Menuju konten utama
Kekerasan Simbolik di Medsos

Digital Distortion: Ilusi 'Sempurna' dari Balik Layar

Apabila pilihan hidup kita terus-menerus dibandingkan dan dinilai dengan “standar” tertentu, pengalaman ini bisa terasa seperti ancaman eksistensial.

Digital Distortion: Ilusi 'Sempurna' dari Balik Layar
Header Diajeng Kekerasan Simbolik Medsos. tirto.id/Quita

diajeng.id - * Artikel ini merupakan bagian pertama dari Seri Kekerasan Simbolik di Medsos, sebuah proyek kolaborasi antara Girl Up Universitas Indonesia dan redaksi Diajeng Tirto.

“Kenapa aku ketinggalan?”

“Kenapa aku ngga bisa kayak mereka?”

“Apa aku kurang? Apa aku tidak cukup?”

Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin pernah menyelinap masuk ke dalam benakmu saat kamu berselancar di media sosial dan menemukan Instagram Story teman zaman SMA yang baru mendapatkan beasiswa S2 di Harvard, atau status “finally promoted” rekan kerja di LinkedIn, bahkan unggahan dari sosok-sosok tak dikenal langsung seperti artis atau influencer yang tubuhnya terlihat langsing sempurna setelah melahirkan.

Dalam gemerlap semesta media sosial yang nyaris tak punya pagar aturan, mustahil rasanya untuk memilih yang bisa dan tak bisa kita konsumsi.

Di sisi lain, hampir semua konten yang dipublikasikan telah disaring dan dikurasi sedemikian rupa agar menampilkan kepingan-kepingan terbaik dari kehidupan seseorang.

Apabila kita terus-terusan terpapar langsung oleh suguhan konten serba sempurna, bukan tidak mungkin realitas sehari-hari kita perlahan ikut terguncang.

Tsunami emosi menjadi tak terelakkan, seperti perasaan bahwa diri sendiri “kecil”, tidak cukup, ketinggalan, atau bahkan lebih parah lagi, “kalah”.

Kaitan Media Sosial, Citra Tubuh, dan Kepercayaan Diri

Kompleksitas emosi yang kita rasakan tecermin juga dari hubungan antara waktu yang dihabiskan di media sosial, citra tubuh, dan tingkat kepercayaan diri.

Studi yang terbit di JMIR Formative Research (2022) menunjukkan bahwa orang yang menghabiskan lebih dari tiga jam di platform media sosial, seperti Instagram, memiliki tingkat kepercayaan diri dan citra tubuh lebih rendah.

Seperti dijelaskan melalui Teori Perbandingan Sosial Leon Festinger, ketika kita tidak punya cukup perbandingan objektif untuk menentukan kemajuan dan posisi sosial, kita akan cenderung mengevaluasi diri sendiri melalui perbandingan dengan orang lain yang kita anggap relevan.

Dari pandangan ini, kita dapat melihat manifestasi baik dan buruk dari penggunaan media sosial pada perilaku manusia. Perbandingan-perbandingan seperti inilah yang bisa dijadikan contoh untuk mencapai tujuan pribadi atau pengembangan diri.

Namun, tidak dimungkiri bahwa sifat ini juga dapat termanifestasikan dalam bentuk negatif ketika pengguna media sosial membandingkan tubuh mereka dengan standar kecantikan yang berseliweran dan dianggap baku oleh sebagian besar publik.

Perbedaan antara realitas tubuh dan standar tersebut dapat memicu persepsi ketidakpuasan terhadap tubuh, serta menurunkan kepercayaan diri dan pandangan terhadap citra tubuh.

Masih mengutip studi di atas, menariknya, kelompok partisipan yang menghabiskan waktu lebih dari tiga jam di Instagram didominasi oleh perempuan, yaitu sebanyak 94 persen.

Perempuan sering kali menjadi sasaran empuk dalam percakapan ini, mulai dari diberi tahu apa yang seharusnya dilakukan, bagaimana bertindak, hingga cara berpakaian.

