Menuju konten utama

Cari Jodoh di Era Aplikasi Kencan: Masihkah Ada Harapan?

Industri aplikasi kencan semakin kreatif dan inovatif. Terbaru, aplikasi Surf memungkinkan penggemar gym untuk kencan sambil olahraga bersama. 

Cari Jodoh di Era Aplikasi Kencan: Masihkah Ada Harapan?
Ilustrasi Dating App. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Tidak semua orang seberuntung Dua Lipa, yang bertemu jodohnya saat sedang membaca buku.

Di era modern yang menuntut kita menjadi serbacepat di berbagai lini kehidupan, cari jodoh masih jadi perkara yang perlu pertimbangan matang, dan tentu saja tidak bisa diburu-buru.

Teknologi kini ikut andil memberikan alternatif-alternatif baru untuk menemukan pasangan lewat aplikasi kencan.

Statistik global menunjukkan sebanyak 364 juta orang yang mempergunakan aplikasi kencan, atau kira-kira 6,25 persen dari populasi manusia di seluruh dunia.

Tingginya pengguna aplikasi kencan menunjukkan pergeseran pada cara orang-orang menjalani percintaan di masa kini.

Aplikasi kencan membuka kemungkinan untuk bertemu lebih banyak orang daripada berkencan di dunia nyata.

Menurut temuan Pew Research Center pada 2020 lalu, sebanyak 57 persen responden pengguna aplikasi kencan menganggap cari jodoh secara daring merupakan pengalaman yang positif alias menyenangkan, sedangkan 43 persen sisanya mengaku pengalamannya negatif.

Mayoritas responden juga merasa lebih mudah untuk menemukan orang-orang yang berpenampilan atraktif, berbagi hobi dan minat, terlihat seperi sosok yang ingin ditemui secara langsung, dan sama-sama mencari relasi serupa, di aplikasi kencan.

Dengan adanya fitur percakapan, kita bisa mencoba mengobrol terlebih dahulu dengan sosok yang tertarik ditemui. Kesempatan ini dapat memberikan kenyamanan sekaligus mengurangi kegelisahan yang mungkin muncul sebelum bertemu secara langsung .

Jika dulu kita cukup sering tentang aplikasi Tinder, sekarang mulai ada lebih banyak yang targetnya spesifik.

Misalnya, Surf. Aplikasi kencan berbasis di Amerika Serikat yang baru-baru mendulang popularitas ini membantu mempertemukan orang-orang yang hobi berolahraga.

Melalui Surf, penggemar gym bisa saling mengenal sambil olahraga bersama. Jika pun percikan asmara yang diharapkan tidak terwujud, setidaknya masing-masing pengguna aplikasi sudah sempat melakukan aktivitas produktif untuk diri sendiri dalam konteks olahraga—begitu salah satu guyonan yang kerap muncul di sana.

Kalau mencari pasangan seiman, terdapat pula Muzz, aplikasi romansa berbasis di Inggris khusus Muslim. Aplikasi ini tidak lagi menargetkan hubungan yang berhenti pada tahap kencan, tetapi berorientasi sampai pernikahan.

Lalu, terdapat SeniorMatch, aplikasi khusus bagi para pencari jodoh yang memiliki umur di atas 50 tahun. SeniorMatch menuai pujian sebagai aplikasi terbaik bagi para lansia dari sisi keamanan untuk pengguna.

Relasi-Relasi yang Tumbuh dari Aplikasi Kencan

“Aku pakai [dating app] pure karena iseng dan pengen tahu aja sih [...] Soalnya aku ngeliat teman-teman aku dari kampus lain, sama teman online pada banyak yang pakai itu, and they have some of the funniest experiences gitu chat sama orang-orang,” cerita Bintang (20) tentang awal mulanya mencoba aplikasi kencan.

Alih-alih mencari hubungan romansa, Bintang justru mempergunakan aplikasinya untuk bertemu lebih banyak teman baru.

Bintang tidak menganggap hubungan yang dibangun lewat aplikasi kencan sebagai hubungan yang serius. Dia juga tidak begitu sering mengadakan pertemuan langsung dengan orang yang dikenalnya lewat aplikasi.

Meski begitu, Bintang merasa pengalamannya cukup menyenangkan. Lewat aplikasi, ia bisa mengobrol dengan banyak orang tentang hobi, lagu, dan ketertarikan masing-masing.

Serupa dengan Bintang, Kayla (23) berakhir menjalin hubungan pertemanan dengan partner kencannya.

Kayla malah sempat berjalan-jalan bersama teman yang ditemuinya dari aplikasi kencan bersamaan dengan pacar temannya.

Selama ini, Kayla merasa hubungan yang didapatkan dari aplikasi tidak memiliki kedalaman emosional. Sulit ternyata untuk mendapatkan rasa keterhubungan dengan orang-orang yang ditemuinya dari sana.

Yang didambakan Kayla justru relasi yang tulus dan genuine, tidak hanya di luar, tetapi sampai ke dalam hati.

Sekarang, Kayla sudah berhenti memakai aplikasi kencan karena memutuskan ingin lebih fokus mengeksplorasi relasi baru yang lebih menyentuh hati dan membantunya berkembang menjadi versi diri lebih baik lagi.

Di sisi lain, Adel (24) mengalami pasang-surut dalam eksplorasinya memanfaatkan aplikasi kencan.

Kadang-kadang, aplikasi kencan memungkinkannya untuk bertemu orang baru yang bisa jadi teman bicara menyenangkan.

Namun, Adel juga sering kali harus menghadapi peristiwa tidak mengenakkan. Misalnya, bertemu dengan orang yang menjerumuskan pembicaraan ke arah tidak senonoh.

Saat ini Adel tidak lagi memakai aplikasi kencan. Biar pun begitu, Adel berharap bisa bertemu dengan orang lain yang lebih klik secara langsung di keseharian nyata.

The Dating App Fatigue

Aplikasi kencan memang membuka lebih banyak peluang untuk bertemu orang-orang baru. Pada waktu sama, kita perlu memanfaatkannya dengan waspada dan bijaksana.

Pemakaian aplikasi yang terlalu berlebihan berisiko menimbulkan kegelisahan. Begitu banyak dan beragam pilihan untuk menjalin hubungan baru, kita rentan mengalami emosional.

Kecenderungan merasa lebih kesepian karena frustasi juga rentan terjadi lantaran kita belum juga berjumpa dengan sosok “the one” di aplikasi.

Survei yang dilakukan Forbes pada 2025 menemukan 80 persen perempuan lebih mudah merasa burnout gara-gara aplikasi kencan, lebih tinggi daripada laki-laki (74 persen).

Apabila hubungannya gagal, risiko kelelahan yang dialami perempuan akan lebih tinggi karena mereka memerlukan waktu lebih lama untuk memulihkan diri.

Tentu, tidak ada yang perlu ditakutkan dari keputusan mencari jodoh lewat aplikasi kencan. Hubungan-hubungan yang dibangun tetap bisa terasa asli dan bermakna, meski tidak semua berlanjut ke romansa pasti.

Yang penting, jangan sampai mengabaikan dirimu sendiri dalam upaya mengeksplorasi hubungan baru. Carilah sosok yang kamu dambakan dengan cara-cara yang kamu rasa nyaman, baik lewat aplikasi maupun lewat jaringan pertemanan, dan jalani prosesnya dengan hati terbuka.

Baca juga artikel terkait RELASI atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih