Menuju konten utama

Emotional Cheating: Ketika Hati Mulai Berpaling Diam-Diam

Emotional cheating adalah bentuk perselingkuhan emosional ketika seseorang membangun kedekatan yang intim dengan orang lain di luar hubungan romantisnya

Emotional Cheating: Ketika Hati Mulai Berpaling Diam-Diam
Ilustrasi. Emotional Cheating: Ketika Hati Mulai Berpaling Diam-Diam. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Pernahkah kamu merasa pasangan semakin sering bercerita kepada orang lain, bahkan untuk hal-hal pribadi yang sebelumnya hanya dibagikan kepadamu?

Awalnya mungkin terlihat seperti pertemanan biasa. Namun, ketika kedekatan emosional itu mulai disembunyikan dan perhatian kepada pasangan perlahan berkurang, ada kemungkinan hubungan sedang menghadapi masalah yang disebut emotional cheating.

Berbeda dari selingkuh secara fisik, emotional cheating tidak selalu melibatkan sentuhan atau hubungan seksual. Meski begitu, dampaknya bisa sama menyakitkan karena menyangkut kepercayaan dan kedekatan emosional dalam hubungan.

Apa Itu Emotional Cheating?

Emotional cheating adalah bentuk perselingkuhan emosional ketika seseorang membangun kedekatan yang intim dengan orang lain di luar hubungan romantisnya, hingga melanggar kepercayaan atau batasan yang telah disepakati bersama pasangan.

Menurut Positive Psychology, salah satu ciri pentingnya adalah adanya kerahasiaan. Seseorang mungkin menyembunyikan intensitas komunikasi, perasaan, atau kedekatannya dengan orang lain karena menyadari hubungan tersebut berpotensi melanggar komitmen.

Namun, memiliki teman dekat bukan berarti berselingkuh. Batasnya bergantung pada niat, keterbukaan, dan kesepakatan setiap pasangan.

Perbedaan Emotional Cheating vs Physical Cheating

Lantas apa perbedaan utama dari emotional cheating dan physical cheating? Jawabannya terletak pada bentuk kedekatan yang terlibat.

Sederhananya, emotional cheating lebih berfokus pada ikatan emosional, seperti berbagi rahasia, membangun ketergantungan perasaan, atau memiliki ketertarikan romantis kepada orang lain. Sementara itu, physical cheating melibatkan kontak fisik yang bersifat romantis atau seksual, seperti berciuman hingga melakukan hubungan seksual.

Meski berbeda, keduanya sama-sama dapat merusak kepercayaan. Bahkan, perselingkuhan emosional bisa terjadi tanpa pertemuan langsung, misalnya melalui komunikasi intens di media sosial.

Tanda-Tanda Emotional Cheating

Dalam artikel berjudul "How and When Emotional Cheating Crosses a Line" di laman Cleveland Clinic, ada beberapa perilaku yang bisa jadi perhatian.

Pertama, pasangan terlihat sering menyembunyikan komunikasi dan merasa canggung saat ditanyakan secara langsung. Contohnya menghapus pesan atau merahasiakan percakapan dengan seseorang.

Tanda selanjutnya, alih-alih berkomunikasi dengan kekasihnya sendiri, pasangan justru lebih nyaman bercerita kepada orang lain, entah itu soal masalah pribadi dan perasaan yang dialami, pelaku malah lebih sering membagikannya kepada orang di luar hubungan.

Yang ketiga, pasangan juga terus memikirkan orang tersebut. Ia akan merasa bersemangat saat menerima pesan atau selalu menantikan pertemuan.

Tak hanya itu, pelakunya juga mulai suka membanding-bandingkan pasangan, dan mulai menganggap orang lain lebih memahami atau lebih menarik daripada pasangan sendiri. Serta ia juga menjadi lebih defensif atau mudah marah ketika kedekatan tersebut dipertanyakan.

Meski demikian, tanda-tanda ini bukan bukti mutlak perselingkuhan. Namun, jika muncul bersamaan dan disertai kerahasiaan, ada baiknya dibicarakan.

Dampak Emotional Cheating terhadap Hubungan

Perselingkuhan emosional dapat membuat pasangan merasa dikhianati, tidak dihargai, bahkan kehilangan kepercayaan diri. Kedekatan yang sebelumnya terbangun juga bisa perlahan memudar karena perhatian dan energi emosional dialihkan kepada orang lain.

Masih menukil Cleveland Clinic, kondisi ini bahkan dapat memicu keretakan hubungan apabila tidak ditangani dengan baik.

Cara Mengatasi Emotional Cheating

Jika mengalaminya, jangan terburu-buru mengambil keputusan. Ada beberapa langkah dan strategi yang bisa dilakukan.

Langkah pertama, perlu membicarakan hal tersebut secara terbuka. Sampaikan perasaan tanpa langsung menuduh atau menyalahkan.

Kemudian tetapkan batasan, sepakati perilaku apa yang dianggap melanggar komitmen hubungan.

Lalu, bangun kembali kepercayaan. Pihak yang melakukan perselingkuhan perlu bertanggung jawab dan menunjukkan perubahan nyata.

Langkah berikutnya, jangan lupakan untuk mau memperbaiki komunikasi. Luangkan waktu untuk saling mendengarkan dan memahami kebutuhan emosional masing-masing.

Selain itu, bisa juga mempertimbangkan konseling pasangan. Bantuan profesional dapat membantu mengurai masalah dan memulihkan hubungan.

Pada akhirnya, emotional cheating bukan sekadar persoalan kedekatan dengan orang lain, melainkan tentang kepercayaan, keterbukaan, dan komitmen. Hubungan yang sehat membutuhkan batasan yang disepakati bersama agar kedua pihak merasa aman, dihargai, dan tetap terhubung secara emosional.

Artikel lainnya terkait relasi juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih