Menuju konten utama

Beauty Is Pain: Benarkah Cantik Harus Rela Menahan Sakit?

Apakah benar cantik harus selalu disertai rasa sakit? Pahami makna, arti, dan sejarah tentang ungkapan dari beauty is pain di artikel ini.

Beauty Is Pain: Benarkah Cantik Harus Rela Menahan Sakit?
Kolase beauty is pain. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Pernahkah kamu rela memakai sepatu hak tinggi meski kaki terasa nyeri, menjalani waxing yang perih, atau melakukan perawatan kecantikan yang membuat kulit tidak nyaman demi mendapatkan penampilan yang diinginkan?

Pengalaman tersebut mungkin terasa familiar, terutama ketika mendengar ungkapan beauty is pain.

Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan perjuangan seseorang dalam mencapai standar kecantikan tertentu. Namun, apakah benar cantik harus selalu disertai rasa sakit? Untuk memahami maknanya, kenali arti, sejarah, dan kaitannya dengan istilah beauty is scary lewat artikel berikut ini.

Apa Arti Beauty Is Pain?

Secara sederhana, beauty is pain berarti "cantik itu sakit". Ungkapan ini menggambarkan anggapan bahwa seseorang terkadang harus rela mengalami rasa tidak nyaman, bahkan sakit, demi mendapatkan penampilan yang dianggap lebih menarik.

Dengan kata lain, beauty is pain adalah ungkapan populer yang menghubungkan kecantikan dengan pengorbanan. Contohnya bisa ditemukan dalam penggunaan sepatu hak tinggi yang membuat kaki pegal, waxing yang terasa perih, hingga prosedur kecantikan tertentu yang membutuhkan masa pemulihan.

Menurut The Dictionary of Modern Proverbs karya Charles Clay Doyle, Wolfgang Mieder, dan Fred R. Shapiro, ungkapan ini merujuk pada anggapan bahwa memperoleh dan mempertahankan kecantikan fisik, khususnya bagi perempuan, membutuhkan kesediaan untuk menahan rasa sakit.

Meski demikian, arti beauty tidak semata-mata berkaitan dengan penampilan fisik. Kecantikan juga dapat mencakup kepercayaan diri, kepribadian, dan cara seseorang menghargai dirinya sendiri. Jadi, bukan berarti seseorang harus menyakiti diri demi terlihat cantik.

Asal-Usul dan Sejarah Istilah Beauty Is Pain

Ungkapan bahwa kecantikan membutuhkan pengorbanan sudah dikenal sejak lama. Salah satu ungkapan yang memiliki makna serupa berasal dari bahasa Prancis, yaitu il faut souffrir pour être belle, yang berarti seseorang harus menderita untuk menjadi cantik.

Sejarah juga mencatat berbagai praktik kecantikan yang menyakitkan. Di China, misalnya, tradisi foot binding dilakukan untuk membentuk kaki perempuan menjadi lebih kecil sesuai standar kecantikan pada masanya. Praktik ini melibatkan pengikatan kaki secara ketat hingga mengubah bentuk tulangnya.

Selain itu, penggunaan korset ketat pada era Victoria bertujuan membentuk siluet pinggang yang lebih ramping. Namun, pemakaian yang terlalu ketat dapat mengganggu pernapasan dan menyebabkan ketidaknyamanan.

Dalam novelisasi film Grease (1978), ungkapan beauty is pain juga muncul dalam dialog karakter Frenchy. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa istilah tersebut telah dikenal dalam budaya populer sejak beberapa dekade lalu.

Kini, konsep tersebut masih sering dikaitkan dengan waxing, penggunaan high heels, perawatan kulit, hingga prosedur estetika. Namun, semakin banyak orang mulai mempertanyakan apakah standar kecantikan memang harus dibayar dengan rasa sakit.

Memahami Beauty Is Pain dan Beauty Is Scary

Selain beauty is pain, istilah beauty is scary juga terkadang digunakan dalam pembahasan standar kecantikan. Jadi jika diterjemahkan, frasa ini berarti "kecantikan itu menakutkan".

Berbeda dari beauty is pain yang menyoroti rasa sakit atau pengorbanan demi penampilan, beauty is scary dapat digunakan untuk menggambarkan sisi menakutkan dari obsesi terhadap kecantikan. Misalnya, ketika seseorang merasa harus terus mengubah penampilannya agar sesuai dengan standar yang berkembang.

Fenomena ini dapat terlihat dari tekanan sosial untuk memiliki kulit tertentu, bentuk tubuh ideal, atau wajah yang dianggap sempurna. Jika tidak disikapi dengan bijak, keinginan untuk tampil menarik bisa berubah menjadi tuntutan yang membebani diri sendiri.

Beauty is pain maupun beauty is scary mengingatkan kita bahwa kecantikan memiliki sisi yang perlu dipahami secara kritis. Merawat diri tentu boleh dilakukan, tetapi kesehatan dan kenyamanan sebaiknya tetap menjadi prioritas. Sebab, cantik tidak harus selalu berarti menahan sakit.

Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih