diajeng.id - Bagi sebagian orang, rutinitas melakukan perawatan kulit dengan skincare mungkin masih dianggap sebatas cara untuk bisa membuat penampilan fisik jadi menarik dan lebih terawat.
Padahal, perawatan kulit yang baik dapat berkorelasi dengan kesehatan dan kesejahteraan mental. Demikian ditegaskan dalam rangkaian riset terbaru dari bidang psikodermatologi—ilmu yang mempelajari hubungan antara pikiran, kulit, dan kesehatan secara keseluruhan.
Dalam laman Psychology Today disebutkan, penelitian psikodermatologi tersebut mengkaji bagaimana kesehatan mikrobioma usus, kondisi kulit, serta kesehatan mental saling terhubung satu sama lain dalam poros usus-kulit-otak (gut-skin-brain axis).
Dalam suatu studi bahkan dijelaskan bagaimana pasien psoriasis membutuhkan 40 persen lebih sedikit perawatan saat menggabungkan pengobatan medis dan praktik meditasi.
Dampak Psikologis dari Kondisi Kulit
Kesehatan kulit yang terganggu bukan hanya masalah fisik, tetapi juga beban mental yang berat. Padahal, kulit adalah organ yang paling terlihat. Masalah pada kulit pun sering memicu rasa tidak percaya diri yang ekstrem.
Berdasarkan survei terhadap penderita rosacea (peradangan kulit kronis), baik perempuan atau laki-laki, seperti dinukil situs Specialist in Dermatology, dilaporkan terjadi dampak yang sangat signifikan terhadap kesehatan mental orang yang menderita penyakit ini, yaitu:
- 90 persen melaporkan mengalami penurunan harga diri (self-esteem)
- 54 persen mengaku merasa cemas dan tidak berdaya
- Lebih dari 50 persen menghindar untuk melakukan tatap muka dengan orang lain
- 43 persen mengalami depresi.
Skincare sebagai Ritual Penenang Jiwa
Dalam konteks inilah, rutinitas perawatan kulit atau skincare menjadi upaya yang penting untuk menjaga kesehatan kulit serta kesehatan mental.
Dengan merawat kulit, kita merasa memiliki sense of control atau rasa kendali di tengah ketidakpastiaan hidup. Misalnya, ketika kita punya waktu untuk membersihkan atau memijat wajah dengan pelembap, tubuh akan memicu pelepasan zat kimia yang meningkatkan suasana hati, seperti oksitosin dan dopamin.
Selain itu, pengalaman sensorik dari produk skincare, seperti wangi minyak esensial yang menenangkan dan tekstur produk yang lembut, dapat membantu pikiran menjadi lebih relaks dan mendorong praktik mindfulness.
Sesimpel mengantisipasi rutinitas perawatan kulit yang menenangkan di malam hari saja sudah cukup untuk membantu meredakan stres setelah seharian beraktivitas.
Manfaat Biologis Produk terhadap Mental
Penggunaan produk yang tepat juga memberikan dampak langsung pada poros usus-kulit-otak. Bahan-bahan seperti niacinamide, ceramide, dan antioksidan membantu memperkuat skin barrier.
Skin barrier yang sehat mencegah masuknya patogen berbahaya yang bisa memicu peradangan sistemik yang memengaruhi otak.
Bahkan, produk topikal yang mengandung probiotik dan prebiotik kini mulai diteliti karena kemampuannya menjaga keseimbangan mikrobioma kulit, yang secara tidak langsung memberikan sinyal positif ke sistem saraf pusat.
Perawatan Diri Didasari Kebutuhan, Bukan FOMO
Meski skincare dapat menjadi bagian dari upaya merawat kesehatan mental, Mental Health Activist Sasya Sava mengingatkan bahwa self-care sebaiknya tetap berangkat dari kebutuhan, alih-alih rasa ketertinggalan atau hasrat untuk berbelanja semata.
"Merawat diri itu sebuah kebutuhan. Jadi, balik lagi cobalah untuk mencari sesuatu yang memang sesuai dengan kebutuhan kita. Jangan sampai kita membeli sesuatu hanya karena FOMO (Fear of Missing Out) atau karena merasa tertinggal atau karena merasa tidak cukup dengan apa yang sudah kita punya," ujar Sasya saat diwawancarai Diajeng dalam sesi peluncuran Lightplus by Wardah di Urban Forest Cipete, Jakarta Selatan pada 17 Juli 2026.
"Balik lagi, kenalin lagi kulitnya, kenalin lagi kebutuhannya seperti apa. Kalau aku sekarang karena in this ekonomi, aku berusaha untuk manage uang aku dengan sebaik-baiknya karena semua harga makin naik ya. Tapi jujur aku selalu beli sesuatu yang sudah mau habis, baru aku beli, caranya seperti itu," terang Sasya.
Sasya pun menyarankan untuk mengecek kembali apakah produk sejenis masih tersedia sebelum memutuskan berbelanja.
"Misalnya contoh moisturizer, kalau punya dua masih oke. Punya enam, agak bingung. Kalau bukan content creator rasanya kayak buang uang. Karena apa? Ada expired date. Sayang kita sudah ngeluarin uang tapi itu enggak berguna," tukas Sasya.
Artikel lainnya seputar kesehatan mental juga bisa dibaca di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih