diajeng.id - Apa kamu termasuk orang yang sulit berhemat?
Pernahkah dalam satu waktu kamu bertanya-tanya ke diri sendiri, “Kok uangku cepat sekali habis, ya?”
Sebagai contoh, kamu baru saja gajian atau terima uang, akan tetapi entah bagaimana kronologinya, saldo sudah menipis jauh dari akhir bulan.
Kamu awalnya cuma beli jajanan kecil, lalu tergoda minum kopi di kafe cantik, checkout aksesori lucu yang katanya “lagi diskon” di e-commerce, sampai akhirnya tiba di titik sadar, "Uang benar-benar sudah habis!"
Mungkin kamu pernah berjanji untuk berhemat.
Namun, setiap kali melihat makanan enak, kafe baru, atau barang lucu yang rasanya sayang kalau dilewatkan, niat itu langsung goyah.
Bukannya kamu tidak sadar dengan perilaku boros, justru kamu tahu itu. Di balik realisasi tersebut, kamu tetap mengulanginya lagi dan lagi.
Kalau kamu merasa relate, bisa jadi masalahnya bukan sekadar soal keuangan, melainkan soal psikologi di balik kebiasaan boros itu sendiri.
Pertarungan dalam Diri: Id vs Ego vs Superego
Ada alasan-alasan ilmiah yang disampaikan para ahli. Simak rangkumannya seperti dilansir laman Springer Nature berikut.
Menurut teori kepribadian Sigmund Freud, dalam diri kita ada tiga “suara”: id, ego, dan superego.
Masalahnya, saat berurusan dengan uang, yang paling sering menang adalah id, yakni bagian diri yang haus akan kepuasan instan.
Id inilah yang membisikkan ke telingamu, “Nggak apa-apa kok beli sekarang”, “Kamu capek, jadi kamu pantas self-reward dengan membeli yang kamu inginkan”, atau, “Ada diskon loh, sayang kalau dilewatkan.”
Superego baru muncul kemudian, yang hadirnya berupa rasa bersalah atau penyesalan setelah berbelanja.
Ego, yang seharusnya menengahi secara rasional, sering kalah cepat dibanding dorongan impulsif.
Di era pemasaran digital yang agresif, iklan di mana-mana, flash sale, notifikasi tiada henti, sistem psikologis jadi kewalahan. Id kita terus diserang, tanpa jeda untuk berpikir panjang dan matang.
Saat Kondisi Mental Ikut Menguras Dompet
Uang dan kondisi psikologis ternyata punya hubungan yang erat.
Saat seseorang merasa lelah, stres, sedih, atau tidak sehat secara emosional, dorongan belanja impulsif bisa meningkat.
Belanja menjadi cara cepat untuk “merasa lebih baik”, meski hanya sementara.
Pada kondisi tertentu, seperti kecanduan (misalnya judi) atau fase mania/hipomania, seseorang bahkan bisa membuat keputusan keuangan yang jauh lebih berisiko tanpa disadari.
Ironisnya, belanja impulsif ini justru sering berujung pada kecemasan baru: uang menipis, sulit tidur, hingga rasa bersalah dan kesepian.
Ini bisa menjadi lingkaran setan karena memicu emosi negatif, yang bergeser ke aktivitas belanja impulsif, masuk lagi ke masalah keuangan, sehingga menjadi emosi negatif yang lebih besar. Pola ini pun akan terus berulang.
Otak Kita Memang Tidak Suka Menabung?
Penelitian psikologi menunjukkan fakta yang cukup mengejutkan, otak manusia memang tidak tertarik pada aktivitas menabung.
Menurut Adam Anderson dari Cornell University, otak kita menganggap menabung sebagai sesuatu yang kurang penting dan tidak mendesak.
Menghasilkan uang terasa nyata dan langsung, sedangkan menabung berkaitan dengan masa depan yang jauh, pensiun, dana darurat, atau kebutuhan yang “nanti saja”.
Pendek kata, karena manfaat menabung tidak bisa langsung dirasakan, otak cenderung menundanya.
Akibatnya, kita lebih mudah menghabiskan uang hari ini daripada memikirkan kebutuhan esok hari.
Emosi Sehari-hari yang Diam-diam Memicu Boros
Pelatih keuangan Shang Saavedra memperkenalkan konsep HALTS, yaitu kondisi emosional yang sering memicu belanja impulsif:
- Hungry (lapar)
- Angry/Anxious (marah atau cemas)
- Lonely (kesepian)
- Tired (lelah)
- Sad/Stressed (sedih atau stres)
Menyadari emosi sebelum berbelanja, dan menanyakan, “Apa yang sebenarnya aku cari dari pembelian ini?” bisa jadi langkah awal untuk keluar dari pola boros.
Psikolog Johanna Peetz menekankan satu hal penting. Kamu perlu bersikap penuh kasih pada diri sendiri. Kesalahan finansial di masa lalu tidak mendefinisikan siapa kamu.
Langkah-langkah kecil ini mungkin tidak menghentikan keinginan sepenuhnya, tapi cukup memberi jeda agar kita sempat berpikir ulang.
Alasan Sering Boros Secara Emosional
Selain faktor psikologis yang dijelaskan di atas, pakar terapi keuangan Vicky Reynal dalam sesi wawancara yang dikutip di artikel Starling Bank berjudul "Why do we overspend?" juga memberikan wawasan menarik tentang mengapa kita sering kali boros secara emosional.
Reynal mengatakan bahwa kebiasaan overspending sering kali dipicu oleh alasan emosional yang lebih dalam, bukan sekadar kurang disiplin finansial.
Misalnya, kita bisa berbelanja untuk meredakan perasaan tidak nyaman, mengisi kekosongan batin, atau menyenangkan orang lain demi merasa diterima.
Pola ini mirip seperti perilaku makan berlebihan yang tidak dikendalikan secara sadar, yang ujungnya membuat kita jadi menyesal juga.
Reynal mengingatkan bahwa tekanan sosial dan rasa takut membatasi diri juga bisa membuat kita sulit menetapkan batasan ketika menghabiskan uang.
Dia menyarankan untuk meningkatkan kesadaran emosional terhadap kebiasaan kita, seperti mengetahui apa yang benar-benar kita rasakan sebelum mengeluarkan uang, sehingga kita bisa membuat pilihan yang lebih bijak dan tidak hanya bereaksi terhadap dorongan sesaat.
Ingat, kebiasaan boros bukan sekadar tentang lemah atau tidaknya kita mengatur uang, melainkan juga tentang seberapa sadar kita memahami diri sendiri.
Uang sering kali menjadi cermin dari emosi, kebutuhan, dan luka yang belum kita sadari sepenuhnya.
Dengan meningkatkan kesadaran, kita memberi diri kita kesempatan untuk membuat keputusan finansial yang lebih sehat, penuh makna, dan berpihak pada kesejahteraan jangka panjang.
Kamu juga bisa meningkatkan kesadaran dengan membaca tips-tips keuangan, beberapa di antaranya bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih