Menuju konten utama
Momen Lebaran

Menghargai Lelah & Sibuknya Perempuan dalam Persiapan Lebaran

Lebaran tak lepas dari peran ibu dan perempuan di rumah. Cerita-cerita berikut mengajak kita melihat, memahami, dan menghargai kerja keras mereka.

Menghargai Lelah & Sibuknya Perempuan dalam Persiapan Lebaran
Header Diajeng Menghargai Kerja Ibu dan Perempuan pada Persiapan Lebaran. tirto.id/Quita

diajeng.id - Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh warganet yang membagikan cerita tentang kesibukan ibu-ibu mereka menjelang Lebaran.

Ibu-ibu diceritakan sudah sibuk membereskan rumah, dari halaman belakang sampai gudang, sering kali dengan alasan sederhana, “Lebaran sebentar lagi, rumah harus bersih semua.”

Padahal, tentu saja, tidak semua sudut rumah itu benar-benar akan menjadi tujuan para tamu.

Sekilas, narasi tentang ibu yang sibuk ini kerap dibagikan dengan nada ringan dan jenaka, sehingga terasa lucu dan mengundang senyum.

Sebut salah satunya video dari konten kreator @alwifachry.

Karakter ibu yang Alwi impersonisasi terlihat jengkel ketika anak-anak dan anggota keluarga di rumah tidak tanggap dan cekatan dalam membantu urusan rumah atau setidaknya mempersiapkan diri pada pagi Lebaran.

Di balik kesan menghibur yang lahir dari konten-konten lucu dan kisah-kisah spontan tentang ibu kita di internet, ada peran krusial yang jarang disadari.

Perempuan, baik sebagai ibu, tante, kakak, adik, maupun Pekerja Rumah Tangga (PRT), acap kali menjadi tulang punggung dalam persiapan acara kumpul keluarga saat Lebaran.

Mereka cenderung lebih banyak mengambil peran untuk membersihkan rumah, menyiapkan hidangan, berbelanja kebutuhan, dan memastikan semuanya berjalan dengan baik agar suasana hari raya terasa hangat bagi semua orang.

Kesibukan itu mungkin terlihat biasa, bahkan kerap dianggap sebagai bagian dari rutinitas tahunan.

Namun, jika diperhatikan lebih dekat, ada kerja, tenaga, dan perhatian luar biasa di baliknya.

Cerita Sibuknya Para Perempuan saat Lebaran

Di Balik Dapur dan Daftar Belanja

Haetami (23) menceritakan bahwa di rumahnya, sosok ibu dan kakak perempuan tetap menjadi yang paling sibuk saat Lebaran tiba.

Sejak ayahnya wafat, ia dan ibunya tinggal berdua. Namun, menjelang hari raya, kedua kakak perempuannya biasanya datang dan ikut membantu persiapan.

"Kalau menjelang Lebaran, kedua kakak perempuanku nginep dan bantu persiapan Lebaran. Ya, mereka paling sibuk," katanya.

Menurutnya, kesibukan terbesar ada di dapur. Tidak ada persiapan khusus untuk kebersihan rumah, tetapi urusan memasak menjadi fokus utama.

Sebagai satu-satunya anak laki-laki di keluarga, Haetami mengambil peran untuk membantu berbelanja bahan makanan ke pasar, terutama karena kondisi ibunya yang sudah terbatas secara fisik.

"Terkadang aku bingung juga sih sama apa yang aku beli, jadi aku sering nanya-nanya. Selain itu, aku juga bantu untuk membagikan makanannya ke tetangga, atau saudara dekat rumah," jelasnya.

Haetami menyadari bahwa ibunya mudah lelah. Maka dari itu, pembagian peran dalam keluarga menjadi penting agar beban tidak sepenuhnya ditanggung sang ibu.

Menariknya, ia tidak melihat ibunya sebagai sosok yang perfeksionis dalam menyiapkan Lebaran, melainkan seseorang yang justru mendorong anak-anaknya untuk saling berbagi tugas.

"Ibuku cenderung yang tidak all-out dalam menyiapkan lebaran keluarga. Dan selalu didorong untuk bagi pekerjaan saja sama anak-anaknya karena kondisinya," katanya lagi.

Kesibukan yang Tak Pernah Sepenuhnya Terlihat

Cerita serupa datang dari Azam (27), yang menggambarkan bagaimana perempuan-perempuan di rumahnya, ibu dan kakaknya, menjadi pihak yang paling sibuk menjelang Lebaran.

"Mulai dari memilih jenis kue lebaran apa yang mau dipesan, memilih tema baju lebaran yang senada, dan kalau sedang tidak ingin memasak, mereka memesan lauk untuk dimakan selama lebaran," ucap Azam.

Azam sendiri biasanya membantu dengan cara yang lebih praktis, seperti memesankan kue jauh-jauh hari agar tidak kehabisan, atau menemani berbelanja kebutuhan Lebaran.

Meski terlihat biasa, ia menyadari ada beban mental yang turut dipikul. Kelelahan itu kadang tampak dari hal-hal kecil.

"Biasanya terlihat ketika mereka mengeluh jika ada yang terlewat dari to-do-list mereka, misalnya lupa untuk nyetok tisu," sebutnya.

Namun, di balik semua itu, Azam mengaku tidak pernah mengalami konflik berarti dengan ibunya terkait persiapan Lebaran. Semua rencana dapat berjalan dalam ritme yang seolah sudah dipahami bersama.

"Komandan" di Tengah Riuhnya Persiapan

Sementara itu, Sapta (25) melihat sosok ibunya dengan pendekatan reflektif.

Baginya, menjelang Lebaran, sang ibu seakan memiliki energi ekstra dan bertransformasi menjadi “komandan” di rumah.

"Mama seperti 'komandan' yang mengatur jadwal kapan harus belanja sampai masak besar. Menjelang Lebaran tentu semua tidak luput dari pandangan Mama, dapur seperti markas utama. Seminggu sebelum Lebaran, Mama sudah membuat daftar apa saja yang harus dibeli dan makanan apa yang harus dimasak," terang Sapta.

Rumah pun, lanjut Sapta, tak luput dari perhatian ibunya. Gorden yang jarang tersentuh ikut dicuci atau diganti.

"Gorden yang biasanya dilewatkan namun menjelang lebaran harus dicuci dan diganti dengan gorden baru. Taplak meja juga diganti dengan taplak yang baru, bahkan kursi dan meja pun akan dilap menggunakan air bersih. Hal ini dilakukan Mama bukan tanpa alasan melainkan memastikan semua yang bertamu merasa nyaman," ujar perempuan yang merupakan anak tunggal ini.

Sapta dan anggota keluarga lainnya menjalankan peran dengan mengikuti arahan sang ibu, yang telah membagi tugas dengan jelas. Namun, di balik ketegasan itu, ia juga melihat sisi lain yang jarang disadari.

"Puncak perayaan Mama adalah saat malam takbiran, pada malam itu Mama harus memastikan semua masakan sudah siap untuk disajikan besok pagi, memastikan lontong sudah matang sampai menyiapkan alat ibadah untuk digunakan esok pagi," tuturnya.

Di tengah semua itu, Sapta sering mendengar ibunya mengaku lelah, akan tetapi memutuskan untuk tidak berhenti bergerak.

"Aku melihat dan mendengar Mama sering mengatakan bahwa ia lelah, tapi semua aktivitas itu tetap ia lakukan sebagai puncak pengabdian. Lelahnya Mama adalah bentuk cinta paling tulus yang ia berikan."

Dari situlah Sapta memahami bahwa Lebaran bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang dedikasi dan pengorbanan seorang ibu yang bekerja dalam diam demi kebahagiaan keluarganya.

