Menuju konten utama

Digital Declutter: Kurasi Isi Gawai untuk Pikiran Lebih Jernih

Penggunaan teknologi yang lebih sadar dapat membantu mengurangi stres, FOMO, gangguan tidur, hingga tekanan sosial yang terjadi di era serba medsos.

Digital Declutter: Kurasi Isi Gawai untuk Pikiran Lebih Jernih
Diajeng Digital Declutter. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Di era serba digital, kita terhubung dengan banyak hal dalam waktu bersamaan; dari notifikasi yang nonstop bermunculan, media sosial yang tidak pernah berhenti mengabarkan berita terbaru, sampai grup chat yang aktif sepanjang hari.

Pendek kata, kita mengalami banjir bandang informasi, yang tanpa disadari telah memenuhi setiap sudut bilik di pikiran kita.

Dalam diskusi IG Live @Ruanita - Rumah Aman Kita bertajuk “Digital Declutter - Merapikan Digital, Menjernihkan Pikiran” yang berlangsung Sabtu (16/5/2026), Fransiska Hapsari (Mahasiswa S3 Psikologi di Jerman, Founder Kesmen_id) dan mahasiswa Indonesia di Slovenia, Aghata Yasmin, mengajak kita untuk memahami digital declutter sebagai upaya mengambil kembali kontrol atas fokus, ketenangan, kesehatan mental, hingga kualitas hubungan di dunia nyata.

Diskusi ini juga menyoroti bagaimana penggunaan teknologi yang lebih sadar dapat membantu mengurangi stres, FOMO, gangguan tidur, hingga tekanan sosial yang sering muncul di era media sosial saat ini.

Dunia Digital: Diam-Diam Bebani Pikiran

Salah satu poin penting yang dibahas dalam diskusi ini adalah cognitive load atau beban mental yang muncul akibat dunia digital yang terlalu penuh.

Notifikasi, media sosial, atau informasi yang kita lihat memang tidak berbentuk fisik, akan tetapi otak tetap memproses semuanya seakan-akan mereka adalah "benda" yang bisa dipegang dan memenuhi ruang.

Kondisi ini sering kali membuat kita jadi sulit fokus, mudah lelah, merasa kewalahan, kehilangan motivasi, hingga menunda pekerjaan.

Yasmin mengibaratkan kondisi ini seperti meja kerja yang berantakan. Apabila meja dipenuhi banyak barang yang tidak diperlukan, kita cenderung merasa malas dan sulit berkonsentrasi. Hal yang sama juga terjadi pada dunia digital.

"Misalnya meja kita. Kita ingin melakukan sesuatu, tapi meja kita penuh dengan banyak hal yang random sebenarnya. Pasti kita akhirnya merasa, 'Ah, malas udah nanti aja.' Enggak, enggak perlu, nanti aja lah.. Itu sama seperti ada di dunia digital. Misalnya kita ingin mengerjakan sesuatu di laptop, tapi ada chiming notification tiba-tiba, oh ada live misalnya. Jadi memunculkan perasaan-perasaan, dan sebenarnya yang perlu kita kontrol itu ya kontrol untuk fokus. Makanya, lakukanlah digital clutter," ujar Yasmin.

Di Indonesia sendiri, menurut Yasmin, budaya untuk selalu terhubung dan terus memperbarui kehidupan di media sosial juga cukup kuat.

Tekanan sosial untuk selalu tahu berita terbaru, tren terbaru, atau mengikuti aktivitas orang lain acap kali memunculkan rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO).

Berbeda dengan pengalaman Yasmin selama tinggal di Slovenia, di mana interaksi langsung dan kehadiran di dunia nyata terasa lebih dihargai. Aktivitas sederhana seperti hiking dilakukan tanpa sibuk membuka smartphone atau gawai, sehingga seseorang bisa lebih menikmati momen dan benar-benar hadir.

Digital Declutter Bukan Sekadar Kerapian

Fransiska juga menjelaskan bahwa digital declutter memiliki kaitan erat dengan keamanan digital dan privasi.

Saat ini, perkembangan teknologi berjalan sangat cepat. Namun di sisi lain, risiko seperti cyber crime, phishing, spam, pencurian data, hingga penipuan online semakin meningkat.

"Banyak orang sangat pintar, tapi juga mungkin sangat jahat untuk mengambil keuntungan atau tahu dari kelengahan-kelengahan kita sebagai pengguna yang mungkin orang awam yang enggak terlalu mengerti teknologi, yang memakai teknologi secara serampangan atau berlebihan. Kita dengan gampangnya download aplikasi dan kita taruh berbagai macam data pribadi kita di sana tanpa menyadari ini bisa menjadi celah untuk terjadinya ee kriminalitas digital," tutur Fransiska.

Dalam konteks itu, digital declutter juga berarti lebih bijak dalam menggunakan teknologi. Beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan antara lain:

  • menghapus aplikasi yang tidak digunakan,
  • memeriksa izin akses aplikasi,
  • menggunakan password yang berbeda untuk setiap akun,
  • membatasi informasi pribadi yang dibagikan,
  • serta lebih selektif dalam menggunakan platform digital.
Semakin sedikit hal yang tidak perlu tersimpan di dunia digital, semakin kecil pula risiko keamanan yang mungkin terjadi.

Belajar Mengontrol Teknologi

Salah satu benang merah yang paling kuat dari diskusi ini adalah bahwa teknologi seharusnya menjadi alat bantu, alih-alih pengendali hidup.

Yasmin menekankan pentingnya melatih diri untuk lebih mindful dalam menggunakan teknologi. Misalnya dengan memberikan jeda tanpa internet selama beberapa waktu dalam sehari.

"Kita beri waktu misalnya 30 menit mau hiking, kita matikan data, atau saat kita balik ke rumah kita matikan data 30 menit. Mungkin kita bisa berikan waktu pada diri kita mau bersih-bersih atau mau meditation atau praying atau bahkan mau masak misalnya. Itu yang pertama," kata Yasmin.

Selain itu, waktu tersebut juga bisa digunakan untuk berjalan kaki, membersihkan rumah, membaca, atau sekadar menikmati suasana sekitar.

Kebiasaan simpel seperti merapikan galeri foto juga ternyata bisa membantu mengurangi rasa “sesak” secara mental.

Dengan menghapus file yang tidak diperlukan dan menyusun album secara rapi, kita jadi lebih mudah menemukan hal-hal penting tanpa harus dipenuhi tumpukan digital yang tidak lagi relevan.

"Aku karena suka travelling dan lain-lain. Jadi galeri itu, kan, menumpuk dengan foto-foto. Aku selalu prioritaskan kurasi. Jadi aku bikin album, aku pilih dan pilah foto-foto yang mana yang paling baik dan aku hapus-hapus. Lalu biasanya aku taruh di album. Misalnya pendakian Triglau atau pendakian pegunungan Alpen, atau misalnya karena aku suka nail art, aku bikinlah album kuku," tutur Yasmin.

Selain itu, Yasmin juga menyarankan untuk penggunaan fitur seperti screen time, focus mode, sleep mode, atau mematikan notifikasi tertentu juga dapat membantu menjaga fokus dan mengurangi distraksi.

Dari FOMO Menjadi JOMO

Salah satu istilah menarik yang disampaikan dalam diskusi ini adalah JOMO atau Joy of Missing Out.

Jika FOMO membuat kita merasa harus selalu tahu dan selalu terhubung, maka JOMO mengajak kita menikmati ketidakterlibatan.

Artinya, kita tidak lagi perlu merasa bersalah karena tidak mengikuti semua tren, tidak membuka semua notifikasi, atau tidak tahu semua hal yang sedang ramai dibicarakan.

Sebaliknya, kita bisa jadi lebih tenang karena memiliki kendali atas apa yang ingin diproses oleh pikiran kita.

Kemampuan kontrol atau kendali ini penting karena media sosial sering kali mendorong kita melakukan upward social comparison, yaitu membandingkan hidup diri sendiri dengan “highlight kehidupan” orang lain. Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan realitas yang sebenarnya.

Simak juga artikel seputar media sosial di tautan ini.

Baca juga artikel terkait MEDIA SOSIAL atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih