diajeng.id - Pada satu titik dalam hidup, sebagian dari kita mungkin pernah merasa enggan beranjak dari kasur sebangun tidur di pagi hari. Rasanya, dunia terlalu keras dan kejam untuk dihadapi.
Melirik smartphone untuk membalas pesan dari atasan saja rasanya bagaikan diminta untuk memindahkan gunung.
Kalau kamu pernah mengalami atau sedang berada di titik ini, pahamilah bahwa realitas tersebut valid, wajar, dan normal. Dengan mengalaminya, bukan berarti kita gagal sebagai manusia.
Menurut Mindful Health, perasaan tidak ingin melakukan apa pun ini bukan tanda bahwa kamu malas atau "rusak". Biasanya, keengganan untuk beraktivitas ini merupakan sinyal dari otak dan tubuh yang sedang kewalahan, stres, atau mengalami kelelahan emosional.
Secara biologis, ketika tekanan hidup menumpuk terlalu banyak dan lama, sistem saraf kita bisa masuk ke dalam apa yang disebut sebagai "respons beku" (freeze response).
Tubuh yang sedang ada di fase ini rasanya seperti terkunci; tubuh menolak bergerak meskipun kita tahu sebenarnya harus melakukan sesuatu.
Jadi, alih-alih menghakimi diri sendiri, coba kita lihat titik ini sebagai cara tubuh kita melindungi dirinya sendiri dari beban yang sudah berlebihan.
Langkah yang Perlu Dilakukan Saat Motivasi Hilang
Dinukil dari Verywell Mind, langkah pertama saat kita merasa demotivasi, adalah memeriksa kebutuhan dasar diri. Biasanya, demotivasi itu muncul karena, salah satunya, ada hal-hal fisik yang terabaikan.
Maka dari itu, coba tanyakan ke diri sendiri, apa kebutuhan minumku sudah tercukupi hari ini? Kapan terakhir kali aku makan makanan yang bergizi? Apa aku kurang tidur? Pertanyaan-pertanyaan ini setidaknya akan membuat kita paham tentang apa yang kurang kita dapatkan belakangan ini.
Solusi terbaik biasanya bukan memaksa diri untuk produktif, melainkan mengambil satu hari penuh untuk fokus pada pemulihan kesehatan mental (mental health day).
Pada situasi ini, kita boleh mengizinkan diri untuk bersantai di bawah selimut, membaca buku, atau sekadar tidur siang tanpa beban yang mengganjal.
Mempraktikkan welas kasih pada diri sendiri (self-compassion) dengan menerima bahwa hari ini kamu sedang tidak "oke" penting dilakukan untuk membantu menurunkan tingkat stres dan kecemasan secara signifikan.
Selanjutnya, apabila sudah merasa siap untuk bergerak sedikit, situs Priory Group menyarankan untuk memulai dengan langkah yang sangat kecil dan lambat. Jangan langsung membayangkan proyek besar yang melelahkan.
Keberhasilan menyelesaikan tugas-tugas kecil ini secara bertahap dapat membangun kembali kepercayaan diri dan memberikan sedikit dorongan energi untuk langkah berikutnya.
Selain itu, kamu juga bisa mencoba merencanakan sesuatu yang menyenangkan untuk melewati hari ini, seperti membuat janji ngopi di kafe dengan teman. Tujuannya untuk memberi otak sesuatu yang positif untuk dinanti-nantikan.
Sumber Terbesar Demotivasi
Seperti dijelaskan laman Thea Psychology, hambatan terbesar yang kita hadapi biasanya berasal dari "kritikus batin" diri sendiri.
Menunggu sampai perasaan "membaik" kemudian baru mulai "bergerak" malah cenderung tidak membuahkan hasil. Sebab, dalam kondisi tersebut, kita umumnya malah jadi tertekan jika perasaan membaik yang ditunggu-tunggu tersebut tak kunjung datang.
Maka, coba tanyakan, "Apa saja yang hal yang bisa mendukungku saat ini?"
Dengan melakukan tindakan "sepele" yang penuh kasih sayang, seperti mencuci muka atau keluar rumah sebentar untuk mencari udara segar, kamu sebenarnya sedang mengirim sinyal ke sistem saraf bahwa dirimu merasa aman, yang perlahan-lahan akan menghidupkan kembali gairah hidupmu.
Tanda Waspada Demotivasi
Namun, kita juga harus tetap waspada terhadap diri sendiri.
Meskipun merasa "tidak ingin melakukan apa-apa" adalah bagian normal dari ritme hidup, kondisi ini perlu diperhatikan lebih serius jika menetap selama waktu yang lama atau sampai berminggu-minggu dan berbulan-bulan.
Dilansir Healthline, perasaan demotivasi yang persisten bisa jadi indikasi depresi jika disertai dengan gejala lain, seperti mood atau suasana hati yang terus-menerus rendah, hilangnya minat total pada hal-hal yang biasanya kamu sukai, perubahan drastis pada pola makan atau tidur, serta munculnya perasaan putus asa, tidak berharga, atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri.
Apabila tanda-tanda di atas muncul, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional dari psikolog atau dokter.
Artikel menarik lainnya juga bisa dibaca di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih