diajeng.id - Kesehatan jiwa merupakan pondasi utama dari kesejahteraan hidup manusia.
Kita bisa dibilang sehat secara jiwa ketika kita mampu menerima kelebihan dan kekurangan diri, menyesuaikan diri dengan dinamika kehidupan sehari-hari, serta berkontribusi positif bagi keluarga dan lingkungan.
Namun, pada kenyataannya, perjalanan hidup setiap orang memiliki dinamikanya masing-masing. Ketika kita mulai sering menarik diri, mudah marah, mengalami gangguan tidur, overthinkig, atau menunjukkan perubahan perilaku secara mendadak, hal tersebut menjadi tanda awal bahwa jiwa kita sedang meminta pertolongan.
Demikian disampaikan dr. Rina Sugiyanti, Sp.KJ dari di RS Islam Yogyakarta PDHI melalui webinar "Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change" Mendengar Suara Penyintas, Menguatkan Pemulihan, Mendorong Perubahan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026 yang diselenggarakan Yayasan SATUNAMA Yogyakarta dengan RSIY PDHI dan Mindfullife Community pada Rabu (7/10).
Masyarakat umum, dr. Rina menuturkan, kerap menganggap gangguan mental semata-mata sebagai bentuk kelemahan individu, kurangnya iman, atau bahkan kegagalan dalam hidup.
"Padahal, secara medis, gangguan jiwa memiliki dasar biologis nyata pada otak penderita. Misalnya, saat orang dalam kondisi depresi, maka terjadi penurunan konsentrasi senyawa monoamin seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin, atau zat kimia di otak yang berfungsi mengatur suasana hati, emosi, serta fungsi tubuh. Lalu, pada kondisi seperti skizofrenia, kekambuhan yang terjadi secara berulang dapat memicu perubahan struktur otak," jelas dr. Rina.
Di balik stigmatisasi yang begitu kuat di masyarakat, gangguan mental adalah kondisi medis yang memerlukan penanganan profesional.
Langkah Awal Menghadapi Gangguan Jiwa
Memberanikan diri mencari bantuan medis, kata dr. Rina, adalah langkah pertama yang perlu diambil ketika kita merasa diri tidak baik-baik saja. Baik atas kesadaran sendiri maupun dorongan orang tercinta, keputusan kita untuk berangkat ke klinik perlu diapresiasi.
Di balik setiap kriteria diagnosis dan resep obat yang diberikan oleh dokter pada Orang Dengan Disabilitas Psikososial (ODDP), tegas dr. Rina, terdapat cerita hidup, luka, serta harapan besar akan pemulihan.
Proses pemulihan tidak berhenti pada pengobatan farmakologi semata. Integrasi antara terapi obat dan intervensi psikososial sangat penting agar kita dapat kembali berfungsi secara optimal dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ranah keluarga, hubungan sosial, maupun pekerjaan.
Dalam konteks penanganan medis, ada berbagai bentuk tindakan yang bisa dilakukan, seperti terapi perilaku kognitif (CBT), pelatihan keterampilan sosial, terapi keluarga, hingga rehabilitasi vokasional membantu pasien membangun kembali kepercayaan diri dan kemampuannya untuk mandiri.
Meski begitu, jalan menuju pemulihan tak jarang dihadapkan pada berbagai hambatan.
Sementara dari lingkungan, lanjutnya, tingginya ekspresi emosi keluarga, seperti sikap sering mengkritik, permusuhan, atau kurangnya kehangatan, berpotensi meningkatkan risiko kekambuhan pada pasien.
Oleh karena itu, edukasi keluarga dan lingkungan sekitar menjadi pilar penting untuk menciptakan suasana rumah yang aman dan mendukung.
Mengakhiri Stigma di Lingkungan Sekitar
Mengakhiri stigma pada OODP merupakan tanggung jawab bersama, tidak hanya dari pasien dan tenaga medis saja, tetapi juga pihak keluarga dan lingkungan di sekitar.
Dengan deteksi dini, pengobatan yang teratur, intervensi psikososial yang tepat, serta dukungan penuh dari keluarga dan masyarakat, setiap orang yang berjuang dengan gangguan mental memiliki kesempatan yang sama untuk pulih, kembali berkarya, dan menjalani hidup yang bermakna.
Artikel menarik lainnya seputar kesehatan mental juga bisa dibaca melalui tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih