diajeng.id - Mengunduh dating app atau aplikasi kencan sering kali terasa seperti membuka pintu ke dunia penuh peluang: ada harapan, rasa penasaran, dan mungkin sedikit eforia.
Namun kenyataannya, tak semua berjalan mulus dan berujung bahagia, ada kisah lucu, sedih, dan pahit yang dialami. Realitas yang kadang getir itu membuat penggunanya perlu tetap waspada.
Lantas, bagaimana rasanya ketika harapan di dating app justru berujung pada kekecewaan?
Tess, seorang perempuan asal New Zealand pernah mencoba dating app dan membagikan kisah pahitnya di laman Capsulenz.
Tess baru saja pulang dari sebuah pesta lajang yang ramai. Malam itu, ia menjadi satu-satunya perempuan lajang dan ini tentu saja membuatnya merasa sedikit canggung, bahkan perasaannya menjadi rapuh.
Setelah meneguk beberapa gelas minuman, ia lalu membuka ponselnya. Di sana, ada seorang laki-laki yang sudah beberapa minggu ia ajak bertukar pesan.
Jadi malam itu, dengan hati yang hanya ingin merasa “dilihat” untuk sesaat, Tess memutuskan untuk menemuinya dan pulang bersama lelaki itu.
“Keesokan harinya, ketika tersadar, aku tahu laki-laki itu agak aneh, jadi aku kirim pesan ke dia kalau aku tidak tertarik melanjutkan hubungan dan mendoakan yang terbaik untuknya. Kupikir semua selesai di situ,” terang Tess.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Tess dihujani dengan berbagai pesan yang masuk langsung ke nomor ponselnya.
Tak hanya itu, laki-laki tersebut kembali mengirim pesan lewat aplikasi kencan, lalu menemukannya di Snapchat dan membombardir dengan foto-foto telanjangnya.
Seakan belum cukup, ia melacak teman Tess, mencari nama belakangnya, lalu mencoba menambahkannya di Instagram dan Facebook.
“Dia bilang, dia tahu tempat tinggalku," kenang Tess. "Jadi aku langsung pergi ke polisi untuk menyampaikan informasi ini dan kekhawatiranku."
Beruntung, laporan itu ditindaklanjuti. Laki-laki tersebut mendapat peringatan keras dan ancaman ditahan jika berani menghubungi Tess lagi.
Bagi Tess, pengalaman ini begitu mengguncang karena merupakan pertama kalinya ia benar-benar dikuntit. Ia menyesal pernah memberikan nomor telepon asli kepada teman kencan.
Sayangnya, ini bukan satu-satunya pertemuan buruk Tess di aplikasi kencan.
Tess pernah ditipu oleh seorang laki-laki yang, belum 10 menit berkencan, sudah menghina tentang karier suksesnya.
Seusai kencan, laki-laki itu membombardir Tess dengan pesan-pesan jahat, termasuk menyebutnya "perempuan gendut jelek yang pantas melajang selamanya".
Tess menyebutkan, laki-laki tersebut mungkin kirim pesan dengan komentar jahat sebanyak 30-40 kali dalam waktu satu jam. Tess kemudian melaporkannya ke aplikasi.
"Sayangnya, pesan-pesan itu sudah lebih dulu menghantam harga diriku," kata Tess.
Lain lagi pengalaman perempuan pengguna dating app dengan nama akun @cosmonautpuglifeo.
Dalam pengalaman yang dibagikan di Buzzfeed tersebut, perempuan ini bercerita tentang kencan pertamanya di sebuah bar lokal dengan seorang laki-laki.
Awalnya, semua berjalan lancar. Obrolan mengalir, tawa sesekali pecah, dan bahkan seorang pengunjung sempat berkomentar bahwa mereka kelihatan seperti pasangan yang serasi. Bartender pun sampai terkejut ketika tahu itu baru pertemuan pertama mereka.
Lebih buruk lagi, lanjutnya, si laki-laki mendesak agar keputusan segera dibuat sebab dia ternyata sudah punya "daftar" calon pasangan yang mengantre.
Selain itu, mungkin kita sudah cukup kenyang mendengar berita-berita tentang bagaimana aplikasi kencan menjadi ladang bagi orang-orang jahat untuk menipu.
Awal tahun ini, Polsek Metro Gambir menangkap komplotan love scam oleh jaringan pelaku internasional di Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Mereka kemudian menjalin hubungan emosional dengan perempuan-perempuan yang memiliki profesi bergengsi seperti pengacara dan dokter.
Setelahnya, mereka mengajak perempuan-perempuan tersebut berinvestasi di situs palsu dengan janji keuntungan hingga 45 persen.
Pengalaman beberapa perempuan di atas menunjukkan bahwa terdapat sisi gelap dunia dating app, meskipun tidak semuanya berakhir menyedihkan.
Satu hal yang sama: bahwa di balik layar ponsel, kita tak pernah benar-benar tahu siapa yang ada di balik sebuah profil.
Harapan bisa berubah jadi luka, dan percakapan manis bisa berganti menjadi ancaman.
Pertanyaannya, mengapa hal-hal semacam ini bisa begitu mudah terjadi di ruang kencan virtual?
Mengapa Bisa Terjadi Realitas Pahit di Dunia Dating App?
Dikutip NPR melalui obrolan para pakar, dating app pada intinya tidak benar-benar membantu orang untuk menemukan pasangan.
Menurut mereka, aplikasi-aplikasi ini justru punya insentif untuk membuat penggunanya tetap berada di dalam lingkaran swipe, chat, lalu kecewa. Mengapa? Karena di situlah keuntungan dating app bertahan.
1. Model bisnisnya
Dating app sebenarnya punya insentif agar orang tetap menjadi jomblo. Tujuannya tak lain agar pengguna tetap memanfaatkan aplikasi, bukan cepat-cepat menemukan pasangan sehingga aplikasinya ditinggalkan."Aku sudah habiskan banyak waktu untuk bekerja dengan orang-orang lajang yang telah menyalurkan energi dan uang mereka ke dalam aplikasi kencan selama bertahun-tahun. Dan ini bukan hal yang benar: di satu sisi ada rasa malu sebagai lajang, di sisi lain industri kencan mengeruk uang," kata Shani Silver, penulis buku A Single Revolution: Don't Look For A Match. Light One (2021) pada NPR.
2. Dampak psikologis Adanya kondisi yang pernah dialami di dunia nyata, seperti pelecehan, tekanan harga diri, hingga rasa frustasi pengguna.
Alih-alih membuat jadi lebih baik, interaksi di dating app yang menjadi serba instan, anonimitas membuka ruang untuk pelecehan, dan banyak orang akhirnya merasa harga dirinya terguncang.
4. Krisis industri
Valuasi turun, pengguna semakin skeptis, perusahaan mencoba strategi baru (bahkan AI untuk “mengatur kencan”) yang justru terasa makin jauh dari tujuan aslinya: koneksi manusia."Aplikasi kencan seharusnya membantu orang untuk menemukan koneksi. Namun dating app terus-menerus menawarkan janji-janji baru tentang bagaimana seorang jomblo akan menemukan pasangan, ini yang sulit dipahami. Saat ini, pendiri Bumble sedang membicarakan tentang penggunaan profil AI atau bot untuk berkencan agar pengguna tidak perlu menghabiskan banyak waktu di aplikasi ini, cukup bayar perusahaan untuk berkencan secara artifisial dan biarkan mereka yang memutuskan. Namun, aku khawatir bagaimana kencan AI hanya akan membuat situasi ini semakin buruk," jelas pembawa acara di sesi diskusi NPR, Brittany Luse.
Selain itu, dirangkum dari artikel lainnya oleh NPR, ada pula beberapa hal yang perlu kita waspadai dalam kemudahan berkencan melalui teknologi aplikasi digital, seperti:
- Dating app memberi banyak pilihan yang melelahkan
Ada banyak profil yang bisa digeser-geser tanpa henti.Ironisnya, semakin banyak pilihan, semakin sulit untuk memilih dengan yakin.
Banyak pengguna merasa lelah dalam proses yang tampak seperti memilih barang di katalog, dan seringkali berhenti karena jenuh, bukan karena sudah menemukan yang cocok.
- Pengikisan komitmen
Dengan begitu mudahnya membatalkan percakapan atau swipe ke profil lain, komitmen dalam hubungan jadi terasa “opsional”.Apabila satu pesan tidak terlihat menarik, pengguna bisa langsung berpindah ke orang lain. Ini membuat hubungan dan komunikasi menjadi rapuh.
Pendeknya, tidak ada jaminan pasti orang untuk bertahan meskipun ada konflik atau ketidaknyamanan di awal.
- Distorsi ekspektasi vs realitas Banyak pengguna memiliki ekspektasi romantis karena iklan pemasaran yang menggoda dari aplikasi.
Ketika kenyataan tak seindah idealisme, obrolan mengalami kebuntuan sampai terjadi ghosting, perasaan kecewa menjadi hal biasa.
- Pengaruh psikologis & kecemasan sosial Semua fitur “lihat siapa yang menyukaimu,” “match dalam hitungan detik,” “notifikasi tak henti-henti,” mendorong pengguna untuk mengonsumsi aplikasi layaknya media sosial, yang terus-menerus meminta validasi eksternal.
Hal ini bisa mengikis harga diri, memicu kecemasan terhadap citra diri, dan menambah tekanan untuk terus tampil menjadi yang terbaik.
Dunia dating app dan kencan online memang memiliki kontradiksi, alat yang bisa jadi jembatan menuju cinta, tapi bisa juga jadi pintu masuk ke drama.
Realitasnya tetap sama: berkencan memang tidak pernah sederhana.
Teknologi membuat kita bisa bertemu lebih banyak orang, tetapi itu juga berarti lebih banyak kemungkinan kecewa.
Jadi, kalau kamu masih mencari, semoga percobaan dating app berikutnya bisa membawa pada sesuatu yang benar-benar berarti.
Kamu juga bisa membaca tulisan terkait kencan online lainnya di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih