diajeng.id - Video anak-anak yang menampilkan rutinitas skincare tengah menjadi sorotan dalam ingar-bingar semesta konten media sosial yang cepat berubah dan haus akan keviralan.
Dalam laporan investigatif pada bulan April lalu, The Guardian menemukan bahwa dari 7.600 video TikTok mengenai skincare, 400 di antaranya merupakan video anak usia di bawah 13 tahun. Dari sekian banyak video, terdapat sekitar 90 konten yang berisi balita, termasuk bayi.
Konten dikemas selayaknya video rutinitas skincare orang dewasa pada umumnya. Anak-anak merekam dirinya di depan kamera sambil menunjukkan beragam produk yang dipakai. Orang tuanya beberapa kali muncul di video untuk membantu mengaplikasikan serangkaian skincare ke wajah anaknya.
Produk yang dipakai adalah skincare yang lazim dipakai orang dewasa. Mulai dari toner, moisturizer, bahkan serum, lengkap dipergunakan anak-anak ini dalam rutinitas mereka.
Di usia mereka yang masih muda, pemakaian produk dengan bahan-bahan aktif ini berisiko meningkatkan iritasi kulit.
Salah satu video bahkan menunjukkan seorang anak mengalami reaksi memerah pada wajahnya setelah memakai skincare. Namun begitu, video serupa masih kerap bermunculan.
Ritel kosmetik yang diperuntukkan bagi perempuan dewasa, seperti Sephora, kini juga didatangi oleh anak-anak kecil yang ingin membeli skincare yang dilihatnya dari media sosial.
Melansir liputan The Guardian pada September 2025 lalu, sejumlah pegawai toko mengaku gelisah menyaksikan anak-anak berperilaku tidak sesuai usianya.
Mereka menjelajahi toko untuk mencari produk untuk mengatasi permasalahan wajah yang sebenarnya tidak ada. Beberapa anak bahkan terlihat tidak didampingi oleh orang tua. Jika pun ditemani oleh orang tua, mereka sering kali tidak memerhatikan produk pilihan anak.
Cosmeticorexia: Obsesi Terlihat Sempurna
Popularitas skincare di kalangan anak-anak kecil mustahil dipisahkan dari cosmeticorexia atau atau dermorexia, suatu obsesi terhadap upaya memperoleh kulit yang dianggap "sempurna".
Dikutip dari artikel berjudul “Cosmeticorexia: What It Is, Where It Comes from, and Why It Matters” di jurnal Dermatology and Therapy (2026), obsesi ini dibentuk dan diperkuat oleh standar kecantikan di masyarakat, sehingga kita terdorong untuk menggunakan produk skincare atau menjalani prosedur kosmetik secara berlebihan, kompulsif, bahkan pada usia yang belum semestinya.
"Industri skincare telah lama membidik perempuan berusia 30-an dan 40-an dengan membangun anggapan bahwa penuaan adalah sesuatu yang harus dilawan, kemudian menjual berbagai produk sebagai solusi,” ungkap dosen dan peneliti media sosial dari Cornell University, Brooke Erin Duffy, pada BBC bulan Juni lalu.
"Namun, terjadi pergeseran. Sekarang, anak perempuan kecil berada di bawah tekanan yang sama,” lanjut Duffy.
Industri kosmetik dan tren yang menyertainya berkembang di tengah fase transisi dan eksplorasi identitas yang dialami anak-anak. Tidak heran jika kepercayaan diri anak kemudian jadi salah satu titik masuk dalam pemasaran produk kecantikan.
Bahaya dan Risiko Skincare pada Anak Kecil
Mengingat usianya, kulit anak-anak biasanya memiliki reaktivitas yang lebih tinggi daripada orang dewasa. Dengan banyaknya kandungan aktif yang terdapat dalam skincare, penggunaannya menjadi berbahaya untuk anak-anak.
Produk anti-aging dan exfoliator masing-masing mengandung retinol dan asam hidroksi yang dapat memunculkan reaksi eksim. Bagi anak-anak yang kulitnya sensitif, risiko iritasi meningkat.
Ftalat umumnya berasal dari bahan skincare maupun kemasan yang membungkus produknya. Senyawa kimia ini dapat mengganggu kinerja dari endokrin, kelenjar tubuh yang berfungsi dalam produksi hormon.
Ketika kadar ftalat dalam tubuh meningkat, produksi hormon jadi rentan terganggu. Selain itu, terpaparnya anak-anak pada senyawa ini meningkatkan risiko penyakit reproduktif, gangguan metabolik, dan gangguan saraf.
Kondisi psikologis anak-anak juga jadi aspek yang paling tidak diuntungkan dari fenomena cosmeticorexia. Bersama tren ini, tersisip kegelisahan berlebih untuk memiliki penampilan sempurna.
Risiko stres pada anak cenderung meningkat lantaran asumsi bahwa penampilan mereka tidak sesuai harapan dan standar yang beredar di media sosial. Bukan tidak mungkin, semakin banyak anak sungkan berangkat sekolah karena terlalu banyak membandingkan dirinya sendiri dengan sosok yang dilihatnya di media sosial.
Penggunaan skincare pada remaja dan kelompok usia lebih muda sesungguhnya tidak selalu buruk sepanjang disesuaikan dengan usia dan kebutuhan kulit masing-masing.
Di antara berbagai produk perawatan kulit, sunscreen atau tabir surya umumnya dipandang sebagai salah satu yang paling esensial karena membantu melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Sementara itu, penggunaan produk lain dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan, alih-alih sekadar mengikuti tren.
Editor: Sekar Kinasih