Menuju konten utama

Rekomendasi Buku tentang Pengalaman Ketubuhan Perempuan

Dari Korpus Uterus sampai Althusser Pembunuh: Banalitas Kejantanan, kita bisa belajar memahami kerumitan dan masalah mendasar yang terus dialami perempuan.

Rekomendasi Buku tentang Pengalaman Ketubuhan Perempuan
Header diajeng Rekomendasi Buku Pengalaman Tubuh Perempuan. foto/Freepik

diajeng.id - Tubuh perempuan adalah medan pertempuran.

Ia terus-menerus didefinisikan ulang, mengalami standardisasi, hingga dituding sebagai penyebab dosa oleh beberapa kelompok masyarakat.

Kadang kala, luka dan rasa sakit perempuan juga tidak diakui, bahkan disangkal mati-matian.

Seiring zaman semakin maju, ternyata dunia tidak serta-merta menyediakan ruang yang aman dan ramah bagi perempuan.

Buku-buku di bawah ini adalah rekomendasi bacaan yang dapat membantu kita memahami kerumitan serta masalah mendasar yang terus dialami oleh para perempuan.

Karya yang masuk dalam daftar juga akan membantu pembaca memahami perjuangan perempuan di tengah masyarakat yang patriarkis.

Selamat membaca!

1. Fang Si Chi’s First Love Paradise - Lin Yi Han (Shira, 2025)

Kesakitan semacam apa yang harus dilalui oleh korban grooming ketika menebak-nebak isi kepala pelaku pelecehan seksual?

Fang Si Chi’s First Love Paradise adalah novel semi-autobiografi yang menggambarkan bagaimana korban grooming kesulitan untuk keluar dari jeratan pelaku. Sang pelaku adalah gurunya sendiri. Mirisnya, guru inimemiliki reputasi baik sekaligus jadi orang kepercayaan keluarga korban.

Fang Si Chi dipaksa menerima hubungannya dengan si guru sebagai ‘cinta’ karena ia tidak punya tempat lain untuk bercerita.

Ketika kesempatan untuk curhat tentang pelecehan yang ia alami datang, teman dekat Fang Si Chi justru menyalahkan dirinya. Novel ini menjadi buku yang memengaruhi gerakan #MeToo yang muncul di Taiwan pada 2023 lalu.

2. Korpus Uterus - Sasti Gotama (Gramedia Pustaka Utama, 2025)

Korpus Uterus membahas tema yang jarang sekali tersentuh: hak kontrol tubuh oleh perempuan, termasuk hak untuk melakukan aborsi.

Luh, si tokoh utama, adalah anak yang lahir dari rahim korban pemerkosaan aparat pada 1965.

Selama hamil, sang ibu mengalami trauma berat dan berkali-kali mencoba menggugurkan kandungannya. Namun, si janin bertahan dan tumbuh besar sebagai Luh.

Luh dewasa lantas bersinggungan dengan para perempuan yang mengalami kekerasan hingga kehamilan tak diinginkan.

Tumbuh besar tanpa cinta ibu kandung, Luh terdorong menjadi ahli aborsi dengan harapan agar tak ada anak dan ibu yang mengalami apa yang ia dan ibunya rasakan.

3. Detail Kecil - Adania Shibli (Bentang Pustaka, 2024)

Potongan berita koran 25 tahun lalu dengan mudah diabaikan oleh banyak orang. Namun, bagi seorang jurnalis perempuan asal Ramallah, Palestina, sempalan cerita tentang seorang gadis Badui yang diperkosa, ditembak mati, kemudian dikubur di tengah gurun oleh pasukan Israel, pasca-Nakba 1949, punya arti yang mendalam tentang sejarah leluhur dan tanahnya.

Kisah kesakitan gadis Badui tersebut diabaikan oleh para pembaca karena dianggap tidak signifikan.

Di balik itu, bagi sang jurnalis, cerita yang berlalu nyaris tiga dekade lalu perlu diungkap. Maka, dengan keberanian tersisa, ia mengelabui aparat Israel demi memahami apa yang terjadi pada rakyat Palestina usai diusir dari tanah sendiri.

4. Invisible Women: Exposing Data Bias in a World Designed for Men - Caroline Criado Perez (Chatto & Windus, 2019)

Ketika bencana terjadi, pemerintah memberikan respons cepat (disaster relief) berupa evakuasi hingga bantuan bagi korban.

Namun, tahukah kamu bahwa respons cepat bisa sangat bias gender? Ternyata, jarang sekali bantuan bencana mengkover kebutuhan perempuan, semudah hygiene kit berupa pembalut hingga pakaian dalam bersih.

Kasus tersebut menjadi salah satu tesis utama yang ditulis oleh Criado Perez dalam Invisible Women. Perempuan adalah mayoritas penghuni di Bumi. Sayangnya, dunia dan segala fasilitas di dalamnya didesain dan dibangun untuk memenuhi kebutuhan laki-laki.

Dari penemuan Perez, inovasi di bidang teknologi, transportasi, kesehatan, hingga ruang publik ternyata tidak diciptakan sedemikian aman dan nyaman untuk pengalaman ketubuhan dan keseharian perempuan.

5. Althusser Pembunuh: Banalitas Kejantanan - Francis Dupuis-Déri (Marjin Kiri, 2024)

Louis Althusser, filsuf terkenal asal Prancis, mencekik mati Hélène Rytmann yang tidak lain adalah istrinya, pada November 1980.

Kejadian itu terjadi di kompleks kampus École normale supérieure (ENS), Paris. Di situasi yang ideal dan umum, Althusser seharusnya dipenjara. Alih-alih, sang filsuf hanya dikirim ke rumah sakit jiwa.

Buku tipis ini menggambarkan dengan detail bagaimana kelompok akademisi elite yang melanggengkan seksisme dan memuja maskulinitas tidak sehat ini berusaha membangun struktur perlindungan terhadap pelaku kejahatan berbasis gender.

Kejahatan Althusser disangkal oleh teman dekat dan rekan kerjanya dengan dalih masalah kejiwaan belaka. Sementara, lewat narasi pembelaan kepada pelaku, korban dibingkai sedemikian rupa agar ia seolah 'layak' menerima tindakan kekerasan.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Erika Rizqi

diajeng.id - Binar
Kontributor: Erika Rizqi
Penulis: Erika Rizqi
Editor: Sekar Kinasih