Menuju konten utama

Circle Pertemanan yang Sehat: Kenali Tanda dan Ciri Toxic

Circle pertemanan yang sehat adalah lingkungan pertemanan yang dibangun atas dasar rasa saling menghargai, kepercayaan, dukungan, dan komunikasi yang baik.

Circle Pertemanan yang Sehat: Kenali Tanda dan Ciri Toxic
Ilustrasi Circle Pertemanan Sehat. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Pernah enggak, pulang dari hangout bersama teman-teman, kamu justru merasa lebih capek secara emosional daripada sebelumnya? Bukannya merasa senang, kamu malah kepikiran dengan perkataan teman, merasa kurang dihargai, atau bahkan tidak nyaman menjadi diri sendiri.

Situasi seperti ini bisa menjadi pengingat untuk mengevaluasi lingkungan pertemanan. Sebab, memiliki banyak teman belum tentu berarti memiliki hubungan yang sehat. Lantas, seperti apa circle pertemanan yang sehat dan bagaimana membedakannya dari pertemanan toxic?

Apa Itu Circle Pertemanan yang Sehat?

Circle pertemanan yang sehat adalah lingkungan pertemanan yang dibangun atas dasar rasa saling menghargai, kepercayaan, dukungan, dan komunikasi yang baik. Di dalamnya, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi atau direndahkan.

Menurut Mental Health Foundation, hubungan yang sehat berperan penting dalam menjaga kesehatan mental. Hubungan tersebut membutuhkan kejujuran, komunikasi terbuka, rasa saling menghormati, serta kesediaan untuk memahami batasan masing-masing.

Artinya, pertemanan yang sehat bukan berarti harus selalu sepakat atau tidak pernah mengalami konflik. Hal terpenting adalah bagaimana setiap orang menyelesaikan perbedaan tanpa saling menyakiti.

Tanda Circle Pertemanan yang Sehat

Agar tidak salah menilai lingkungan pertemanan, kamu perlu memahami beberapa tandanya. Diajeng akan mengulas di bawah ini.

Tanda pertama, dalam pertemanan sehat kamu bisa menjadi diri sendiri dan tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain hanya agar diterima. Teman yang baik akan menghargai kepribadian, pendapat, dan perbedaan yang dimiliki setiap anggota.

Kedua, kalian saling mendukung, bukan menjatuhkan. Ketika salah satu teman berhasil mencapai sesuatu, anggota lainnya ikut merasa senang. Tidak ada kebiasaan meremehkan pencapaian atau menjadikan keberhasilan orang lain sebagai bahan persaingan yang tidak sehat.

Selanjutnya, mau menghargai batasan pribadi masing-masing. Setiap orang memiliki kesibukan, privasi, dan kebutuhan untuk menghabiskan waktu sendiri. Circle yang sehat tidak memaksakan kehadiran atau membuat seseorang merasa bersalah ketika tidak bisa ikut berkumpul.

Bisa berkomunikasi secara terbuka juga merupakan tanda circle pertemanan yang sehat. Jika terjadi kesalahpahaman, masalah dibicarakan dengan baik. Tidak perlu saling menyindir, menyebarkan gosip, atau mendiamkan teman sebagai bentuk hukuman.

Selain itu, dalam lingkaran pertemanan ini, hubungan pun terasa seimbang. Pertemanan bukan tentang satu orang yang terus memberi perhatian, waktu, dan bantuan. Setiap anggota memiliki kesempatan untuk didengarkan dan mendapatkan dukungan.

Ciri-Ciri Circle Pertemanan Toxic

Setelah memahami tanda-tanda circle pertemanan yang sehat, tentu ada kebalikannya, yakni circle pertemanan toxic, di mana kondisinya dapat membuat seseorang merasa tertekan, tidak percaya diri, bahkan kehilangan kenyamanan saat bersosialisasi. Lantas apa saja tanda pertemanan toxic?

Sering merendahkan. Dalam circle tersebut, ada seorang atau beberapa pihak yang menjadikan kekurangan teman sebagai bahan ejekan, bahkan setelah diminta berhenti.

Ada juga yang suka membandingkan pencapaian, penampilan, atau kehidupan pribadi temannya hanya untuk menjatuhkan orang tersebut.

Manipulatif juga tanda circle pertemanan toxic. Ada pihak yang suka membuat teman merasa bersalah ketika menolak ajakan atau tidak memenuhi keinginan kelompok.

Tak hanya itu, dalam lingkaran tersebut, ada yang tidak menghargai privasi, misalnya menyebarkan rahasia atau cerita pribadi tanpa izin.

Pertemanan pun terasa satu arah. Hanya datang ketika membutuhkan bantuan, tetapi menghilang saat teman membutuhkan dukungan.

Meski begitu, satu kesalahpahaman atau pertengkaran tidak otomatis membuat sebuah pertemanan menjadi toxic. Perhatikan pola perilakunya, terutama jika sikap merendahkan, manipulatif, dan tidak menghargai batasan terus berulang.

Circle pertemanan yang sehat bukanlah tentang seberapa sering kamu berkumpul atau seberapa banyak teman yang dimiliki. Namun, tentang bagaimana hubungan tersebut membuat dirimu merasa aman, dihargai, dan didukung untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Artikel terkait lainnya juga bisa dicek di sini.

Baca juga artikel terkait PERTEMANAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih