Menuju konten utama

Emophilia, Apa Kamu Terlalu Cepat Jatuh Cinta?

Ternyata, "ketagihan" pada sensasi mendebarkan saat pertama kali jatuh cinta bisa jadi kondisi yang perlu diwaspadai. Mengapa begitu?

Emophilia, Apa Kamu Terlalu Cepat Jatuh Cinta?
Header Diajeng Terlalu Cepat Jatuh Cinta. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Ketika pertama kali bertemu seseorang, mungkin pernah tebersit di sebagian dari kita bahwa, "Oh, this is the one!" atau, "Aku sepertinya jatuh cinta sama dia?"

Bagi beberapa orang, perasaan ini mungkin terasa seperti romansa film dengan ending bahagia selamanya.

Namun, sebenarnya, berulang kali jatuh cinta dengan sangat cepat dan sering bisa menjadi pola yang mencerminkan fenomena psikologis yang disebut emophilia.

Apa Itu Emophilia?

Emophilia, yang sebelumnya dikenal sebagai "promiskuitas emosional," merupakan kecenderungan kita untuk jatuh cinta dengan cepat dan sering, demikian seperti dinukil VeryWell Mind.

Alih-alih perasaan sesaat, kecenderungan ini merupakan ciri kepribadian yang menetap pada kita yang merasakan gairah sangat kuat dan menyeluruh terhadap minat romantis dalam waktu sangat singkat.

Orang dengan emophilia acap kali merasa "ketagihan" pada sensasi mendebarkan saat pertama kali jatuh cinta.

Kenali Tanda-Tanda Emophilia

Gejala utama emophilia adalah keterikatan emosional yang terjadi bahkan sebelum orang lain membuktikan bahwa mereka layak mendapatkan kasih sayang tersebut.

Beberapa tanda yang kerap muncul salah satunya adalah mengalami fiksasi cepat, yaitu menganggap setiap orang baru yang ditemui adalah "belahan jiwa" atau "the one".

Orang yang mengalami emophilia juga tidak peduli dengan adanya red flags. Sebab, perasaan yang muncul terlalu berfokus pada jatuh cinta yang ideal, sehingga cenderung mengabaikan tanda-tanda peringatan bahwa pasangannya mungkin orang yang toksik atau tidak cocok.

Tanda lainnya yang terlihat adalah ingin segera berkomitmen. Kesan terburu-buru demikian malah mendorong perilaku berisiko, seperti melakukan hubungan seksual tanpa pengaman di awal hubungan karena keyakinan buta bahwa kamu dan dia akan bersama selamanya.

Tak hanya itu, orang dengan tingkat emophilia tinggi juga diprediksi lebih mungkin terlibat dalam ketidaksetiaan atau jatuh cinta pada beberapa orang sekaligus di waktu yang sama.

Mengapa Bisa Terjadi?

Dilansir Psychology Today, disebutkan bahwa emophilia berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon "merasa baik" seperti dopamin dan serotonin. Saat jatuh cinta, sistem penghargaan di otak aktif, memberikan sensasi kesenangan yang membuat seseorang ingin terus mencarinya secara impulsif.

Sebuah penelitian tahun 2021 yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Individual Differences menunjukkan bahwa individu dengan emophilia sering tertarik pada orang yang memiliki kepribadian-kepribadian yang gelap, seperti narsisme, machiavellianisme, sampai psikopati.

Orang-orang dengan kepribadian gelap ini biasanya terlihat sangat memesona di awal. Daya tarik ini memicu lonjakan emosi yang dicari-cari oleh penderita emophilia.

Bahaya di Balik Kecepatan Cinta

Meskipun jatuh cinta terasa menyenangkan, emophilia bisa berbahaya karena kurangnya "mekanisme penyaringan".

Saat tanda-tanda bahaya mulai terlihat, biasanya orang dengan kondisi emophilia sudah telanjur terikat secara emosional sehingga sulit untuk keluar dari hubungan yang toksik tersebut.

Hubungan pun berisiko menjadi dangkal karena didasarkan pada versi ideal pasangan, alih-alih pada siapa dirinya sebenarnya.

Langkah Mengatasi Emophilia

Kalau kamu merasa pola cepat jatuh cinta ini merugikan hidupmu, masih menurut Psychology Today, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk mengambil kembali kendali emosimu:

Buat Daftar Green Flag dan Red Flag

Sebelum memulai hubungan baru, tentukan nilai-nilai yang tidak bisa dinegosiasikan (seperti kejujuran atau rasa hormat) dan daftar perilaku yang tidak akan kamu toleransi sama sekali.

Dengarkan Orang Terdekat

Teman dan keluarga biasanya bisa melihat tanda bahaya yang terlewatkan oleh mata kamu yang sedang "mabuk cinta". Jangan abaikan perspektif obyektif mereka.

Gunakan Pendekatan Pragmatis

Cobalah untuk menulis jurnal atau buku harian tentang perasaanmu. Melacak pola hubungan dari waktu ke waktu dapat membantu kamu membedakan antara koneksi nyata dan sekadar rasa ketertarikan sesaat.

Beri Waktu untuk Berpikir Sendiri

Mengambil jeda untuk tetap sendiri membantu kamu belajar tentang pola diri sendiri tanpa gangguan gairah romantis yang baru.

Cari Bantuan Profesional

Menjalani terapi bisa sangat membantu untuk memahami akar penyebab perilakumu. Kamu juga bisa belajar bagaimana membangun keterikatan yang lebih sehat.

Jatuh cinta adalah pengalaman yang luar biasa, akan tetapi memperlambat prosesnya akan membantu kita membangun hubungan yang lebih otentik, bermakna, dan tahan lama.

Ingatlah bahwa cinta yang sehat membutuhkan waktu, kesabaran, dan pengenalan karakter yang jujur.

Artikel lainnya seputar relationship juga bisa dicek di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih