diajeng.id - “Aku baru sadar, ternyata yang aku butuhkan adalah tempat aman untuk bercerita.”
Kalimat itu terucap dari beberapa peserta workshop Welas Asih Perempuan yang diselenggarakan Sabtu, 30 Mei 2026.
Workshop Welas Asih Perempuan merupakan buah kolaborasi dua sejawat psikolog yang menaruh perhatian pada isu perempuan, Mitha Diana Arthanti, S.Psi., Psikolog (@psikologmitha) dan Ibrena Merry Sella Purba, S.Psi, M.Psi, Psikolog (@ibrena.purba).
Selama ini, kita sering mendengar anggapan bahwa perempuan adalah sosok yang ekspresif. Perempuan diyakini lebih mudah bercerita dan cenderung terbuka dibanding laki-laki.
Namun begitu, berdasarkan pengalaman kami dalam mendampingi perempuan dari berbagai latar belakang, realitasnya berbeda.
Tidak sedikit, ternyata, perempuan yang terbiasa diam karena memendam perasaan dan isi pikirannya.
Perempuan memendam kelelahan karena, salah satunya, terus-menerus “menerima” beban sebagai sosok dengan multiperan. Mereka memendam kesedihan karena takut dianggap terlalu sensitif. Mereka juga bisa memendam kemarahan karena khawatir dicap “tidak baik”.
Dalam banyak kasus, perempuan juga memendam kebutuhannya sendiri karena merasa perlu mendahulukan kebutuhan orang lain.
Sehari-hari, perempuan sering kali diajarkan untuk menjadi sosok sempurna yang mampu mengurus semua hal berkaitan dengan keluarga, anak, dan komunitasnya.
Padahal di tengah begitu banyak peran, ada satu hal yang sering terlewat, yaitu memberi ruang bagi diri sendiri untuk menjadi versi diri apa adanya, boleh lelah, marah, sakit, atau sedih.
Workshop Welas Asih Perempuan lahir dari keyakinan bahwa setiap perempuan berhak memiliki ruang aman untuk kembali “pulang” atau terhubung dengan dirinya sendiri.
Selain materi, sesi berbagi, dan latihan bersama selama workshop, ada pula pendampingan selama seminggu untuk menjalankan komitmen kecil berwelas asih kepada diri sendiri yang dipantau dalam grup Whatsapp.
Tidak Sendirian: Beban yang Jamak Dipanggul Perempuan
Awalnya, banyak peserta terlihat ragu untuk bercerita dalam sesi ini. Sebagian mengaku khawatir jika cerita mereka dianggap membuka aib. Sebagian lainnya takut dihakimi atau dikasihani.
Kekhawatiran peserta tentu sangat manusiawi. Tidak semua dari kita tumbuh dalam lingkungan yang memberikan rasa aman untuk menunjukkan sisi rentan diri.
Satu orang mulai bercerita, disusul yang lain. Satu per satu, terdengar penuturan tentang kelelahan menjadi ibu, tekanan pekerjaan, hubungan yang menguras energi, rasa kehilangan, hingga perjuangan menerima diri sendiri.
Banyak peserta menyadari bahwa pengalaman yang mereka anggap sangat personal ternyata jamak dilalui oleh perempuan lain.
“Aku kira cuma aku yang merasa seperti ini.”
Kalimat serupa muncul berulang kali selama workshop maupun proses pendampingan.
Kami, sebagai psikolog, kembali diingatkan tentang kekuatan berproses secara kolektif. Dunia sering menuntut kita untuk menjadi mandiri. Padahal, pada waktu sama, manusia juga membutuhkan koneksi.
Ada sisi-sisi positif yang bisa dipetik begitu kita menyadari tidak berjuang sendirian.
Memang betul, masalah tidak langsung selesai dengan berbagi cerita, akan tetapi rasa kesepian yang menyertai masalah tersebut, sedikit-banyak, pasti berkurang. Perasaan “aku tidak sendirian” pun bisa menjadi awal bagi kita untuk pulih dari keterpurukan.
Pelajaran lain yang bisa dipetik dari sesi workshop ini adalah pemahaman lebih dalam bahwa kerentanan tidak sama dengan kelemahan.
Salah satu peserta menyampaikan refleksi yang sangat menyentuh. Selama ini, tuturnya, ia selalu berusaha terlihat baik-baik saja dan berpikir positif dalam segala situasi.
Namun, setelah melalui proses workshop, ia menyadari bahwa menjadi manusia berarti menerima bahwa ada hari-hari ketika kita tidak baik-baik saja.
Kalimat di atas mungkin terdengar remeh atau sepele, tetapi maknanya tidaklah dangkal.
Banyak perempuan tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka harus menerima apa pun yang dihadapi dan harus mampu mengatasinya sendiri. Akibatnya, ketika mengalami kesulitan, mereka menjadi semakin keras pada diri sendiri.
Mengenal Lebih Jauh Konsep Welas Asih
Welas asih terhadap diri bukan berarti menyerah atau mencari pembenaran. Welas asih merujuk pada kemampuan untuk mengakui pengalaman kita apa adanya tanpa menghakimi diri sendiri.
Alih-alih mengkritik diri saat merasa tidak cukup baik, kita belajar memberikan dukungan dan penghiburan kepada diri sebagaimana yang kita lakukan kepada orang-orang yang kita sayangi.
Menurut Neff dalam studi berjudul “Self-Compassion: An Alternative Conceptualization of a Healthy Attitude Toward Oneself” (2003), welas asih terhadap diri terdiri atas tiga komponen utama sebagai berikut.
- Self-kindness. Kemampuan ini merujuk pada upaya memperlakukan diri dengan kelembutan dan pengertian, terutama ketika menghadapi penderitaan atau kesulitan. Sayangnya, banyak perempuan justru lebih mudah memahami orang lain dibanding dirinya sendiri. Ketika teman melakukan kesalahan, kita bisa memaklumi. Namun, ketika diri sendiri melakukan kesalahan yang sama, yang kerap muncul justru kritik keras.
- Common humanity. Konsep ini mengingatkan pada ketidaksempurnaan yang merupakan bagian dari pengalaman manusia. Semua orang pernah gagal, kecewa, bingung, dan merasa tidak cukup baik. Kesadaran bahwa kita tidak sendirian dalam menghadapi kesulitan membantu mengurangi rasa terisolasi. Menariknya, inilah yang banyak muncul dalam workshop. Saat para peserta mendengar cerita satu sama lain, mereka menyadari bahwa pergulatan yang selama ini dianggap sangat personal ternyata juga dialami oleh perempuan lain.
- Mindfulness. Strategi ini membantu kita menyadari apa yang sedang dirasakan tanpa menyangkal maupun melebih-lebihkan pengalaman tersebut. Tidak memendam emosi, tetapi juga tidak tenggelam sepenuhnya di dalamnya. Kita bisa bilang, “Saat ini aku sedang sedih,” tanpa menyimpulkan bahwa hidup kita sepenuhnya buruk..
Mungkin, ini jugalah alasan mengapa ruang aman menjadi begitu penting. Ketika kita merasa “diterima”, kita tidak lagi sibuk mempertahankan “topeng”. Kita pun memiliki kesempatan untuk melihat diri dengan lebih utuh dan terbuka.

Langkah berproses ini tidak berhenti setelah workshop selesai.
Selama satu minggu setelah kegiatan, kami sebagai psikolog masih terus melanjutkan pendampingan. Tujuan pendampingan ini adalah untuk menemani proses perubahan yang sedang berlangsung. Alasannya sederhana. Perubahan diri jarang terjadi dalam satu pertemuan.
Memang betul, umumnya, kita langsung mendapat insight setelah menghadiri sebuah sesi. Menariknya, tantangan yang sebenarnya baru muncul ketika kita telah kembali menceburkan diri ke dalam rutinitas sehari-hari.
Itulah mengapa dukungan yang sifatnya continuity atau berkelanjutan menjadi penting.
Berwelas Asih untuk Diri Sendiri
Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk melatih kemampuan welas asih kepada diri sendiri?
Berwelas asih kepada diri sendiri tidak harus dilalui dengan langkah-langkah besar. Berikut 5 strategi praktis berwelas asih yang mudah diterapkan ke diri sendiri:
- Perhatikan cara berbicara kepada diri sendiri. Saat melakukan kesalahan, coba tanyakan, "Apa aku akan menyampaikan kalimat ini untuk sahabatku sendiri?" Kalau jawabannya tidak, mungkin diri kita juga layak menerima perkataan yang lebih halus.
- Berikan nama pada emosi yang sedang dirasakan. Alih-alih langsung mengabaikan atau menekan perasaan, coba aku, "Aku lagi merasa lelah/kecewa/cemas." Kesadaran ini membantu kita lebih terhubung dengan kebutuhan diri sendiri.
- Izinkan diri untuk meminta tolong dan menerima dukungan. Banyak perempuan terbiasa menjadi tempat bersandar bagi orang lain, tetapi kesulitan ketika harus bersandar pada orang lain.
- Ambil jeda sebelum menyalahkan diri sendiri. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, tanyakan pada diri kita, "Apa yang sebenarnya aku butuhkan saat ini?" Dengan pertanyaan seperti itu, kita berupaya fokus untuk tenang , alih-alih terjebak dalam pusaran mencari kesalahan.
- Cari ruang aman untuk berekspresi. Pertimbangkan curhat melalui jurnal, ngobrol dengan orang terpercaya, komunitas pendukung, atau bantuan profesional.
Ingat, welas asih bukanlah kemampuan yang muncul secara instan. Welas asih perlu dilatih berulang kali.
Dengan berwelas asih, kita bukan ingin terlihat sempurna. Welas asih mengajak kita untuk berani memeluk diri sendiri, termasuk bagian-bagian yang selama ini berusaha kita sembunyikan dari diri sendiri.
Pada akhirnya, perjalanan menuju diri yang lebih utuh bisa jadi dimulai dari satu pengakuan pendek, “Iya, memang, aku tidak selalu baik-baik saja.”
* Artikel ini merupakan kerja sama Diajeng Tirto dengan Mitha Diana Arthanti, S.Psi., Psikolog yang baru saja menyelenggarakan sesi workshop Welas Asih Perempuan secara daring bersama Ibrena Merry Sella Purba, S.Psi, M.Psi, Psikolog pada 30 Mei 2026.
Penulis: Mitha Diana Arthanti, S.Psi., Psikolog
Editor: Sekar Kinasih