diajeng.id - Setiap tahun, menjelang bulan suci Ramadan dan perayaan Idulfitri, ruang-ruang pemberitaan serta lini masa media sosial kita selalu dipenuhi oleh berbagai pembahasan tentang tren pakaian terbaru.
Misalnya, pada tahun ini, yang diprediksi populer ada tunik teal blue dengan aksen drapery, hingga setelan putih dengan sentuhan modern.
Model, warna, hingga potongan busana silih berganti menjadi perbincangan, seolah-olah menandai bahwa momen hari raya bukan hanya tentang ibadah dan silaturahmi, tetapi juga tentang bagaimana kita mengekspresikan diri melalui fesyen.
Lalu, pernahkah kalian bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang menentukan tren baju lebaran tahun itu?
Ridho menyatakan bahwa selera warna dan gaya pakaian Lebaran berbeda antar wilayah.
"Kalau di beberapa kota besar, mereka sekarang ingin lebih tuning down the color (menurunkan saturasi warna)-nya, kalau di daerah lain Lebaran harus pop-up (warna yang menyala dan terang)," jelas Ridho dikutip Antaranews.
Ridho mencontohkan bahwa penduduk di Pulau Jawa umumnya menyukai warna lembut, sementara di wilayah seperti Sumatera dan Kalimantan lebih ingin memakai warna-warna berani.
"Kalau di luar kota itu mereka senang yang lebih terang. Kalau ditarik rata-rata, biasanya di luar Jawa itu lebih senang produk yang pop up atau berwarna terang," tambah Ridho.
Selain itu, busana berpotongan longgar atau oversized diprediksi akan menjadi salah satu pilihan favorit masyarakat. Ridho juga menambahkan bahwa minat terhadap busana modest di Indonesia terus menunjukkan peningkatan.
Bahkan, perkembangan industri ini mulai menarik perhatian negara-negara tetangga, salah satunya Malaysia, yang tertarik memasarkan produk modest fashion asal Indonesia.
Menukil ABC News, tren fesyen sebenarnya tidak pernah benar-benar lahir dari satu pihak saja. Jika dulu rumah mode besar dan jenama kelas atas menjadi penentu utama arah gaya global, kini pihak yang terlibat semakin banyak.
"Kita sekarang berada pada titik di mana tren mikro menjadi fenomena yang begitu cepat sehingga segala sesuatu datang dan pergi dengan sangat cepat," ucap jurnalis mode Glynis Traill-Nash.
Tren, kata Nash, juga bersifat siklikal dan dinamis, gaya dari dekade-dekade lampau kerap kembali hadir dengan sentuhan baru, dipengaruhi nostalgia sekaligus reinterpretasi modern.
Namun, yang membedakan era sekarang adalah kecepatannya.
Berkat media sosial dan industri fast fashion, sebuah gaya bisa menjadi viral dalam hitungan hari, menyebar ke berbagai belahan dunia, dan menjangkau hampir semua lapisan masyarakat.
"Sesuatu akan menjadi viral di TikTok, dan kemudian semua orang ingin memilikinya, dan karena itu fast fashion merespons," tutur Nash.
Masih melansir ABC, dengan kata lain, tren fesyen hari ini tidak lagi bergerak satu arah dari atas ke bawah, melainkan terbentuk melalui percakapan kolektif antara desainer, industri, kreator digital, dan konsumen itu sendiri.
Fenomena ini juga tidak hanya terjadi di negara-negara Eropa dan Amerika Utara. Di berbagai negara Asia, para desainer turut menghidupkan kembali busana tradisional dengan pendekatan modern.
Siluet khas seperti cheongsam yang dikenakan perempuan Tionghoa, hanbok Korea, sari India, hingga kimono Jepang diinterpretasikan ulang melalui pilihan kain, warna, dan detail kontemporer, tanpa meninggalkan akar budayanya.
Perpaduan antara tradisi dan inovasi ini menunjukkan bahwa tren fesyen global kini semakin beragam, sekaligus mencerminkan tumbuhnya apresiasi konsumen terhadap identitas budaya mereka sendiri.
Tren fashion memang bersifat dinamis, simak artikel seputar fesyen di sini.
Editor: Sekar Kinasih