Semua “saran tak diminta” ini begitu mudah ditemukan di media sosial dan datang dari berbagai arah, mulai dari laki-laki yang menginginkan perempuan untuk memenuhi standar male gaze, industri yang memonetisasi insecurity perempuan, atau bahkan dari kalangan perempuan tertentu yang membiarkan perasaan iri yang telah terinternalisasi untuk mengambil alih.

Mengapa Aku Merasa “Diserang”?

Kadang-kadang kita merasa “diserang” atau dikritik meskipun tidak ada yang secara langsung berinteraksi dengan kita.

“Serangan” tersebut bersifat semu dan tidak kasat mata, seperti kekuasaan yang diam-diam bekerja melalui norma, bahasa, dan ekspektasi sosial-budaya.

Diri kita merasa “kurang”, lalu mulailah kita mempertanyakan kelayakan diri dan menginvalidasi perasaan sendiri. Seiring waktu, terbentuklah pandangan rendah terhadap diri sendiri yang terinternalisasi.

Ironisnya, ketika respons emosional tersebut muncul, baik diri sendiri maupun orang lain kerap melabelinya sebagai “overreaction” alias lebay.

Invalidasi ini pada akhirnya justru memperkuat perasaan “diserang”. Sebab, tekanan tidak hanya datang dari standar sosial, tetapi juga dari reaksi terhadap tekanan yang dipatahkan.

Secara psikologis, kondisi ini dapat mengganggu kestabilan diri sendiri, terutama ketika standar sosial tersebut menyentuh identitas paling mendasar.

Apabila pilihan hidup dan aktivitas keseharian kita terus-menerus dibandingkan dan dinilai dengan “standar” tertentu, pengalaman ini bisa terasa seperti ancaman eksistensial.

Mengapa begitu? Identitas sosial pada dasarnya adalah landasan bagi cara manusia memahami keberadaannya dan berinteraksi dengan lingkungan.

Dalam konteks ini, pengalaman merasa “diserang” tanpa pelaku yang jelas dapat dipahami sebagai bentuk kekerasan simbolik.

Kekerasan simbolik, menurut sosiolog Pierre Bourdieu dalam Language and Symbolic Power (1991), merujuk pada kekuatan simbolis untuk memaksakan, menghancurkan, menyerang, menekan, dan mendistorsi cara pandang, berpikir, dan berbicara.

Dengan adanya kekerasan simbolik, muncullah relasi kuasa yang tidak transparan dan turut mempertahankan bentuk-bentuk dominasi baik dalam bentuk formal secara hukum dan politik, maupun dalam hubungan sehari-hari yang lebih umum.

Kekerasan simbolik semakin menguat ketika kita tidak memiliki tolok ukur objektif, sehingga standar yang beredar di masyarakat diterima begitu saja sebagai pedoman.

Disadari maupun tidak, kekerasan simbolik dapat menurunkan kepercayaan diri, meningkatkan perasaan minder, dan merusak citra tubuh.

Inilah yang berpotensi jadi salah satu bahan bakar untuk memperkuat reproduksi standar problematik di jagat media sosial.

Ketika akhirnya dunia perkontenan digital dilihat dari lensa kekerasan simbolik, sudah tak terhitung banyaknya konten berkonotasi kekerasan simbolik yang kerap diperlakukan sebagai rujukan normatif bagi pengguna media sosial.

Padahal, tentu saja, tren yang dipopulerkan belum tentu ideal dan didukung oleh fakta-fakta ilmiah.

* Baca artikel bagian kedua di tautan berikut: Kelelahan Mental yang Mengintai di Semesta Media Sosial

Baca juga artikel terkait KESEHATAN MENTAL atau tulisan lainnya dari Valeri Deanne Wijaya & Lidya Natasha Daniella Panggabean

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Valeri Deanne Wijaya & Lidya Natasha Daniella Panggabean
Penulis: Valeri Deanne Wijaya & Lidya Natasha Daniella Panggabean
Editor: Sekar Kinasih