Menuju konten utama

"Seporsi Kekalahan", Sisi Lain Mengasihani Diri Sendiri

Pada esensinya, “self-pity” merupakan bentuk mekanisme koping yang lumrah digunakan untuk memvalidasi perasaan kecewa dan keterpurukan.

Header Diajeng Seporsi Kekalahan. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Kegagalan dan kekecewaan merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan dalam hidup manusia.

Semaksimal apa pun kita berusaha, sesempurna apa pun jalan hidup yang sudah kita rancang atau tengah kita jalani, tantangan dan “harga” yang harus dibayar tetap ada dalam taraf kompleksitas berbeda-beda.

Baru-baru ini, realitas tersebut kita tangkap lewat tren “seporsi kekalahan” di linimasa media sosial. Warganet berbagi keluh-kesah tentang kesedihan yang dialami.

“Seporsi kekalahan, ditolak kerja padahal mau jadi ibu berdaya untuk anaknya.”

“Seporsi kekalahan, tuntutan kerja full-time bikin sulit untuk membersamai anak.”

“Seporsi kekalahan, nggak pernah merasakan hubungan yang tulus.”

Ekspresi ini menyiratkan kesadaran kita terhadap kesusahan yang menimpa diri sendiri. Penyebabnya beragam, bisa datang dari orang lain atau merupakan konsekuensi atas keputusan pribadi.

Fenomena “seporsi kekalahan” ini bisa kita pahami lebih dalam lewat lensa “self pity”.

“Self-pity adalah kondisi psikologis pikiran yang diartikan sebagai keterpurukan yang berlebihan terhadap permasalahan diri,” begitu definisi yang dipaparkan Domina Petric dari University Hospital Center Split, Kroasia.

Respons ini umumnya lahir dari kejadian-kejadian yang penuh tekanan, lanjut Petric.

Mengapa Kita Merasa Kasihan ke Diri Sendiri?

Pada esensinya, “self-pity” merupakan bentuk mekanisme koping yang kita gunakan untuk memvalidasi perasaan kecewa dan keterpurukan.

Dengan mengasihani diri, kita memiliki ruang yang mengizinkan rehat sejenak dari tekanan untuk menyelesaikan masalah serta mengurangi kecemasan yang timbul dari dalam diri.

Meski lazimnya muncul karena ketidakmampuan menahan tekanan, “self-pity” bisa muncul dari perhatian selektif (selective attention) yang kita tujukan pada hal-hal buruk saja, alih-alih mengimbangi perhatian tersebut dengan aspek-aspek lain yang bersifat positif.

Menukil Therapy Central, individu yang melakukan self-pity biasanya bertanya-tanya, “Kenapa aku kena sial terus?”

“'Self-pity' bukan permasalahan yang bisa dilewati secara instan. Es krim dan dukungan dari teman-teman tidak cukup untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik,” jelas Dr. Wayne Pernell, psikolog klinis dari Benicia, California dikutip dari Psych Central.

Meski dapat memberikan ruang untuk tenang sejenak, “self-pity” juga berpotensi menjerumuskan kita ke dalam siklus keputusasaan.

Terlalu larut dalam “self-pity” dapat menghalangi kita untuk melihat dan menghargai momen-momen yang sepatutnya diapresiasi.

Sesederhana atau sekecil apa pun, momen-momen tersebut tetap memiliki tempat dalam hidup kita untuk disadari dan disyukuri.

Dalam jangka panjang, kebiasaan “self-pity” juga berisiko membentuk pola pikir yang destruktif. Otak menjadi semakin terbiasa berfokus pada sisi-sisi negatif, sehingga pengalaman positif perlahan terabaikan.

Perempuan dan “Self-Pity”

Cukup banyak perempuan yang menuangkan curahan hati “seporsi kekalahan” di linimasa media sosial. Tema yang diangkat salah satunya tentang meratapi konsekuensi dari keputusan menjadi ibu pekerja yang harus meninggalkan anak kecil di rumah.

Pengalaman tersebut mengingatkan kita lagi tentang multiperan perempuan. Sebagian besar perempuan, terkhusus ibu pekerja, memanggul beban ganda (double burden) dengan tuntutan menyeimbangkan peran domestik dan peran publik.

Ada banyak dimensi yang bisa disorot dari realitas ini.

Di satu sisi, kerja perawatan yang cenderung dibebankan pada perempuan masih dipandang sebelah mata lantaran tidak dianggap sebagai kerja produktif. Di sisi lain, ketika perempuan memutuskan untuk berkarier di luar rumah, tantangannya juga luar biasa.

Melansir tulisan Josie Cox di The Persistent, perempuan yang bekerja di bidang yang didominasi laki-laki kerap menghadapi standar berbeda.

Ketika ada satu perempuan yang mengalami kegagalan atau penolakan terkait pekerjaannya di sana, pengalamannya acap kali dipandang sebagai cerminan kemampuan “semua perempuan” di bidang itu.

Fenomena yang dikenal dengan istilah “gender salience” tersebut membuat kegagalan satu perempuan dengan mudahnya digeneralisasi jadi anggapan keliru bahwa perempuan memang tidak kompeten dalam bidang tertentu.

Tentu tidak ada salahnya untuk ikut merayakan momen-momen “seporsi kekalahan” dalam menghadapi dinamika hidup yang penuh kejutan ini. Namun begitu, jangan biarkan “self-pity” tersebut menjadi siklus yang berulang.

Alih-alih “self-pity”, kita bisa melatih “self-compassion”—berwelas asih kepada diri sendiri. Sikap ini tidak membuat kita mengabaikan kekurangan atau kegagalan, melainkan mengajak kita menerimanya dengan lebih sehat dan penuh pengertian.

Inti dari “self-compassion” adalah tidak bersikap terlalu keras terhadap diri sendiri. Kita mungkin tidak memiliki kendali penuh atas apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi kita selalu memiliki kuasa untuk menentukan bagaimana meresponsnya

Mengakui kekalahan memang penting, tetapi jangan biarkan kegagalan menjadi satu-satunya cara kita memandang diri sendiri.

Bisa jadi, di balik seporsi kekalahan, tersimpan setetes kemenangan yang belum kita sadari. Siapa tahu, justru dari keterpurukan hari ini, kamu menemukan pijakan untuk melangkah lebih tinggi.

Baca juga artikel terkait PSIKOLOGI atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih