diajeng.id - Liburan akhir tahun tinggal menghitung hari.
Inilah momen yang ditunggu-tunggu, sebab banyak yang memanfaatkan libur akhir tahun sebagai waktu yang pas untuk bersantai, berkumpul bersama keluarga, atau sekadar menikmati waktu sendiri setelah rutinitas panjang dan kesibukan yang melelahkan.
Ada banyak cara menyenangkan untuk menikmati liburan akhir tahun, termasuk dengan menonton film tanpa terburu-buru, tanpa alarm, dan tanpa deadline.
Menariknya, pilihan film kini semakin beragam. Tak hanya dari Hollywood, film-film dari berbagai negara termasuk Indonesia juga menawarkan cerita yang seru, menghangatkan hati, hingga penuh makna.
Dari genre petualangan, drama, komedi, hingga film keluarga, semuanya bisa jadi teman yang pas untuk menemani suasana liburan akhir tahun.
Rekomendasi Film Asyik untuk Liburan Akhir Tahun
Diajeng merekomendasikan enam film asyik dari berbagai negara yang bisa kamu tonton untuk membuat momen liburan akhir tahun semakin berkesan.
Jangan lupa untuk menyiapkan camilan favorit dan pilih tempat ternyaman sambil menikmati jalan ceritanya.
1. The Holdovers (2023)

The Holdovers adalah film yang berjalan pelan tapi penuh perenungan. Ia mengajak penonton menyelami kesepian, luka batin, dan persahabatan yang tumbuh dari situasi tak terduga.
Disutradarai Alexander Payne, film ini mengikuti Angus (diperankan Dominic Sessa), seorang murid yang terpaksa tinggal di sekolah asrama selama liburan musim dingin, bersama Mr. Paul Hunham (Paul Giamatti), guru berkarakter keras yang perlahan menunjukkan sisi rapuhnya.
Di tengah dinginnya musim salju dan sepinya bangunan sekolah, keduanya menemukan ruang untuk saling memahami, tentang rasa takut, kehilangan, dan kebutuhan untuk diterima.
Dilansir The Eagle Online, film ini menyentuh isu kesehatan mental dengan cara yang jujur dan manusiawi, tanpa berusaha memanipulasi emosi penonton.
Meski ritmenya lambat dan humor yang muncul terasa canggung, kekuatan The Holdovers justru terletak pada ketulusannya.
Persahabatan yang tumbuh perlahan, trauma yang diakui, dan empati yang berkembang membuat film ini menjadi tontonan hangat. Film ini bisa jadi sebuah pengingat bahwa sinema tak selalu harus megah untuk meninggalkan kesan yang mendalam.
2. 8 Women (2002)

Berlatar Prancis tahun 1950-an, 8 Women menghadirkan pertemuan keluarga yang awalnya tampak elegan, tapi segera berubah menjadi misteri pembunuhan yang penuh intrik.
Delapan perempuan terjebak di sebuah rumah terpencil saat kepala keluarga mereka ditemukan tewas. Masing-masing menyimpan rahasia yang membuat mereka sama-sama patut dicurigai.
Di tangan François Ozon, kisah ini menjadi permainan psikologis yang cerdas tentang identitas, kepura-puraan, dan sisi gelap yang tersembunyi di balik penampilan anggun.
Berdasarkan review Empire Online, film ini memadukan nuansa misteri ala Agatha Christie dengan melodrama Technicolor yang berlebihan dan teatrikal.
Seiring cerita berkembang, lapisan keindahan visualnya perlahan retak, memperlihatkan karakter-karakter perempuan yang kompleks, liar, dan tak terduga.
Dengan sentuhan musikal yang kitsch namun memikat, 8 Women bukan sekadar film detektif, melainkan perayaan performa, ironi, dan keberanian mengeksplorasi hasrat serta kebohongan manusia.
3. Tokyo Godfathers (2003)

Tokyo Godfathers mengikuti tiga tunawisma, Gin, Miyuki, dan Hana yang hidup sebagai keluarga seadanya di kerasnya jalanan Tokyo.
Pada malam Natal, mereka menemukan seorang bayi yang ditinggalkan. Momen ini ternyata akan mengubah hidup mereka, memaksa ketiganya menelusuri kota demi menemukan orang tua sang bayi.
Dari situ, perjalanan sederhana berubah menjadi petualangan yang mempertemukan mereka dengan masa lalu, penyesalan, dan harapan yang nyaris padam.
Disutradarai Satoshi Kon, film animasi produksi dua dekade silam ini terasa lebih membumi dibanding karya-karyanya yang lain, tapi tetap sarat emosi dan sensai kebetulan yang terasa seperti takdir.
Dengan nada tragikomedi yang hangat, Tokyo Godfathers merayakan kemanusiaan di pinggir masyarakat, tentang kesempatan kedua, keluarga yang lahir dari pilihan, dan keajaiban kecil yang muncul di saat paling tak terduga.
4. Caramel (2007)

Berlatar di sebuah salon kecantikan kecil di Beirut, Caramel mengajak penonton masuk ke ruang intim tempat lima perempuan Lebanon berbagi cerita, tawa, dan luka yang jarang terucap.
Melalui percakapan sehari-hari tentang cinta, pernikahan, usia, dan identitas, film debut sutradara Nadine Labaki yang tokoh utamanya juga dia perankan ini menghadirkan potret kehidupan yang hangat dan manusiawi.
Meski jauh dari hiruk-pikuk politik, cerita dalam film ini dekat dengan realitas emosional tokoh utama pemilik salon bernama Layale dan teman-temannya.
Salon tersebut menjadi tempat perlindungan, di mana persahabatan tumbuh dan kejujuran perlahan menemukan jalannya.
Seperti makna judulnya, laman Teach Mideast menyebutkan, cinta dalam Caramel terasa manis sekaligus menyengat.
Film ini merayakan keberanian para perempuan untuk mencintai dengan caranya masing-masing, meski dibatasi norma dan ekspektasi sosial.
Dengan sinematografi lembut dan nada yang penuh empati, Caramel menjadi surat cinta untuk Beirut, sebuah penghormatan pada kebersamaan, ketulusan, dan kebahagiaan sederhana yang sering luput dari sorotan.
5. Hugo (2011)
Hugo adalah film liburan yang hangat dan penuh keajaiban, sekaligus penghormatan Martin Scorsese terhadap sejarah sinema.Mengisahkan Hugo Cabret (diperankan Asa Butterfield), seorang anak yatim piatu yang hidup tersembunyi di balik roda-roda jam stasiun kereta Paris, film ini mengajak penonton menyelami petualangan tentang rasa ingin tahu, kehilangan, dan harapan.
Pertemuan Hugo dengan Isabelle (Chloë Grace Moretz) dan seorang pemilik toko misterius perlahan membuka rahasia besar yang terhubung dengan Georges Méliès (Sir Ben Kingsley), pionir film yang karyanya nyaris dilupakan.
Lebih dari sekadar film keluarga, Hugo adalah surat cinta untuk dunia perfilman dan para perintisnya.
Dengan visual 3D yang digunakan secara elegan dan penampilan para aktor yang tulus, film ini mengajak penonton, anak-anak maupun dewasa untuk merayakan imajinasi dan kekuatan cerita.
Hangat, nostalgik, dan penuh kekaguman, Hugo mengingatkan bahwa sinema bukan hanya hiburan, melainkan warisan mimpi yang layak dirawat, demikian seperti dinukil laman Carson Now.
6. Kulari ke Pantai (2018)

Kulari ke Pantai adalah film petualangan keluarga yang ringan dan hangat, mengikuti perjalanan Sam (Maisha Kanna) dan ibunya, Uci (Marsha Timothy), dari Jakarta menuju Banyuwangi demi bertemu idola selancar Sam di G-Land.
Rencana sederhana ini berubah ketika Happy (Lil'li Latisha), sepupu Sam yang karakternya kontras dari Sam, ikut serta dalam perjalanan. Perbedaan karakter keduanya membuat perjalanan darat tersebut dipenuhi gesekan kecil, kejutan, dan momen-momen yang menguji kesabaran.
Di balik kisah road trip yang ceria, film yang disutradarai Riri Riza ini menyimpan refleksi tentang keluarga, penerimaan, dan proses saling memahami.
Melalui pertemuan dengan orang-orang baru dan lanskap Indonesia yang beragam, Kulari ke Pantai mengajak penonton menikmati perjalanan yang penuh kehangatan dan makna sederhana.
Simak juga rekomendasi film-film menarik lainnya di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih