diajeng.id - Bekerja, terutama bagi ibu dan perempuan, bisa jadi pilihan yang memerdekakan dalam hal aktualisasi diri. Sementara pada sebagian lainnya, bekerja mungkin menjadi tuntutan atau kebutuhan yang tak terelakkan untuk mendukung ekonomi keluarga.
Di balik itu semua, ada dilema terkait pembagian waktu, energi, dan perhatian antara tuntutan karier orang tua dan kebutuhan anak yang terus berkembang.
Situasi ini semakin kompleks ketika orang tua harus memercayakan pengasuhan anak kepada pihak lain, seperti daycare.
Di balik solusi praktis yang ditawarkan daycare, keberadaan fasilitas ini juga mengasah “alarm waspada” dalam pikiran orang tua tentang keamanan, kualitas pengasuhan, dan dampaknya bagi tumbuh kembang anak.
Diajeng telah melakukan wawancara singkat dengan salah satu orang tua dan pengasuh daycare terkait pengalaman, kekhawatiran, serta harapan yang menyertai pilihan menggunakan layanan daycare.
Pengalaman pertama menitipkan anak di daycare menjadi momen yang penuh dilema bagi Tya (39 tahun). Tya mengakui bahwa “alarm” atau kegelisahan sebagai seorang ibu sangat wajar muncul, terutama di awal-awal masa adaptasi anak di daycare.
Tya mengatakan, kebutuhan rumah tangga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
Menurutnya, kecemasan seorang ibu sering kali berupa pikiran-pikiran yang belum tentu terbukti kebenarannya, seperti kekhawatiran bahwa kondisi anak di daycare tidak sesuai dengan laporan pengasuh.
Namun, Tya berusaha membedakan hal tersebut dengan insting bahaya yang sifatnya lebih nyata dan berdampak langsung.
"Kalau insting bahaya itu muncul, misalnya pas anak menunjukkan reaksi yang enggak biasa, dia ketakutan berlebihan atau menolak saat hendak masuk daycare. Pernah juga waktu itu anak saya menangis dan dia takut banget pas di depan pintu daycare, ternyata itu dia pernah digigit salah satu anak di dalam, jadi enggak mau masuk karena takut digigit lagi," kata Tya.
Dari pengalaman-pengalaman itu, Tya percaya bahwa seorang ibu memiliki kepekaan alami untuk merasakan ketika ada sesuatu yang tidak beres pada anaknya.
Dalam upaya membangun kepercayaan terhadap pengasuh, Tya menekankan pentingnya observasi langsung sebelum memilih daycare.
Tya memerhatikan berbagai aspek, mulai dari kondisi lingkungan, kebersihan, kegiatan anak, hingga interaksi antara pengasuh dan anak.
"Rasa sreg (kecocokan) itu menjadi faktor utama, baik dari sisi anak maupun perasaan saya sebagai orang tua. Saya harus pantau bagaimana bonding antara pengasuh ke anak, terus komunikasi juga penting banget, seperti ada akses informasi rutin melalui foto atau video kegiatan anak selama di daycare," jelasnya.
Menariknya, Tya mengaku tidak terlalu bergantung pada ulasan daring, karena menurutnya hal tersebut belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya.
"Ulasan di Google itu bisa dibuat, jadi saya enggak begitu percaya sebelum melihat dan menilai langsung ke daycarenya. Sebagai orang tua pasti bisa merasakan, kalau saya yakin pengasuh benar-benar tulus dalam merawat anak, baru saya bisa percayakan anak di daycare tanpa rasa khawatir," pungkas Tya.
Sebagai pengelola sekaligus pendamping anak di Hati Embun, salah satu daycare yang ada di Sleman, Yogyakarta Tini (43 tahun) memahami betul bahwa merawat dan mengasuh anak bukanlah pekerjaan yang sederhana.
Selama menekuni pekerjaannya di tata kelola daycare, Tini menghadapi beragam karakter, tidak hanya dari anak-anak tetapi juga dari orang tua mereka.
Dalam kondisi tertentu, kelelahan dan kejenuhan menjadi hal yang tak terhindarkan. Namun, di daycare tempatnya bekerja, sudah ada sistem atau mekanisme yang mendukung pendamping agar tetap memelihara stabilitas emosi dengan efektif.
"Kelelahan menghadapi anak-anak yang mana kala tidak selalu kondusif setiap harinya pasti sering dialami oleh pendamping anak. Maka jika pendamping Hati Embun ada di kondisi itu, yang dilakukan pertama adalah: Hati Embun memiliki SOP di mana dalam keadaan bagaimana pun, harus bisa tetap on point, yakni dengan cara mengenali jenis atau sinyal yang diberikan anak. Misal kenapa anak rewel atau menangis, apakah karena sakit, lapar, haus, mengantuk, atau hanya ingin bermanja-manja," jelas Tini.
Selain itu, lanjutnya, kondisi fisik pendamping juga menjadi perhatian penting. Pendamping diharapkan tetap dalam keadaan fit agar dapat memberikan pengasuhan yang optimal.
"Kemudian saat selesai jam pendampingan, maka waktu itu digunakan untuk me-refresh semuanya, sehingga besok pagi ketemu lagi dengan anak-anak dalam kondisi good mood lagi," ucap Tini.
Terkait komunikasi dengan orang tua, Tini menekankan pentingnya transparansi. Setiap perkembangan anak, baik yang menyenangkan maupun tidak, disampaikan secara jujur melalui laporan harian maupun komunikasi langsung saat penjemputan.
"Kenapa orang tua wajib mengetahui? Karena pendampingan anak tidak bisa dilakukan dan akan berjalan dengan baik jika hanya daycare yang berperan untuk tumbuh kembang optimal anak," lanjutnya.
Meski begitu, cara penyampaian juga menjadi perhatian tersendiri. Tini menjelaskan bahwa pemilihan kata yang lebih santai dan tidak memicu kepanikan menjadi strategi komunikasi yang digunakan, tanpa mengurangi esensi informasi yang disampaikan.
"Adalah tantangan sendiri bagi Hati Embun dengan pemilihan konsep no gadget dalam pendampingan, dan alhamdulillah sudah berjalan hampir 2 tahun, semoga bisa tetap konsisten dijalankan sebagai bagian dari komitmen terhadap tumbuh kembang anak," tutup Tini.
Dari penuturan Tya dan Tini, dapat dipahami bagaimana kecemasan, insting, kepercayaan, hingga komunikasi menjadi faktor-faktor penting yang saling berkelindan dalam proses pengasuhan setiap orang tua, terutama ketika melibatkan pihak lain seperti daycare.
Tentu saja, tidak ada pilihan yang sepenuhnya bebas dari risiko. Namun, dengan kepekaan sebagai orang tua, keterbukaan dari pengasuh, serta sistem pendukung yang sehat, setiap keluarga dapat menemukan ritme dan keputusan terbaik bagi tumbuh kembang anak mereka.
Simak juga artikel seputar tips mengasuh anak di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih