diajeng.id - Pernahkah terpikir di benak kalian bahwa adegan horor di film-film bukan semata-mata imajinasi liar yang terlintas di pikiran sutradara dan tim kreatifnya?
Sensasi ketakutan dan kengerian—yang divisualisasikan lewat sosok mengerikan seperti hantu, monster, pembunuh, dan lain sebagainya—adalah fondasi penting dari setiap cerita film horor yang lekat dengan realitas kehidupan manusia di setiap zamannya.
Film horor kerap mengambil inspirasinya dari folklore atau cerita rakyat, yang biasanya merangkum kegelisahan masyarakat dari suatu generasi.
“Horor adalah cerminan budaya, zaman, dan kondisi geografis tempat film itu diproduksi. Horor mengangkat isu-isu yang relevan dengan konteks zamannya, mengajak kita memikirkan berbagai gagasan dan kecemasan yang ada di masyarakat, sekaligus memberi ruang bagi kita untuk bergulat dengan berbagai kecemasan tersebut,” ujar Heather Roberts, peneliti budaya dan film dari Queen's University Ontario Canada dalam wawancara dengan The Queen’s Journal pada 2024 silam.
Godzilla (1954) misalnya, merupakan bentuk metafora ketakutan masyarakat Jepang yang bertolak dari serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.
Pandangan serupa disampaikan Michelle Martinez, dosen kajian media dan film di Arizona State University, “Film horor dibuat dan mengangkat tema yang pada masanya menjadi ketakutan masyarakat.”
Martinez melihat bahwa perubahan sosial dapat ditelusuri melalui perkembangan film horor dari satu dekade ke dekade berikutnya. The Exorcist (1973) dan Carrie (1976), sebagai contoh, mengangkat kekhawatiran mengenai otonomi tubuh perempuan setelah hak perempuan untuk aborsi disahkan di AS pada 1973.
Sementara melansir penelitian Felicidad C. Lim di Asian Cinema (1998), maraknya film yang mengangkat legenda hantu perempuan pengisap darah “aswang” di Filipina tidak bisa dipisahkan dari propaganda Amerika Serikat tak lama seusai Perang Dunia II.
Hantu aswang adalah “lelucon” karangan militer AS untuk membantu pemerintah Filipina memberantas gerakan gerilyawan komunis petani Luzon Tengah, Hukbalahap, pada dekade 1950-an. Aswang dirumorkan sebagai pasukan yang disewa pemerintah untuk menangkap para pemberontak, menyiksa mereka, dan menyedot darahnya. Dongeng ini sukses menimbulkan ketakutan massal pada masyarakat masa itu.
Artinya, film horor selalu menangkap zeitgeist alias “semangat zaman” yang membentuk cara masyarakat melihat dunia pada masanya.
Film Horor setelah Perang Dunia II
Berakhirnya Perang Dunia II berdampak pada melejitnya kebudayaan populer, termasuk film horor.
Kehadiran film-film dengan tema monster dan nuklir pada hari ini tidak datang begitu saja. Melansir tulisan Skye Sheehy di situs The Trail, peristiwa dijatuhkannya dua bom atom di Jepang memopulerkan genre “monster nuklir” dalam produksi sinema era 1950-an dan 1960-an.
Selain Godzilla (1954), sineas AS juga memproduksi film serupa pada tahun yang sama, yaitu Them!. Keduanya menampilkan monster yang muncul akibat dari radiasi dan eksperimen nuklir. Menurut Sheehy, kemunculan film-film tersebut merupakan respons terhadap ketakutan masyarakat atas serangan bom atom.
Ketakutan masyarakat Amerika pada dekade 1950-an tidak berhenti pada ancaman nuklir. Pada periode yang sama, ramainya berita mengenai penampakan UFO dan dibentuknya Project Blue Book oleh angkatan udara AS turut menghadirkan ketertarikan dan ketakutan terhadap kehidupan ekstraterestrial.
Kecemasan tersebut kemudian hadir dalam film seperti The Thing from Another World (1951), The War of the Worlds (1953) dan The Blob (1958).
Memasuki akhir 1950-an objek ketakutan dalam film horor ikut bergeser seiring berubahnya lasnkap politik AS, terutama setelah periode Red Scare dan kampanye antikomunis Joseph McCarthy (McCarthyism)
Menurut Sheehy, ketakutan pada komunis di era ini melahirkan kecemasan terhadap sosok “penyusup” atau kekhawatiran terhadap orang yang dari luar kelihatan biasa-biasa saja, tetapi sebenarnya ancaman.
Ketakutan ini tecermin film-film seperti Psycho (1960) dan Rosemary’s Baby (1968). Melalui mereka, teror tidak divisualisasikan sebagai monster atau makhluk ekstraterestrial, melainkan sosok yang “akrab” dan dekat di lingkungan tempat tinggal.
Film Horor Era Sekarang
Bagaimana dengan film-film yang diproduksi dalam belasan tahun terakhir? Ada satu pola menarik di periode ini; objek horor digunakan sebagai metafora atas trauma dan kecemasan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Film tentang relasi ibu dan anak produksi Australia, The Babadook (2014), misalnya, menampilkan entitas supernatural “Babadook” sebagai bentuk duka dan trauma karakter tokoh utama, Amelia, setelah kematian suaminya. Monster tersebut menggambarkan trauma dan proses manusia dalam menghadapi kehilangan.
Pola serupa muncul dalam film Midsommar (2019). Di balik ritual mengerikan komunitas Hårga, film ini mengikuti karakter Dani yang tengah mengalami kedukaan karena kehilangan keluarganya. Dalam jurnal The Symbiotic Sisterhood: Analyzing Rituals of Shared Grief in “Midsommar”, Mutiara Ramadhania menjelaskan bahwa komunitas Hårga memiliki cara berduka yang membuat Dani merasa diterima.
Metafora dalam film horor kontemporer tidak berhenti pada trauma personal. Get Out (2017), sebagai contoh, menggunakan horor untuk mengkritik rasisme. Jordan Peele sebagai sutradara mengulik rasisme dari keluarga kulit putih yang terlihat “ramah” tetapi bersembunyi di balik pandangannya yang “liberal” dan sikapnya yang sopan.
Reene Nicole Allen dalam William & Mary Journal of Race, Gender, and Social Justice (2023) menjelaskan bahwa rasisme tidak selalu muncul terang-terangan. Sebaliknya, keluarga kulit putih di film Get Out dicitrakan sebagai keluarga ramah untuk memendam keinginan mereka mengeksploitasi tubuh orang lain.
Sementara fiksi ilmiah Annihilation (2018) memasukkan kecemasan tersebut ke dalam isu lingkungan. Area misterius bernama The Shimmer atau Area X yang menggerogoti bagian Bumi menjadi metafora atas perubahan dan ketidakmampuan manusia mengendalikan alam.
Mengutip Caroline Kjærulff dalam tulisan berjudul “The Ambiguous Portrayal of Nature in Annihilation” (2021), Annihilation bisa dilihat sebagai bentuk eco-media yang mendorong penonton untuk kembali memikirkan peran manusia di alam.
Salah satu horor yang mendapatkan apresiasi belakangan ini, The Substance (2024), mencoba memasukkan horor ke dalam tubuh perempuan. Film ini mengkritik standar kecantikan dan tekanan untuk tetap terlihat muda yang semakin tidak realistis di masa kini.
Nah, apabila film horor selalu menangkap zeitgeist pada masanya, kira-kira ketakutan apa yang kelak menjadi objek horor di layar lebar pada dekade berikutnya?
Penulis: Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih