Menuju konten utama

Dulu Pernah Dilarang: Pasang-Surut Riwayat Sepak Bola Perempuan

Pada abad ke-17, nelayan-nelayan perempuan di kawasan pesisir Fisherrow, Skotlandia sering bertanding sepak bola setiap hari Selasa sebelum Rabu Abu.

Dulu Pernah Dilarang: Pasang-Surut Riwayat Sepak Bola Perempuan
Header Diajeng Riwayat Sepak Bola Perempuan. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Di balik asosiasinya yang maskulin, sepak bola bukanlah olahraga eksklusif laki-laki. Sepanjang sejarah umat manusia, sepak bola juga populer di kalangan pemain perempuan, terutama di kawasan Inggris.

Salah satu bukti tertua mengenai sepak bola perempuan ditemukan pada catatan seorang pastor di Carstairs, Lanarkshire, Skotlandia.

Pada 1628, pastor tersebut mencatat bahwa banyak umatnya dari kalangan laki-laki dan perempuan yang menghabiskan akhir pekan untuk bermain sepak bola alih-alih beribadah ke gereja.

Skotlandia menjadi salah satu negeri pelopor permainan sepak bola. Pada abad ke-17 dan ke-18, nelayan-nelayan perempuan di kawasan pesisir Fisherrow sering bertanding sepak bola setiap hari Selasa sebelum Rabu Abu.

Kegemaran perempuan Skotlandia ini dilukiskan lewat gambar yang dipajang di National Football Museum. Lukisan tersebut menunjukkan para perempuan bermain sepak bola dengan gaun, aksesori topi, serta sepatu hak tinggi.

British Ladies Football Club (BLFC) kelak dibentuk oleh Nettie Honeyball dan Alfred Hewitt Smith pada 1894. Pertandingan pertama BLFC dikabarkan berhasil menarik perhatian sampai 10 ribu penonton.

Pada era Perang Dunia I (1914-18), banyak laki-laki dikerahkan untuk terjun ke medan perang. Dari situ, perempuan bisa mengisi posisi-posisi yang sebelumnya dipegang oleh laki-laki, termasuk sepak bola.

Kala itu, pertandingan tim sepak bola perempuan menjadi semakin marak. Berbagai negara seperti Inggris, Prancis, dan Australia mengalami peningkatan dalam jumlah tim sepak bola perempuan. Penonton yang meramaikan pertandingan disebut sampai menembus angka ribuan.

Sepak Terjang Perjuangan Tim Sepak Bola Perempuan

Di Inggris, popularitas sepak bola perempuan tetap bertahan sampai tahun 1920.

Pertandingan yang digelar dilaporkan berhasil menciptakan keuntungan sampai £3.000, atau hari ini setara dengan £140.000 (sekitar Rp2 miliar). Dana yang diperoleh dialihkan untuk tujuan amal, seperti menolong para korban perang.

Namun, sayang sekali, pada 1921 tim sepak bola perempuan sempat dilarang oleh Football Association (FA), badan tertua di dunia yang mengelola dan mengembangkan regulasi terkait kompetisi sepak bola di Inggris.

Larangan ini mencakup pencabutan izin bagi lapangan-lapangan yang berafiliasi dengan FA untuk menggelar pertandingan sepak bola bagi pemain perempuan.

FA menganggap bahwa perempuan tidak seharusnya berpartisipasi dalam pertandingan sepak bola. Berbagai klaim ditujukan dengan dalih bahwa sepak bola berisiko merusak tubuh perempuan dan mengubahnya menjadi maskulin.

Negara-negara sekitar turut mengikuti larangan FA dalam memblokade sepak bola perempuan. Ironisnya, Skotlandia menjadi salah satu negara yang paling cepat menarik seluruh dukungannya terhadap pertandingan sepak bola perempuan.

Tim sepak bola perempuan tidak lagi bebas bermain secara resmi. Wasit-wasit dilarang berpartisipasi dalam pertandingan-pertandingan sepak bola perempuan. Lebih parahnya lagi, seluruh akses tim perempuan untuk menggunakan fasilitas profesional sepenuhnya dicabut.

Larangan ini menimbulkan hambatan besar pada perkembangan sepak bola perempuan. Meski perempuan masih dapat mengikuti kompetisi sepak bola secara tidak resmi di lapangan-lapangan yang tidak berafiliasi dengan FA, larangan dari FA bisa disebut sebagai sabotase terhadap usaha perempuan dalam membentuk dunia sepak bola selama sekian dekade.

Manchester Corinthians Ladies Football Club menjadi salah satu tim sepak bola perempuan yang mengabaikan larangan dari FA. Dibentuk pada 1949, mereka mengikuti berbagai pertandingan di kota sendiri, Manchester, dan berbagai wilayah di luar negeri.

Perjuangan Manchester Corinthians LFC dalam menyabet berbagai penghargaan merupakan perlawanan terhadap FA. Keberanian mereka menginspirasi banyak perempuan untuk tetap mempertahankan olah raga sepak bola.

Pada akhirnya, FA menghapuskan larangannya pada 1971. Momentum sepak bola perempuan mulai kembali terlihat. Meski begitu, sepak bola perempuan masih terus menghadapi berbagai tantangan.

Mengapa Sepak Bola Perempuan Kalah Populer dengan Laki-Laki?

Kendati hari ini banyak negara memiliki tim nasional sepak bola perempuan dan FIFA Women's World Cup sudah rutin diselenggarakan sejak 1991, kebanyakan orang tentu lebih familier dengan pertandingan tim sepak bola nasional laki-laki FIFA World Cup alias Piala Dunia.

Salah satu alasan yang mendasari rendahnya popularitas tim sepak bola perempuan adalah kurangnya sorotan dari media.

Studi oleh Ruikang Li berjudul “The Inferior Position of Female Soccer Sports: Comparison Between Female Soccer and Male Soccer” (2022) mengungkapkan bahwa media tidak cukup memberikan perhatian pada pertandingan sepak bola perempuan sebagaimana mereka meliput sepak bola laki-laki.

Selain rendahnya komitmen sorotan dari media, sepak bola perempuan masih cenderung kalah populer daripada sepak bola laki-laki karena rendahnya investasi komersial dan warisan stereotip gender yang sudah berlangsung lama.

Eksposur yang sedikit akhirnya berdampak pada jumlah penggemar dan sponsor lebih sedikit, sehingga perkembangan sepak bola perempuan berjalan lebih lambat dibandingkan sepak bola laki-laki.

Penonton senyatanya juga memiliki bias gender dalam menilai pertandingan yang mereka lihat.

Dalam studi berjudul “Gender information and perceived quality: An experiment with professional soccer performance” di jurnal Sport Management Review (2024), tim peneliti menemukan bahwa persepsi publik terhadap kualitas sepak bola perempuan dipengaruhi oleh informasi gender.

Sebanyak 613 partisipan diminta menyaksikan cuplikan video pertandingan sepak bola. Sebagian menyaksikan pertandingan yang sosok pemainnya diburamkan sehingga tidak diketahui mana pemain laki-laki, mana pemain perempuan. Sebagian partisipan lainnya menyaksikan pertandingan dengan sosok pemain jelas.

Hasilnya, penonton cenderung menilai permainan laki-laki lebih baik hanya ketika mereka mengetahui bahwa pemain yang tampil adalah laki-laki.

Menariknya, ketika identitas gender disamarkan, perbedaan penilaian terhadap permainan sepak bola laki-laki dan perempuan menghilang.

Temuan ini menunjukkan bahwa stereotip gender, bukan semata-mata kualitas permainan, turut membentuk cara masyarakat memandang sepak bola perempuan.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Binar
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih