diajeng.id - * Artikel ini merupakan bagian kedua dari Seri Kekerasan Simbolik di Medsos, sebuah proyek kolaborasi antara Girl Up Universitas Indonesia dan redaksi Diajeng Tirto. Baca artikel bagian pertama di tautan berikut: Digital Distortion: Ilusi ‘Sempurna’ di Balik Layar
Kekerasan tidak selalu berbentuk fisik.
Pada era media sosial, kita bahkan sangat mungkin mengamati dinamika pesat dunia perkontenan digital dari lensa kekerasan simbolik.
Sosiolog Pierre Bourdieu mendefinisikan kekerasan simbolik sebagai kekuatan simbolis untuk memaksakan, menghancurkan, menyerang, menekan, dan mendistorsi cara pandang, berpikir, dan berbicara.
Kekerasan simbolik berpotensi memunculkan relasi kuasa yang tidak transparan, bahkan turut berkontribusi dalam mempertahankan dominasi-dominasi tertentu.
Menariknya, kekerasan ini cenderung menguat ketika kita tidak memiliki tolok ukur objektif.
Begitulah realitas yang kita temukan di maraknya konten-konten digital populer masa kini. Dari setiap tampilan dan narasi yang disebarluaskan, terdapat semacam “standar” atau “kebakuan” yang diamini dan disepakati begitu saja oleh sebagian besar publik.
Disadari maupun tidak, konten-konten berkonotasi kekerasan simbolik dapat menurunkan kepercayaan diri kita sendiri, meningkatkan perasaan minder, dan merusak citra tubuh.
Pada waktu sama, merebaknya konten-konten berkonotasi kekerasan simbolik mustahil dipisahkan dari cara kerja algoritma media sosial yang mengutamakan interaksi atau engagement.
Di mata konten kreator, interaksi negatif lebih baik daripada tidak ada interaksi sama sekali. Dengan begitu, konten yang membuat seseorang merasa kecil, minder, atau terpicu secara emosional justru memiliki peluang lebih besar untuk tersebar luas.
Hanya dalam hitungan menit setelah mengonsumsi sederet konten di media sosial, kita mungkin akan langsung mempertanyakan self-worth dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, “What if?” atau, “How could?”
Mulai dari anak remaja yang melihat influencer mempromosikan 12 steps skincare routine dengan brand mahal demi mencapai kulit yang “sempurna”, tren body check di TikTok yang membuat seorang pelajar SMA gelisah terkait tubuhnya, hingga standar perfect parenting yang memaksa orang tua muda untuk mengejar ekspektasi tak realistis pada anak-anaknya.
Selain itu, tidak sedikit komunitas di platform X dan TikTok yang mendorong tren diet berbahaya di kalangan remaja dan anak muda.
Contoh-contoh di atas hanyalah segelintir konten hiburan di internet yang dianggap “lumrah” karena ketidaktahuan kita terhadap kekerasan simbolik yang mengintai.
Mengapa Media Sosial Terasa Melelahkan?
Seiring merebaknya konten hiburan di media sosial, baik yang isinya murni menghibur maupun yang diam-diam membuat kita merasa “diserang”, kita sangat mungkin mengalami kelelahan emosional.
Fenomena ini terjadi karena kita pada dasarnya adalah makhluk yang peka. Selain itu, alasannya bisa jadi berkaitan dengan mekanisme psikologis yang bekerja secara otomatis ketika kita mulai terpapar pada arus perbandingan sosial melalui konten yang dikonsumsi secara terus-menerus.
Menurut Teori Perbandingan Sosial, kita cenderung menilai diri sendiri berdasarkan perbandingan dengan orang lain yang lebih baik atau lebih buruk.
Kita melakukannya untuk mengurangi kerentanan emosional terkait ekspektasi karier, kondisi kesehatan, kondisi finansial, dan pilihan hidup.
Melansir studi di jurnal Discover Mental Health (2025), paparan secara terus-menerus terhadap visualisasi pengalaman, pencapaian, dan gaya hidup yang dianggap ideal menciptakan situasi yang mendorong kita untuk membandingkan diri dengan orang-orang di dalam konten tersebut.
Akibatnya, kita jadi sering melakukan evaluasi diri yang justru berdampak buruk pada kesehatan atau kesejahteraan psikologis.
Di masa lalu, kecenderungan untuk melakukan perbandingan diri terbatas di dalam lingkungan sosial terdekat, seperti melihat teman sebaya pakai tas atau sepatu baru, tetangga yang naik pangkat, atau dibanding-bandingkan dengan saudara di acara keluarga.
Berbeda dengan kondisi hari ini, media sosial memperluas cakupan lingkungan pembanding dengan menampilkan teman dekat atau kenalan jauh yang mendapat beasiswa, rekan kerja yang dipromosikan, figur publik dengan tubuh ideal, bahkan keluarga yang tampak harmonis tanpa konflik.
Selain itu, jenis konten yang dikonsumsi juga memainkan peran penting. Masih melansir penjelasan dari jurnal Discover Mental Health, sifat konten atau nature of the content memberikan pengaruh signifikan terhadap kondisi mental penggunanya.
Konten yang menampilkan standar kecantikan tidak realistis, gaya hidup ideal, pencapaian atau narasi kehidupan yang tampak sempurna dapat memperkuat perasaan tidak memadai.
Walaupun kita menyadari bahwa media sosial sering kali menampilkan versi terbaik dari kehidupan seseorang, otak tetap memproses informasi tersebut sebagai realitas sosial yang valid.
Ketika paparan terhadap standar yang tidak realistis ini terjadi secara konsisten, standar tersebut perlahan dapat terasa seperti ketetapan.
Oleh karena itu, rasa lelah yang muncul setelah menggunakan media sosial dapat dipahami sebagai dampak atau konsekuensi dari cara kerja otak yang terus-menerus melakukan evaluasi sosial dalam lingkungan digital yang menyebabkan standar pembanding semakin meluas dan tidak terbatas.
Dampak Kekerasan Simbolik pada Kesejahteraan Psikologis
Paparan kekerasan simbolik melalui media sosial acap kali menimbulkan dampak dalam bentuk kelelahan emosional sehari-hari, alih-alih efek yang terasa instan atau langsung.
Ada banyak dari kita yang merasa lelah tanpa alasan yang jelas setelah menggunakan media sosial, merasa tertinggal setelah melihat pencapaian orang lain, atau bahkan mulai meragukan diri sendiri meskipun tidak mengalami kegagalan yang nyata.
Kehidupan yang berjalan biasa saja mulai terasa seperti sebuah kegagalan akibat standar keberhasilan yang muncul di media sosial. Paparan terhadap konten yang menampilkan standar ideal serta perbandingan yang berulang bisa jadi meningkatkan tekanan emosional.
Kondisi-kondisi di atas dapat berkembang menjadi overthinking di malam hari, FOMO (fear of missing out), hingga perasaan tidak berharga dengan menganggap pencapaian orang lain selalu di atas diri sendiri.
Selain itu, kekerasan simbolik juga dapat memunculkan rasa bersalah yang kontradiktif bagi konsumen media sosial.
Sebagai contoh, seorang ibu pekerja merasa bersalah setelah menemukan konten tentang pendampingan anak karena tidak selalu hadir di rumah, sementara Ibu Rumah Tangga (IRT) di rumah dapat merasa kurang produktif secara finansial setelah menyaksikan video tentang kesuksesan perempuan karier. Keduanya sama-sama terjebak dalam standar yang dibentuk oleh narasi digital.
Ingat, respons yang timbul seperti perasaan lelah, tidak percaya diri, atau terus membandingkan kerap bukanlah kelemahan.
Reaksi lelah dan minder adalah respons alamiah yang sangat manusiawi terhadap tekanan sosial tinggi dan standar tidak realistis yang memaksa kita mengevaluasi diri tanpa henti.
Apa yang ditampilkan melalui layar smartphone adalah momen terbaik dan pencapaian tertinggi dari kehidupan, bukan proses panjang, keraguan, kegagalan, atau keseharian biasa yang juga menjadi bagian nyata dari hidup seseorang.
Artinya, apabila kita terus-menerus melihat potongan-potongan cerita yang telah dikurasi untuk menunjukkan sisi terbaik orang lain, standar yang kita miliki terkait kehidupan yang “cukup” pun ikut bergeser.
Padahal, merasa cukup bukan berarti mudah menyerah. Hidup sehat dan teratur yang terkesan biasa saja ini pun bukan pula kegagalan. Dalam kehidupan yang singkat ini, tidak semua hal perlu dijadikan sempurna agar terkesan jadi lebih bermakna.
Alih-alih bersikeras mengubah diri untuk mencapai standar yang diamini banyak orang, cobalah untuk memaknai ulang apa yang kita lihat. Kenali dan sadari, bahwa salah satu faktor penyebab kelelahan setelah berselancar di media sosial mungkin berasal dari perbandingan sosial.
Kita terlalu sering melihat kehidupan orang lain tanpa jeda, sampai-sampai terlupa untuk menikmati realitas sehari-hari diri sendiri secara lebih utuh. Mengambil jeda dari media sosial bukan cuma soal hak untuk beristirahat, langkah ini juga upaya untuk memulihkan cara kita memandang diri.
Harga dirimu tidak ditentukan oleh validasi dari ruang digital, tetapi bagaimana kamu mampu menerima diri sendiri dengan segala keberagaman tubuh dan keunikan pengalaman hidup.
Tidak semua kehidupan perlu dibandingkan. Tidak ada harga diri yang seharusnya ditentukan oleh validasi dari pihak-pihak tak berkepentingan, apalagi dari ruang digital.
Because in the end, you are yourself, with all your flaws and strengths, and you were never meant to be compared to anyone else.
Penulis: Valeri Deanne Wijaya & Lidya Natasha Daniella Panggabean
Editor: Sekar Kinasih