diajeng.id - Disfagia merupakan gangguan menelan yang dapat terjadi pada anak dan bukan merupakan penyakit yang berdiri sendiri.
Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, Muhammad Tsani Arsyad menjelaskan bahwa disfagia biasanya muncul akibat kondisi atau penyakit lain yang mendasarinya.
Pada anak, disfagia dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, adanya gangguan anatomi.
"Apakah ada kelainan bawaan di lidah, bibir, langit-langit mulut, atau masalah di saluran pencernaan atas. Ketika ada gangguan, itu yang juga bisa menyebabkan kondisi disfagia," ujar dr. Tsani saat sesi Live IG RSA UGM Mengenal Disfagia pada Anak, Selasa (12/5/2026).
Kedua, gangguan sistem saraf dan otot yang memengaruhi proses menelan. Ketiga, faktor psikologis yang dapat memengaruhi perilaku makan anak.
Gejala disfagia pada anak, jelas dr. Tsani, sering kali tidak disadari orang tua. Anak bisa mengalami kesulitan makan, sering memuntahkan makanan, menolak makan, atau membutuhkan waktu makan yang terlalu lama.
"Pada beberapa kasus, gejala yang lebih terlihat justru berupa berat badan yang tidak naik, pertumbuhan terhambat, hingga gagal tumbuh," imbuhnya.
Menurut dr. Tsani, proses makan normal pada anak umumnya berlangsung sekitar 30 menit.
Apabila anak membutuhkan waktu lebih lama atau tampak kesulitan saat makan, kondisi tersebut perlu diperhatikan lebih lanjut. Pada bayi baru lahir, tanda disfagia juga bisa terlihat dari air liur yang terus keluar atau kesulitan menerima ASI.
Penyebab disfagia dapat berbeda-beda, maka pemeriksaan medis sangat penting dilakukan. Tenaga kesehatan perlu menilai bagaimana proses menelan anak.
"Nah, ini harus diperiksa, jadi kita tidak bisa hanya dengar cerita. Anak disfagia harus dilakukan pemeriksaan, harus dilihat bagaimana proses menelannya, bagaimana otot-otot anatominya bekerja," sebut dr. Tsani.
Biasanya, lanjut dr. Tsani ada semacam tes untuk melihat bagaimana proses anak saat makan.
"Kalau saat makan belum betul, harus dilihat di mana letak kesalahannya. Apakah gangguannya sering muntah? Kalau iya, mungkin saluran pencernaan atas terjadi kebuntuan. Tapi kalau gejala itu tidak terjadi, mungkin saja ada komplikasinya. Misalnya, anak nutrisinya kurang atau gagal tumbuh, berat badannya tidak naik, itu bisa jadi gejala disfagia," tuturnya.
Apabila disfagia tidak terlalu nampak atau terlihat, biasanya yang paling jelas adalah gejala gagal tumbuh.
"Ini gejala-gejala penolakan makanan, misalnya setiap makan dilepeh atau tidak mau makan sama sekali, dan kalau ada gejala penyakit lain yang mendasarinya, bisa jadi itu disfagia juga," terang dr. Tsani.
Selain itu, orang tua juga dianjurkan rutin memantau pertumbuhan anak melalui buku KIA, terutama berat badan dan tinggi badan. Pemantauan ini penting untuk mendeteksi lebih dini apabila anak mengalami gangguan nutrisi akibat disfagia.
"Oleh karena itu, pemberian nutrisi itu harus adekuat, untuk menunjang terjadinya pertumbuhan anak yang optimal," papar dr. Tsani.
Simak pula artikel lainnya seputar kesehatan anak di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih