Menuju konten utama
Hari Lanjut Usia Nasional

Menua & Tetap Bermakna: Dukung Orang Tua Hidup Sehat Mandiri

Dari sekitar tujuh dekade hidup yang berpeluang kita jalani, 10 tahun terakhirnya bisa jadi dilalui dalam kondisi sakit atau bergantung pada orang lain.

Menua & Tetap Bermakna: Dukung Orang Tua Hidup Sehat Mandiri
Header DIajeng Lebih Peduli Orang Tua. tirto.id/Quita

diajeng.id - * Artikel ini merupakan kerja sama Diajeng Tirto dengan komunitas Senja dan dr. Esthika Dewiasty, Sp.PD, Subsp.Ger, M.Sc, Ph.D dalam rangka Hari Lanjut Usia Nasional pada 29 Mei 2026

Pada hari itu, pasien yang saya temui datang atas rujukan sejawat dokter bedah ortopedi.

Seorang perempuan usia 70-an, biasa dipanggil Yangti atau Eyang Putri oleh keluarganya, baru saja jatuh dan mengalami patah tulang pangkal paha. Dalam waktu dekat, Yangti akan menjalani operasi.

Pada setiap kasus lansia yang jatuh, saya selalu bertanya kepada keluarga yang menyaksikan kejadiannya.

Caregiver Yangti adalah putrinya, perempuan usia 40-an yang tinggal bersamanya. Dari penuturannya, saya mengetahui bahwa ini bukan kali pertama Yangti jatuh. Ternyata, dalam satu bulan terakhir, Yangti sudah jatuh tiga kali.

Yangti, kata putrinya, sudah berusaha sangat berhati-hati setiap kali bergerak. Namun begitu, Yangti tetap rentan jatuh.

"Dok, kenapa Yangti sering jatuh, ya? Jatuhnya cuma tersandung, tapi kok patah tulangnya bisa separah ini?" tanya anak Yangti dengan suara nyaris berbisik.

Mendengar pertanyaan tersebut, saya tersenyum, "Sekarang kita fokus dulu untuk persiapan operasi Yangti, ya. Nanti setelah ini, kita bikin Yangti lebih kuat supaya tidak mudah jatuh lagi."

Di balik pertanyaan “mengapa lansia sering jatuh”, terdapat jawaban yang cukup kompleks. Pada dasarnya, mayoritas lansia memiliki kondisi tulang yang sudah menipis atau dikenal sebagai osteoporosis.

Tulang yang rapuh tidak perlu benturan keras untuk patah. Tersandung langkah kecil pun cukup untuk menimbulkan trauma pada tulang.

Dalam pandangan medis, salah satu temuan paling signifikan pada Yangti adalah otot-ototnya yang menyusut dan melemah.

Di dunia kedokteran, kondisi ini disebut sarkopenia. Sarkopenia terjadi karena akumulasi dari asupan nutrisi yang tidak memadai dan otot yang sudah lama tidak dilatih.

Sarkopenia sebenarnya sangat bisa diintervensi, sepanjang dapat dikenali lebih awal.

Tentu, tidak ada pihak yang perlu disalahkan pada kasus-kasus lansia patah tulang karena jatuh. Kita semua sama-sama tahu, orang tua berusia lanjut seperti Yangti sangatlah disayangi dan dilindungi oleh keluarganya.

Namun, di lubuk hati terdalam, sebagian besar dari kita mungkin bertanya-tanya, “Bagaimana jadinya kalau tanda-tanda ini dikenali enam bulan lalu? Satu tahun lalu?”

Kalau saja tingkat awareness tentang sarkopenia lebih tinggi di masyarakat kita, mungkin Yangti, orang tua lansia, dan kakek-nenek kita dengan pengalaman patah tulang serupa tidak perlu menjalani prosedur operasi.

Beban Penuaan Sangat Nyata yang Tak Terlihat di Indonesia

Per Maret 2024, Indonesia memiliki sekitar 33 juta penduduk berusia 60 tahun ke atas atau sekitar 12 persen dari total populasi.

Angka tersebut akan terus tumbuh. Proyeksi BPS (2024) menunjukkan bahwa pada 2045, lebih dari 65 juta penduduk Indonesia akan berusia lanjut, hampir satu dari lima orang. Kita sedang memasuki era yang tidak ada presedennya dalam sejarah bangsa ini.

Angka harapan hidup di Indonesia memang mengalami peningkatan dari masa ke masa. Pada 2024 lalu, BPS mencatat angka harapan hidup perempuan mencapai 74,21 tahun dan laki-laki 70,32 tahun.

Di balik statistik tersebut, ada elemen lain yang perlu kita perhatikan, yaitu Healthy Life Expectancy (HALE) atau harapan hidup dalam kondisi sehat.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka HALE di Indonesia pada 2019 hanya 62,8 tahun. Artinya, dari tujuh hingga delapan dekade kehidupan yang berpeluang kita jalani, hampir satu dekade terakhir dihabiskan dalam kondisi sakit, terbatas, atau bergantung pada orang lain.

Yang lebih mengkhawatirkan dan tidak cukup diketahui masyarakat pada umumnya, dua dari tiga lansia Indonesia sedang berdiri di ambang kerentanan.

Melansir POLICY PAPER LANSIA BERDAYA: Addressing the Aging Population Phenomenon in Indonesia (2025) dari Kemendukbangga/BKKBN dan UNFPA, ambang kerentanan ini disebut sebagai kondisi pre-frail: fase di antara sehat dan rapuh yang masih bisa diselamatkan.

Yang jadi persoalan, kita cenderung memandang fase tersebut "wajar karena memang usia", alih-alih periode penting yang memerlukan intervensi segera.

Ada beberapa alasan mengapa keluarga sering kali baru bertindak ketika kondisi kesehatan yang dialami orang tua lansia sudah berat.

Pertama, ada budaya "sungkan". Orang tua merasa tidak ingin merepotkan, di satu sisi anak anak juga kurang nyaman karena dianggap mau mencampuri urusan orang tua.

Kedua, belum ada sosialisasi menyeluruh dan panduan terstruktur tentang hal-hal yang perlu diperhatikan pada orang lanjut usia.

Ketiga, yang paling umum, banyak tanda penurunan pada lansia yang terlihat lumrah atau terkesan normal, sehingga sulit untuk membedakan mana yang wajar dan mana yang perlu diwaspadai.

5 Tanda Peringatan yang Harus Dikenali pada Lansia

Terdapat setidaknya lima tanda atau gejala kondisi kesehatan memburuk yang tecermin dari perilaku lansia, akan tetapi kerap luput dari perhatian kita karena terlihat seperti realitas yang lumrah.

1. Mudah Jatuh atau Takut Jatuh

Insiden terjatuh pada lansia, bahkan satu kali saja, berisiko menimbulkan dampak jangka panjang yang memengaruhi kualitas hidup ke depannya.

Meski tubuh orang tua atau kakek-nenek kita terlihat “baik-baik saja”, banyak lansia telah mengalami osteoroposis atau kondisi pengeroposan tulang.

Saat lansia terjatuh, tulangnya yang rapuh tidak sekadar mengalami memar, melainkan juga berisiko fraktur terutama pada tulang panggul. Fraktur tulang panggul pada lansia kerap menyebabkan kondisi bedridden dengan berbagai komplikasinya.

Fraktur panggul bisa dikoreksi dengan operasi dengan disertai fisioterapi pascaoperasi. Namun, jika tidak, fraktur panggul bisa jadi momen yang menentukan hilangnya kemandirian hidup secara permanen.

Ada sejumlah tanda dari perilaku lansia yang berpotensi mengalami insiden jatuh, seperti kebiasaan berjalan dengan ritme yang mulai melambat dan postur tubuh membungkuk. Selain itu, saat berjalan, tangannya selalu meraba-raba atau mencari dinding untuk dijadikan semacam “pegangan”.

Lansia juga memiliki risiko tinggi untuk mengalami sarkopenia, penurunan massa dan kekuatan otot. Penurunan massa otot terjadi sejak usia 30 tahun dan menurun satu persen atau lebih setiap tahunnya.

Meski sarkopenia jamak ditemukan pada lansia, tingkat keparahannya sangat mungkin untuk diperlambat. WHO ICOPE (2017) merekomendasikan latihan multimodal, yaitu gabungan kekuatan, keseimbangan, fleksibilitas, dan aerobik, sebagai intervensi utama yang terbukti efektif.

Kita juga harus mengerti bahwa semakin orang tua bertambah usia, semakin besar pula rasa takut terhadap insiden jatuh itu sendiri.

Dalam konteks tersebut, lansia yang takut jatuh cenderung berhenti bergerak. Padahal, keputusan untuk mengurangi gerakan justru berbahaya. Otot yang tidak dilatih akan semakin melemah, koordinasi tubuh semakin buruk, dan risiko jatuh pun semakin tinggi.

Maka dari itu, perlu intervensi aktif dari keluarga dan komunitas untuk mendukung lansia agar aktif bergerak dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga stamina di usia senja.

2. Berat Badan Turun Tanpa Alasan Jelas

Perhatikan perubahan pada berat badan lansia. Penurunan lebih dari tiga kilogram dalam tiga bulan tanpa diet atau tanpa penyakit yang diketahui perlu mendapatkan perhatian ekstra.

Selama ini, kita kerap menganggap badan kurus sebagai salah satu tanda malnutrisi. Padahal, tubuh menggemuk juga bisa jadi tanda malnutrisi.

Di balik asumsi-asumsi terkait asupan gizi, kita perlu paham bahwa pasokan protein yang tidak adekuat dapat menyebabkan malnutrisi, mempercepat sarkopenia, dan memperburuk kondisi lain seperti frailty. Malnutrisi juga dikaitkan dengan berkurangnya fungsi kognitif, berkurangnya kemampuan merawat diri sendiri, dan berisiko tinggi untuk tergantung pada perawatan.

Persoalan terkait asupan gizi pada lansia kerap berkaitan dengan nafsu makan yang menurun karena gigi yang sudah tidak nyaman untuk mengunyah, atau sekadar karena makan sendirian itu tidak menyenangkan.

Makan bersama keluarga atau komunitas bisa menjadi solusi sekaligus rutinitas yang menyehatkan bagi lansia baik secara fisik dan sosial.

Namun, apabila terdapat perubahan selera makan secara mendadak dan kondisinya tidak segera membaik, kita perlu mewaspadainya sebagai tanda awal penyakit akut, depresi atau gangguan kognitif yang belum terdeteksi.

3. Mudah Lupa atau Sulit Berkonsentrasi

Terlupa dengan nama orang, apabila terjadi sesekali, adalah hal yang normal di berbagai usia.

Meski begitu, terdapat pola-pola yang perlu diwaspadai, seperti lupa kejadian yang baru saja terjadi (bukan kejadian masa lalu), kesulitan menemukan kata-kata spesifik saat berbicara, atau disorientasi di tempat yang sudah dikenal.

Contoh-contoh di atas bisa jadi tanda awal gangguan kognitif ringan (Mild Cognitive Impairment), yang pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi demensia.

WHO ICOPE (2017) menyoroti bahwa saat ini terdapat 46,8 juta orang dengan demensia di seluruh dunia. Angka ini diproyeksikan berlipat ganda setiap 20 tahun. Indonesia, dengan populasi lansia yang terus bertumbuh, perlu mempersiapkan diri secara serius.

Maka dari itu, penting untuk melakukan deteksi dini demensia pada lansia dengan mengenali gejala-gejalanya.

Selain itu, dengan mendorong lansia untuk melakukan stimulasi kognitif, aktivitas sosial, olahraga aerobik, dan manajemen faktor risiko vaskular (hipertensi, diabetes), kita juga sudah berusaha memulai lebih awal usaha untuk memperlambat penurunan kognitif pada lansia.

4. Menarik Diri dari Aktivitas Sosial

Dari semua tanda-tanda yang sudah dipaparkan di atas, yang paling sering ditemui adalah lansia yang tidak mau keluar rumah.

Mereka menolak ajakan makan bersama, undangan kegiatan komunitas keagamaan, senam atau olahraga di halaman perumahan. Padahal, itulah aktivitas sehari-hari yang dulu membuat hidup mereka bermakna.

Penolakan lansia untuk keluar rumah dan beraktivitas kerap kita anggap sebagai keputusan wajar karena usia yang semakin menua. Namun, menurut pengamatan dokter, hal tersebut bisa jadi kemungkinan depresi.

WHO mencatat hampir 1 dari 10 lansia mengalami depresi. Sayangnya, di Indonesia, depresi pada lansia tidak mudah terdiagnosis karena gejala-gejalanya kerap dianggap sebagai proses menua yang lumrah, seperti badan mudah lelah dan nyeri atau nafsu makan hilang.

Penting untuk kita pahami bahwa kesepian memicu depresi dan depresi memperdalam kesepian. Statistik menunjukkan sekitar 7,1 persen lansia Indonesia hidup sendirian.

Realitas yang dialami oleh lansia-lansia kita semakin menegaskan pentingnya membangun komunitas untuk mendukung mereka dalam menjalani hidup yang berkualitas dan bermartabat.

5. Mudah Lelah untuk Aktivitas yang Biasa Dilakukan

Kelelahan yang tidak wajar, misalnya lelah signifikan setelah berjalan dari kamar ke dapur atau tidak mampu menyelesaikan aktivitas rutin yang dulu terasa mudah, adalah salah satu indikator utama frailty alias kerentanan (kerapuhan) dan tanda awal sarkopenia.

Kondisi pre-frail dan frail pada lansia ditandai oleh kombinasi faktor, seperti penurunan kekuatan genggaman tangan, kecepatan berjalan yang melambat, kelelahan kronis, aktivitas fisik yang rendah, dan penurunan berat badan tanpa sebab.

Apabila ditemukan dua faktor atau lebih, evaluasi geriatri secara menyeluruh sangat direkomendasikan.

Meski begitu, kondisi pre-frail adalah kondisi yang bisa diperbaiki. Intervensi dini dengan program olahraga yang tepat, optimasi nutrisi, dan dukungan sosial terbukti dapat mengembalikan lansia ke status "sehat" sepanjang dimulai sebelum kondisi kesehatan memburuk lebih jauh.

Aspek Fisik dan Sosial dari Aktivitas Berolahraga

Salah satu perubahan terbesar dalam panduan geriatri modern adalah bagaimana kita membingkai ulang pandangan kita tentang aktivitas olahraga untuk lansia. Olahraga sudah bukan lagi dimaknai dengan jargon "lebih baik bergerak" yang samar-samar.

Panduan WHO ICOPE (2017) secara eksplisit merekomendasikan latihan fisik multimodal sebagai intervensi berbasis bukti untuk mencegah penurunan mobilitas yang mengancam kemandirian lansia.

Latihan multimodal mencakup empat komponen yang bekerja secara sinergis:

  • Kekuatan (resistance training): melatih otot-otot besar, terutama tungkai, untuk mencegah sarkopenia dan risiko jatuh.
  • Keseimbangan (balance training): melatih sistem proprioseptif dan vestibular untuk stabilitas postural.
  • Fleksibilitas (stretching): mempertahankan rentang gerak sendi dan mencegah kekakuan.
  • Aerobik (cardio): menjaga fungsi kardiovaskular, kapasitas paru, dan kesehatan kognitif.
Di balik segala manfaat fisik yang diperoleh dari aktivitas olahraga, ada satu dimensi yang jarang diungkit dalam diskusi-diskusi klinis tentang geriatri, yaitu aspek sosial dari olahraga itu sendiri.

Studi menunjukkan bahwa lansia yang berlatih dalam kelompok memiliki tingkat kepatuhan (adherence) yang jauh lebih tinggi dibandingkan yang berlatih secara mandiri atau sendirian.

Secara psikologis, kita tidak mudah membatalkan komitmen ketika ada orang-orang yang menantikan kehadiran kita. Inilah yang tidak bisa diberikan lewat resep dari dokter mana pun, dan mengapa komunitas menjadi bagian penting dalam intervensi untuk mendukung kesehatan fisik dan mental lansia.

Dalam kerangka Lansia Berdaya (SIDAYA) dari Kemendukbangga/BKKBN dan UNFPA, penuaan sehat bertumpu pada tiga pilar: kesehatan, partisipasi, dan keamanan. Ketiganya tidak bisa berdiri sendiri.

Keterlibatan sosial yang aktif terbukti menurunkan risiko demensia, depresi, bahkan mortalitas secara keseluruhan. Lansia dengan jaringan sosial yang kuat hidup lebih lama, terlepas dari kondisi fisiknya.

Berkomunitas di Usia Senja

Realitasnya, sekitar 10 persen lansia Indonesia hidup sendirian. Perempuan tiga kali lipat lebih banyak daripada laki-laki yang tinggal sendirian.

Seiring waktu, jaringan keluarga besar yang dulu jadi safety net utama semakin tipis karena tergerus oleh urbanisasi dan mobilitas keluarga muda.

Kita pun tidak bisa terus mengandalkan keluarga inti saja untuk menopang sistem sosial yang ramah dan manusiawi terhadap pengalaman hidup lansia.

Maka dari itu, kita perlu bekerja sama membangun sistem yang kuat dalam mendukung kerja-kerja perawatan.

Di dalam sistem dukungan yang sehat, orang tua dan lansia bukan objek perawatan, melainkan pusat dari ekosistem dukungan yang aktif. Keluarga, teman sebaya, tenaga kesehatan, komunitas perlu bekerja bersama untuk mewujudkan lingkungan yang suportif terhadap lansia.

“Tanggal 29 Mei adalah Perayaan Hari Lansia Nasional sebagai bentuk apresiasi kita kepada para lansia. Namun, tentu saja perhatian seluruh pihak pada lansia tidak boleh hanya hadir setahun sekali, melainkan hadir setiap saat. Bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang bisa menghargai warga lansianya.” - dr. Esthika Dewiasty, Sp.PD, Subsp.Ger, M.Sc, Ph.D

***

Tentang Penulis

dr. Esthika Dewiasty, Sp.PD, Subsp.Ger, M.Sc, Ph.D adalah dokter spesialis penyakit dalam dengan keahlian di bidang geriatri, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan anggota Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (PERGEMI).

Ai Sasmita adalah Co-Founder Senja, platform berbasis di Jakarta yang membantu anak dalam merawat orang tua lansia mereka untuk hidup sehat, mandiri, berdaya, dan menua dengan bermartabat.

Tentang Komunitas Senja

Anak Senja, sebutan untuk family caregiver yang aktif di komunitas Senja, berperan besar dalam menangkap perubahan-perubahan kecil pada orang tua yang berusia lanjut, mendorong mereka agar terus bergerak dan terhubung, serta memastikan bahwa perawatan dapat dipenuhi sebelum terjadi penurunan kondisi kesehatan.

Di dalam berbagai program komunitas Senja, setiap anak saling belajar dan mendukung untuk membantu mewujudkan kehidupan sehat dan berdaya pada orang tua masing-masing.

Terdapat lima prinsip penting yang dipegang oleh setiap Anak Senja dalam mendampingi orang tua yang lanjut usia:

  1. Amati lebih teliti. Langkah lansia mulai goyah, berat badan turun, antusiasme menghilang, dan segala perubahan konsisten selama 2-3 minggu perlu ditindaklanjuti.
  2. Jadwalkan evaluasi geriatri komprehensif. Selain cek tensi dan gula darah, pastikan juga mobilitas, kemampuan kognitif, dan pemenuhan nutrisi dan emosional pada lansia minimal sekali dalam setahun.
  3. Dorong lansia melakukan olahraga yang ada temannya. Komunitas Senja rutin mengadakan program SenjaFIT yang dikerjakan bersama kelompok sehingga lebih efektif dan memotivasi daripada melakukan olahraga sendirian di rumah.
  4. Bantu mereka punya komunitas, baik yang berbasis minat, agama, atau lokasi. Komunitas aktif adalah pencegahan terbaik untuk risiko terisolasi dan depresi.
  5. Perhatikan nutrisi, bukan hanya porsi. Pastikan lansia mendapatkan asupan protein 1-1,2 gram/kg berat badan per hari, makanan beragam, dan makan dalam suasana yang menyenangkan bersama keluarga atau pendamping.
Di tengah kesibukan merawat orang tua, anak yang menjadi caregiver juga perlu merawat diri. Burnout yang dirasakan oleh caregiver bisa berkembang jadi kondisi medis yang berdampak langsung pada kualitas perawatan yang diterima orang tua.

Dukungan psikologis dan pelatihan untuk caregiver keluarga adalah bagian integral dari sistem efektif dalam perawatan lansia, yang termasuk dalam program advokasi oleh komunitas Senja.

Sebagian besar caregiver lansia adalah perempuan yang juga bekerja, mengurus anak, dan mengelola hidupnya sendiri. Apabila caregiver merasa kelelahan, mereka tidak akan bisa memberikan yang terbaik, setulus apa pun niatnya. Kita bisa merawat orang tua dengan baik sepanjang kita juga merawat diri sendiri dengan cukup.

Baca juga artikel terkait HARI LANSIA NASIONAL atau tulisan lainnya dari dr. Esthika Dewiasty, Sp.PD, Subsp.Ger, M.Sc, Ph.D & Ai Sasmita

diajeng.id - Kesehatan
Kontributor: dr. Esthika Dewiasty, Sp.PD, Subsp.Ger, M.Sc, Ph.D & Ai Sasmita
Penulis: dr. Esthika Dewiasty, Sp.PD, Subsp.Ger, M.Sc, Ph.D & Ai Sasmita
Editor: Sekar Kinasih