Meski begitu, Sapta mengakui bahwa perdebatan kecil kerap terjadi, terutama soal standar persiapan yang dianggap terlalu detail.

"Tapi aku kemudian memahami perspektif Mama. Mama dan aku sebagai anak perempuan di keluarga, kami merasa memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan tradisi keluarga tetap berjalan. Maka dari itu banyak hal yang dilakukan harus sesuai dengan pakem dan kebiasaan yang sudah dijalankan sebelumnya," tegas Sapta.

Mengucapkan Terima Kasih dengan Cara Sederhana

Di balik semua kesibukan itu, ada satu hal yang sering kali terasa sederhana, tetapi tidak selalu dilakukan: mengucapkan terima kasih.

Bagi Azam, apresiasi kepada ibu dan perempuan di rumah menjadi sesuatu yang penting.

Azam menyadari bahwa apa yang tersaji saat Lebaran, makanan, suasana, hingga hal-hal kecil yang diinginkan anggota keluarga, bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja.

“Itu seperti hadiah,” ujar Azam. “Apa yang kita/anggota keluarga inginkan ada di Lebaran, ibu dan perempuan-perempuan di rumah sudah meluangkan waktu dan tenaganya untuk mengabulkan.”

Selain ucapan terima kasih langsung, Azam percaya bahwa bentuk apresiasi juga bisa ditunjukkan lewat hal-hal sederhana.

"Menghabiskan makanan yang dimasak dan memakai baju-baju yang dibelikan sudah menunjukkan bahwa kita sangat senang dengan yang diberikan oleh mereka," tukasnya.

Sementara itu, Haetami memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan rasa terima kasih. Ia mengaku tidak terbiasa mengucapkannya secara langsung, baik kepada ibu ataupun kakak-kakaknya.

Namun, bukan berarti ia tidak menghargai. Bagi Haetami, apresiasi justru ia tunjukkan lewat responsnya terhadap masakan di rumah.

"⁠Aku selalu bilang masakan mereka enak. Aku selalu 'berisik' kalau soal makanan. Jadi, aku pikir caraku begitu, sudah cukup untuk memvalidasi apa yang mereka telah lakukan," ujarnya.

Di sisi lain, Sapta terbiasa mengucapkan terima kasih secara langsung kepada ibunya, tidak hanya saat Lebaran, tetapi juga selama bulan Ramadhan.

Bagi Sapta, sang ibu bukan hanya sibuk menyiapkan hari raya, tetapi juga hadir setiap hari melalui hidangan berbuka dan perhatian yang tak pernah putus.

"Aku biasanya mengucapkan terima kasih setelah Mama menyelesaikan masakan dan sebelum kami tidur," imbuh Sapta.

Namun, bagi Sapta, mengungkapkan rasa terima kasih tidak selalu mudah untuk diwujudkan dalam bentuk yang setara. Sapta mengaku sering merasa bingung terkait hadiah apa yang tepat diberikan untuk membalas ketulusan tersebut.

"Karena Mama sangat menyukai bunga, aku sering menghadiahi Mama tanaman, seperti bibit bunga anggrek, bibit bunga mawar, atau bunga dalam vas meja. Aku selalu memilih benda apa yang Mama suka atau membeli makanan kesukaan Mama."

Pada akhirnya, menghargai perempuan di balik riuhnya Lebaran tidak selalu membutuhkan bentuk yang sama.

Ada yang mengucapkannya secara langsung, ada yang menunjukkannya lewat tindakan sederhana, dan ada pula yang mengekspresikannya melalui perhatian kecil sehari-hari.

Yang terpenting adalah menumbuhkan kesadaran untuk melihat dan menghargai kerja-kerja yang selama ini sering dianggap biasa, padahal penuh makna.

Bagaimana dengan kamu? Apa bentuk terima kasih yang kamu berikan untuk ibu atau perempuan-perempuan di rumah saat Lebaran? Simak artikel lainnya terkait ibu di sini.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih