediksi membantu anak merasa lebih aman dan terkendali. Pastikan juga mereka mendapatkan tidur yang cukup dan sarapan yang sehat sebelum berangkat.
2. Lakukan Perpisahan yang Singkat dan Tenang
Saat mengantar, jaga agar proses berpamitan tetap singkat, tenang, dan konsisten. Anak-anak mengambil isyarat emosional dari orang tuanya. Apabila orang tuatetap tenang dan percaya diri, mereka akan merasa lebih tenang.
3. Buat Ritual Perpisahan yang Unik
Gunakan ritual khusus seperti pelukan, lambaian tangan, atau jabat tangan rahasia sebelum pergi.
4. Gunakan Bahasa yang Mudah Dimengerti tentang Kepulangan
Beritahu anak kapan orang tua akan menjemput mereka menggunakan patokan aktivitas, seperti "setelah tidur siang" atau "sebelum camilan sore," alih-alih jam pasti.
5. Persiapan Bertahap
Jika memungkinkan, kunjungi daycare bersama anak sebelum jadwal penuh dimulai. Berlatihlah berpisah dengan meninggalkan anak bersama anggota keluarga atau pengasuh lain untuk waktu singkat sebagai latihan.
6. Validasi Perasaan Anak
Dengarkan kecemasan mereka dengan tenang dan akui perasaan mereka agar anak merasa didengar dan aman.
7. Berikan "Benda Keramat" (Lovey)
Kirimkan anak ke daycare dengan benda yang mengingatkan mereka pada rumah, seperti boneka kesayangan atau foto keluarga, untuk memberikan rasa nyaman.
8. Berikan Waktu Tenang Setelah Pulang
Berikan waktu bagi anak untuk beristirahat dan bersantai setelah pulang dari daycare sebelum menanyakan aktivitas mereka hari itu.Secara umum, fase kecemasan ini biasanya akan memudar dalam beberapa minggu seiring anak mulai membangun kepercayaan dengan guru dan teman-temannya.
Namun, jika kecemasan sangat intens, berlangsung lebih dari 4 minggu, atau mengganggu kehidupan sehari-hari secara drastis, disarankan untuk lebih peka dengan kodisi anak, serta konsultasikan juga dengan dokter anak atau profesional kesehatan mental.
Simak juga artikel lainnya terkait anak dan orang tua di sini.
Editor: Sekar Kinasih