Menuju konten utama

Pakai Make Up untuk Bekerja: Kemerdekaan Diri, Bukan Tuntutan

Dorongan atau keinginan memakai make up berada di tangan kita sendiri, terlepas apa pun tujuannya.

Pakai Make Up untuk Bekerja: Kemerdekaan Diri, Bukan Tuntutan
Header Diajeng Make Up Kantor. tirto.id/Quita

diajeng.id - Dalam dunia kerja yang profesional, penampilan sering kali dianggap sebagai jati diri pertama sebelum kita sempat menunjukkan kompetensi.

Mungkin banyak orang yang sepakat bahwa tampil rapi dan bersih adalah bentuk investasi diri yang menunjukkan kesiapan kerja.

Apalagi, dengan make up yang diaplikasikan secara tepat di wajah dapat meningkatkan penampilan profesional seorang perempuan ketika bekerja di korporasi, membuatnya jadi lebih percaya diri.

Selain itu, make up ikut membantu meratakan warna kulit, menonjolkan fitur wajah, dan memproyeksikan citra yang terawat, sesuai dengan standar profesional di kebanyakan tempat kerja.

Tampilan perempuan dengan make up juga bisa membantu menciptakan kesan pertama yang positif pada rekan kerja, klien, atau atasan, serta meningkatkan persepsi profesionalisme dan kredibilitas.

Namun, muncul pertanyaan menarik.

Sejauh mana penggunaan make up benar-benar efektif menunjang performa kerja?

Kapan hal itu hanya menjadi standar kecantikan yang melelahkan bagi perempuan pekerja?

Apakah perempuan yang tidak pakai make up tidak bisa terlihat profesional?

Luci (44) yang sehari-hari tidak menggunakan make up saat ke kantor mengatakan, dirinya lebih nyaman tidak memakai riasan wajah.

Luci juga merasa bisa menjadi diri sendiri tanpa make up.

"Pakai make up, buatku ribet, aku senang yang serba praktis. Sehabis mandi biasanya cuma pakai pelembap," ucapnya kepada Diajeng baru-baru ini.

Luci pun mengaku perasaannya baik-baik dan biasa-biasa saja meski rekan sekantor banyak yang memakai make up.

"Setiap orang punya cara masing-masing menampilkan diri mereka. Dan aku tidak menentang orang yang pake make up. Mau pakai oke, tidak pakai juga oke, yang penting nyaman dan asik-asik aja," tambah Luci lagi.

Berbeda dengan Fifa (41), yang menyebutkan dirinya sangat suka make up. Alasannya, make up membantunya semangat kerja saat di kantor dan terlihat lebih segar.

"Make up minimal saja, kayak tinted moisturizer, pensil alis, dan lip balm. Supaya keliatan lebih fresh dan enggak kusut-kusut banget," ujarnya sambal tersenyum.

Meski terkadang ada perasaan malas untuk memakainya, Fifa mengaku ritual make up sebelum ke kantor bisa jadi me-time yang menyenangkan.

"Mempersiapkan diri sendiri dan merawat penampilan itu, kan, salah satu bentuk self-care. Effort kayak gini juga artinya kamu sudah usaha berbuat baik sama diri sendiri," terangnya.

Penelitian di British Journal of Psychology (2019) menunjukkan bahwa penggunaan make up memengaruhi cara orang menilai usia dan daya tarik perempuan.

Di balik itu, temuan ini justru menyingkap bias yang lebih dalam: penampilan perempuan masih sering dijadikan dasar penilaian sosial dan profesional.

Dalam studi tersebut, wajah perempuan dari berbagai kelompok umur difoto sebelum dan sesudah dirias, lalu dinilai oleh partisipan lain terhadap usia dan tingkat daya tariknya

Hasilnya memperlihatkan bahwa make up membuat perempuan di atas 30 tahun cenderung tampak lebih muda.

Alasannya, make up dapat menonjolkan ciri visual yang diasosiasikan dengan kemudaan seperti warna kulit merata dan kontras wajah yang baik.

Yang menarik, pada perempuan di bawah usia 30 tahun, penggunaan make up justru kerap dinilai membuatnya terlihat lebih tua, terutama akibat riasan di area mata yang diasosiasikan dengan kedewasaan.

Meski semua kelompok usia umumnya dinilai lebih menarik saat memakai makeup, riset ini menyoroti bagaimana penampilan perempuan masih dijadikan dasar penilaian sosial dan profesional.

Alih-alih menawarkan “keunggulan” karier lewat make up, penelitian ini menegaskan bahwa diskriminasi usia dan gender di dunia kerja masih kuat.

Seharusnya, penilaian profesional bertumpu pada kompetensi, keterampilan, serta pencapaian, bukan pada kemampuan merias diri semata.

Survei lainnya dari InHerInsight tahun 2024 juga menunjukkan adanya perubahan sikap terhadap pemakaian make up di lingkungan kerja.

Hasilnya, sebanyak 75 persen perempuan merasa tidak ada tuntutan atau ekspektasi untuk memakai make up di kantor.

Perubahan ini mencerminkan pergeseran tren kecantikan pascapandemi dan evolusi nilai dalam budaya kerja.

Artinya, sebagian besar responden dalam survei di atas merasa bahwa penggunaan make up bukan lagi sesuatu yang dianggap wajib atau menjadi standar profesionalisme di tempat kerja.

Menerapkan gaya hidup yang lebih santai dengan peningkatan kerja fleksibel, justru menciptakan tren kecantikan minimalism.

Tren ini menekankan tampilan alami dan perawatan kulit yang sehat, serta penekanan pada otentisitas diri, bukan sekadar penampilan luar.

Pada akhirnya, mau pakai make up atau tidak, itu adalah keputusan kita sendiri, terlepas apa pun tujuannya.

Make up bisa kita analogikan seperti perhiasan atau aksesori lain yang bisa membuat kamu tampak manis. Sifatnya tidak wajib.

Intinya, pilihan tentang apa yang ingin dilakukan dengan wajah saat datang bekerja harus menjadi hak individu.

Selama tampil bersih, rapi, dan profesional, keputusan untuk mengenakan atau tidak mengenakan make up tidak semestinya memengaruhi cara diri kita dinilai, terutama dalam hal etos kerja, kompetensi, dan kontribusi profesional.

Baca juga artikel terkait MAKE UP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Binar
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih