Menuju konten utama

7 Rekomendasi Film tentang Dinamika Karier & Keuangan Perempuan

Dari film Hollywood lawas Working Girl sampai K-drama Search: WWW, kita diajak merenungi dinamika perempuan dalam perjalanan karier dan keuangannya.

7 Rekomendasi Film tentang Dinamika Karier & Keuangan Perempuan
Header Diajeng Rekomendasi FIlm Finance. foto/istockphoto

diajeng.id - Realitas kehidupan perempuan hari ini tidak bisa dilepaskan dari urusan keuangan atau finansial.

Banyak perempuan bekerja bukan hanya untuk mengejar karier.

Ada juga yang harus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, baik sebagai perempuan lajang yang mandiri, ibu tunggal yang memikul tanggung jawab penuh keluarga, maupun perempuan yang ingin turut menopang perekonomian rumah tangga bersama pasangan atau keluarga.

Di balik itu semua, dinamikanya bermacam-macam: perjuangan menyeimbangkan mimpi dan kewajiban, tekanan sosial, hingga keputusan-keputusan finansial yang kerap kali tidak sederhana.

Melalui tujuh rekomendasi film dari Diajeng berikut ini, ada berbagai pengalaman perempuan dalam menghadapi, mengelola, dan memaknai keuangan dalam hidup mereka yang bisa jadi bahan renungan.

Film Tentang Perempuan dan Keuangan

Film-film ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga sebagai cermin dari realitas yang mungkin terasa dekat dengan kehidupan kita sendiri.

1. Search: WWW (K-Drama, Netflix, 2019)

Search: WWW adalah drama Korea tentang dunia mesin pencari, dunia yang kompetitif, keras, dan sangat lekat dengan kekuasaan serta uang.

Ceritanya berpusat pada tiga perempuan di posisi kepemimpinan yang bekerja di dua perusahaan portal web raksasa, Unicon dan Barro.

Mereka bukan hanya bersaing dengan perusahaan lain, tetapi juga dengan nilai-nilai pribadi, ambisi, dan harga yang harus dibayar untuk tetap berada di puncak.

Bae Ta Mi, salah satu tokoh utamanya, digambarkan sebagai perempuan karier yang memilih kesuksesan profesional di atas segalanya.

Ia mandiri secara finansial, berani mengambil keputusan besar, tetapi juga mulai mempertanyakan apakah semua pencapaian itu sepadan dengan kehidupan personal yang harus ia korbankan.

Dalam review oleh Jass K, ia menuliskan bahwa drama ini menarik karena tidak menghakimi pilihan hidup para tokohnya, melainkan memperlihatkan kompleksitas perempuan modern dalam bekerja, berkuasa, dan mengelola hidupnya sendiri.

Melalui film Search: WWW, kita diajak melihat bahwa kemandirian finansial perempuan sering kali datang bersama dilema emosional, relasi, dan nilai hidup. Sebuah refleksi tentang perempuan abad ke-21 yang berdiri tegak di dunia kerja yang masih penuh bias.

2. Maid (Miniseries Netflix, 2021)

Maid adalah potret yang menyayat tentang kemiskinan, kekerasan emosional, dan perjuangan seorang ibu tunggal bertahan hidup.

Alex (Margaret Qualley), tokoh utama, melarikan diri dari hubungan yang tidak sehat sambil membawa putrinya, Maddy (Rylea Nevaeh Whittet) yang masih kecil, dengan uang hanya belasan dolar di sakunya.

Terinspirasi oleh peristiwa nyata dan berdasarkan memoar Stephanie Land, Maid: Hard Work, Low Pay, and a Mother’s Will to Survive, serial yang dibuat oleh Molly Smith Metzler ini, menurut situs The Young Folks, dengan jujur memperlihatkan betapa rapuhnya hidup seseorang ketika tidak memiliki jaring pengaman finansial.

Salah satu kekuatan Maid terletak pada cara visualnya menampilkan kondisi keuangan Alex. Nominal uangnya selalu muncul di layar dan terus berkurang setiap kali ia membeli kebutuhan dasar.

Penggambaran membuat penonton benar-benar merasakan tekanan finansial yang ia alami, dari upah rendah sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) hingga birokrasi bantuan sosial yang melelahkan.

Lebih dari sekadar kisah tentang uang, Maid menunjukkan bahwa kemiskinan sering kali berjalan berdampingan dengan trauma dan keterbatasan pilihan.

Serial ini mengajak kita berempati pada perempuan yang bekerja keras bukan untuk “sukses”, melainkan untuk bertahan hari demi hari.

3. Confessions of a Shopaholic (2009)

Di balik kemasan rom-com yang ringan, Confessions of a Shopaholic sebenarnya menyimpan kritik tajam terhadap budaya konsumerisme.

Rebecca Bloomwood (Isla Fisher) adalah perempuan muda dengan pekerjaan impian dan kecintaan berlebihan pada belanja.

Obsesi tersebut perlahan menyeretnya ke lembah utang kartu kredit. Masalah keuangan Rebecca terasa dekat dan relevan, terutama bagi banyak perempuan muda di era “buy now, pay later”.

Ironisnya, Rebecca justru bekerja di majalah bertema pengelolaan keuangan, meski ia sendiri tidak memahami dasar-dasarnya.

Dari sinilah film ini menjadi refleksi menarik tentang bagaimana citra, gaya hidup, dan validasi sosial sering kali lebih diutamakan daripada kesehatan finansial.

Film ini, seperti diwartakan Bustle, mengingatkan bahwa uang bukan hanya soal kemampuan membeli, tetapi juga soal kesadaran, kontrol diri, dan memahami perbedaan antara harga dan nilai.

Pelajaran sederhana, tapi sangat relevan, bahwa kesenangan sesaat bisa meninggalkan konsekuensi jangka panjang.

4. Home Sweet Loan (2024)

Home Sweet Loan menghadirkan cerita yang sangat membumi tentang Kaluna (Yunita Siregar), perempuan pekerja usia awal 30-an dengan penghasilan pas-pasan yang bermimpi memiliki rumah sendiri.

Tinggal bersama orang tua dan keluarga besar membuat Kaluna sadar bahwa memiliki ruang aman, secara fisik dan emosional, adalah kebutuhan, bukan kemewahan.

Dengan gaji yang terbatas, Kaluna harus pintar menyusun strategi: hidup hemat, mengambil kerja sampingan, hingga memanfaatkan pinjaman kantor.

Namun perjuangannya tidak berhenti di angka dan cicilan. Ia juga dihadapkan pada dilema klasik banyak perempuan: antara memenuhi kebutuhan keluarga atau memperjuangkan impian pribadi.

Film ini dengan hangat menunjukkan bahwa keputusan finansial perempuan sering kali sarat muatan emosional dan relasi keluarga.

Home Sweet Loan berbicara tentang prioritas, batasan, dan keberanian memilih diri sendiri tanpa harus kehilangan empati.

5. Hustlers (2019)

Hustlers mungkin terlihat glamor dan penuh sensasi, tetapi di baliknya tersimpan kritik sosial yang tajam.

Film ini mengikuti sekelompok penari striptis yang memilih jalan berbahaya setelah resesi keuangan tahun 2008 demi mempertahankan stabilitas finansial mereka.

Mereka memanfaatkan sistem yang sebelumnya mengeksploitasi mereka, para laki-laki kaya yang bekerja di Wall Street.

Film yang dibintangi Jennifer Lopez ini ini tidak memposisikan para tokohnya sebagai pahlawan atau penjahat semata.

Sebaliknya, Hustlers menunjukkan bagaimana perempuan dari kelas pekerja sering kali dipaksa mengambil keputusan ekstrem dalam sistem ekonomi yang tidak adil.

Pilihan mereka lahir dari keterbatasan, bukan keserakahan.

Melalui kisah ini, kita diajak merenungkan relasi antara uang, kekuasaan, dan tubuh perempuan, serta siapa yang akhirnya menanggung konsekuensi ketika sistem runtuh.

6. Working Girl (1988)

Working Girl adalah kisah klasik tentang perempuan kelas pekerja yang bermimpi naik kelas secara profesional.

Tess McGill (Melanie Griffith) adalah seorang peremuan yang berprofesi sebagai sekretaris. Ia sosok cerdas dengan ambisi besar, tetapi terus diremehkan karena latar belakang dan penampilannya.

Ketika ide-idenya dicuri oleh atasannya sendiri, Katharine Parker (Sigourney Weaver), Tess memilih mengambil risiko untuk memperjuangkan haknya.

Seperti dilansir The Rom Com Catalog, film ini menyoroti kerasnya dunia korporasi, terutama bagi perempuan yang tidak berasal dari kelas elite.

Tess harus membuktikan bahwa kecerdasan dan nilai dirinya tidak ditentukan oleh jabatan atau penampilan semata.

Meski dibalut dengan nuansa dongeng dan romansa, Working Girl tetap relevan hingga kini: tentang perjuangan perempuan mendapatkan pengakuan, akses ekonomi, dan posisi tawar yang setara di dunia kerja.

7. The Unforgivable (2021)

The Unforgivable menghadirkan perspektif yang jarang dibahas: perempuan yang harus membangun ulang hidupnya dari nol setelah keluar dari penjara.

Ruth (Sandra Bullock) bekerja di berbagai pekerjaan kasar dengan upah rendah, bukan demi ambisi, tetapi demi bertahan dan membuktikan dirinya layak dipercaya.

Perjuangan Ruth menggambarkan betapa sulitnya memperoleh kemandirian finansial ketika stigma sosial melekat kuat.

Setiap lembar uang yang ia kumpulkan adalah hasil kerja keras, disiplin, dan tekad untuk menebus masa lalu.

Film ini menunjukkan bahwa bekerja dan menghasilkan uang bisa menjadi bentuk pemulihan dan pemberdayaan. Sebuah kisah sunyi tentang ketahanan perempuan, martabat, dan kesempatan kedua.

Simak juga artikel terkait rekomendasi film lainnya di sini.

Baca juga artikel terkait REKOMENDASI FILM atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih