Menuju konten utama

Sudah Tak Kerasan di Tempat Kerja: Resign atau Bertahan?

Bagaimana jika perasaan tidak nyaman saat bekerja semakin kuat? Haruskah bertahan, atau memilih untuk mundur dengan terhormat?

Sudah Tak Kerasan di Tempat Kerja: Resign atau Bertahan?
Header Diajeng Resign atau Bertahan. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Bagi sebagian orang, salah satu alasan bertahan di tempat kerja yang toxic adalah sesimpel karena mereka butuh uang dan ingin memaksimalkan berbagai benefit sebagai karyawan perusahaan.

Ya, memang betul, kita semua pada dasarnya butuh uang untuk bertahan hidup. Namun begitu, kita juga perlu pemenuhan kebutuhan emosional untuk dihargai dan dimanusiakan sebagai pekerja.

Ilmu psikologi menyebutkan bahwa manusia punya kebutuhan untuk dihargai, atau istilahnya Hierarchy of Needs yang dirumuskan oleh Abraham Maslow.

Termasuk di dalam kebutuhan hierarki ini adalah keinginan untuk diterima, dihormati, diakui, dan diberikan apresiasi atas kontribusi atau pencapaian diri, baik oleh diri sendiri maupun dari orang lain. Dalam konteks kerja, terpenuhinya poin-poin tersebut penting untuk menciptakan rasa nyaman saat bekerja.

Dengan diberi ruang yang nyaman, kita punya kesempatan untuk mengasah empati dengan sesama kolega, saling memberikan penghargaan, dan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan satu sama lain.

Kebutuhan untuk dihargai tidak bisa diremehkan karena berdampak langsung pada kesehatan mental. Maka tidak mengherankan, sebaik apa pun gaji yang diterima, beberapa orang akhirnya memutuskan mengundurkan diri ketika tak lagi merasa dihargai di tempat kerjanya.

Hal ini sering dipicu oleh kepemimpinan yang tidak kompeten, arogan, dan subjektif, yang mengabaikan nilai-nilai keadilan serta kontribusi tim.

Lingkungan kerja pun berubah menjadi tidak kondusif, penuh aturan tanpa makna, dan sarat kepentingan pribadi. Sebaliknya, tempat kerja dengan pemimpin yang objektif dan budaya yang sehat mampu menciptakan rasa nyaman, sehingga orang tetap bertahan meski kompensasi tidak selalu besar.

Seperti dialami Yessi (32), ia memilih keluar dari tempat kerjanya di sebuah perusahaan swasta di Jakarta, karena merasa atasannya tidak pernah menghargai atau mengucapkan terima kasih. Bahkan sekadar kata maaf singkat ketika telah menyakiti perasaannya.

"Daripada makan hati terus, ya mending gue resign saja. Karena setiap yang gue kerjain pasti salah di mata bos, ada aja kurangnya. Dia juga kalau gue chat, balasnya lama bisa berhari-hari, giliran gue udah kasih presentasi yang dibikin sampai gue gak tidur, tetap aja masih salah. Kalau kata-katanya enggak menyakiti hati, mungkin bisa dimaklumi, tapi yang keluar biasanya memang menyakitkan sih," ujar Yessi kepada Diajeng baru-baru ini.

Meski gaji yang diterimanya lumayan tinggi, akan tetapi Yessi hanya mampu bertahan dua tahun.

"Setelah lepas dari perusahaan itu, gue lebih lega, emosi gue sekarang juga lebih stabil. Tempat kerja yang sekarang memang gajinya enggak terlalu tinggi, tapi gue lebih nyaman dengan suasana dan orang-orangnya," ucap Yessi.

Berbeda dengan Lia (36) yang mengaku sudah bekerja hampir 11 tahun di kantornya saat ini yang berada di daerah Sleman. Menurutnya, kantor sudah dianggap sebagai rumah kedua baginya.

"Dari awal masuk di sini, lingkungan kerjanya nyaman, orang-orangnya juga enak, walaupun ada gesekan sedikit-sedikit, ya namanya kerja, kan, enggak mulus-mulus juga, tapi karena pihak manajemen bisa adil, jadi setiap ada konflik selalu bisa diselesaikan dengan baik. Intinya mereka bisa memanusiakan manusia," tutur Lia.

Bertahan atau Resign?

Lalu, bagaimana jika rasa tidak nyaman itu semakin kuat? Apa kita harus bertahan, atau memberanikan diri untuk resign?

Sebelum mengambil keputusan, ada beberapa hal yang bisa dipertimbangkan:

1. Bersyukur

Dalam konteks ini, bersyukur bukan berarti menoleransi lingkungan kerja yang buruk. Pada kasus tertentu, bersyukur membantu kita melihat situasi dengan lebih jernih. Apakah fase ini masih bisa diperbaiki? Ataukah memang sudah waktunya kita melangkah pergi?

Perlu diingat juga, di luar sana ada banyak orang yang membutuhkan pekerjaan dan fenomena PHK terjadi di mana-mana, sementara kamu masih bisa bekerja serta mendapatkan uang.

2. Kenali tanda lingkungan kerja yang tidak sehat (psychological safety)

Psych Safety di situsnya menjelaskan tentang perilaku yang merusak psychological safety, lingkungan kerja menjadi tidak aman ketika dipenuhi rasa takut, seperti intimidasi, atasan yang merespons buruk saat karyawan berbicara, suka mengambil kredit atas keberhasilan tim, hingga micro management yang berlebihan.

Kondisi seperti ini membuat orang cenderung diam, tidak berkembang, dan kehilangan rasa percaya diri dalam bekerja.

3. Ambil langkah jika merasa tidak aman atau tidak nyaman

Menurut laman Slater Gordon, jika kamu merasa tidak aman di tempat kerja, maka kamu tidak boleh diam saja.

Mulailah dengan bicara ke atasan atau HR, catat kejadian yang terjadi, serta kumpulkan bukti jika diperlukan. Jika situasi tidak membaik, ada opsi untuk melapor ke pihak yang kedudukannya lebih tinggi. Intinya, setiap pekerja berhak atas lingkungan kerja yang aman, baik secara fisik maupun psikologis.

Keputusan untuk bertahan atau resign perlu dilihat secara jernih dan realistis. Apabila ketidaknyamanan masih dalam batas wajar (ada ruang dialog, dan lingkungan kerja menunjukkan potensi untuk membaik), bertahan bisa jadi pilihan realistis.

Namun, jika rasa tidak dihargai terus berulang, kepemimpinan tidak sehat, dan tidak ada perubahan meski sudah diupayakan, maka itu menjadi sinyal kuat untuk mulai mempertimbangkan langkah keluar.

Sekilas, resign terkesan seperti bentuk pengakuan kalah atau menyerah. Namun, bagi yang sudah melalui asam-garam drama di dunia kerja, resign perlu dirayakan sebagai bentuk keberanian untuk menjaga nilai diri dan mencari lingkungan yang lebih sehat.

Setiap orang berhak bekerja di lingkungan yang menghargai kontribusinya, memberi rasa aman, dan mendukung pertumbuhan.

Simak juga artikel lainnya seputar profesi dan pekerjaan di sini.

Baca juga artikel terkait KARIER atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih