Menuju konten utama
Elitisme Met Gala

Gemerlap Met Gala 2025: Mengapa Kita Terobsesi dengan Elitisme?

Gemerlap Met Gala 2025 di layar media sosial seolah membuat kita terlupa sejenak akan peliknya masalah dan konflik yang meletus di berbagai belahan dunia.

Gemerlap Met Gala 2025: Mengapa Kita Terobsesi dengan Elitisme?
Header diajeng Kritik Met Gala. tirto.id/Quita

diajeng.id - Meskipun dikritik telah mempertontonkan kemewahan yang memuakkan, nyatanya selalu ada publik yang betah memandangi layar gawai atau sekadar memantau media sosial mereka untuk menyaksikan video dan foto-foto selebritas yang berlenggang cantik di atas karpet Met Gala 2025.

Sudah menjadi tradisi tahunan warganet untuk menjadi kritikus mode dadakan yang akan menilai penampilan setiap selebritas di parade busana bergengsi dalam rangka penggalangan donasi untuk kelestarian karya seni kostum dan fesyen di Metropolitan Museum of Art, New York tersebut.

Sebagian akan mengkritik bintang papan atas yang tidak mengenakan outfit sesuai tema, sedangkan sebagian lainnya akan membela artis-artis kesayangannya.

Teori-teori mengenai pakaian dan aksesori yang menempel di tubuh selebritas dan kaitannya dengan tema yang diusung pun akan bermunculan. Beberapa terdengar sangat meyakinkan, ada juga yang terlalu mengada-ada.

Tahun ini, Met Gala mengusung tema Superfine: Tailoring Black Style yang mengeksplorasi budaya kulit hitam, khususnya bentuk tubuh laki-laki kulit hitam dan tradisi dandy.

Diana Ross dan Rihanna adalah beberapa nama yang disebut berhasil menghadirkan kehebohan dan kemewahan pada malam itu.

Penyanyi Diana Ross, yang telah melewatkan acara tersebut selama lebih dari dua dekade, tampil memukau dengan gaun putih perak yang dihiasi kristal dan manik-manik yang berkilauan.

Yang mencuri perhatian adalah ekor berbulu dari gaun tersebut yang panjangnya mencapai 18 kaki atau nyaris sepanjang 5,5 meter.

Ketika pemenang Grammy tersebut menaiki tangga ikonik Met Gala, ekor gaunnya menyelimuti hampir seluruh anak tangga yang membuat momen pemotretannya tampak menakjubkan.

Sementara itu, mega bintang pop Rihanna memberikan publik sesuatu untuk diperbincangkan dengan memamerkan kandungannya yang menonjol dalam balutan dua setelan jas hitam dan garis-garis yang dipadupadankan dengan sempurna.

Pengumuman kehamilan ketiganya dalam karpet Met Gala itu pun mendapat sambutan hangat dari publik dan menghiasi tajuk utama dalam publikasi-publikasi mode.

Beberapa media menyebut Met Gala tahun ini kehilangan pamornya karena sejumlah selebritas dalam jajaran A-list seperti Taylor Swift, Blake Lively, Ariana Grande, dan Timothée Chalamet yang ditunggu-tunggu publik malah absen dari perhelatan busana paling bergengsi tersebut.

Meski begitu, terdapat lebih dari 15 juta orang yang menyaksikan siaran langsung Met Gala 2025 dari laman YouTube Vogue per 20 Mei 2025.

Hasil penayangan dan engagement sejumlah merek produk fesyen dan artis-artis yang berpartisipasi dalam Met Gala di media sosial pun terbilang memuaskan.

Berdasarkan algoritma Media Impact Value (MIV) yang mengukur pengaruh merek dan tokoh dalam nilai moneter melalui akumulasi setiap keterlibatan dan interaksi di dunia digital, Met Gala 2025 mendapatkan total MIV sebanyak 1,3 miliar dolar yang terkumpul hanya dalam waktu 48 jam.

Rupanya, masih banyak orang yang menikmati hiburan elitisme di tengah carut marut kondisi ekonomi, sosial, dan politik dunia.

Dengan menyaksikan gemerlap kemewahan Met Gawa, seolah-olah kita bisa melupakan sejenak masalah-masalah yang terjadi di dunia, sembari asik bermimpi menghadiri ajang bergengsi tersebut suatu hari nanti.

Apa sebenarnya yang membuat kita begitu terobsesi dengan Met Gala, meskipun perhelatan tersebut kental dengan elitisme dan eksklusivitas?

Lauren McLean dalam studi berjudul “The Met Gala: Where High and Popular Culture Collide” (2023) mengemukakan bahwa Met Gala berhasil memadumadankan “high culture—budaya tinggi” dengan “low culture—budaya rendah” menjadi budaya populer yang membuatnya lebih mudah diterima oleh masyarakat luas.

Menurut penulis Andi Zeisler, “budaya tinggi terdiri dari seni, sastra, dan musik klasik yang dibuat oleh dan untuk kalangan elite terpelajar di dunia”, sedangkan budaya rendah adalah “hal paling mendasar yang diperebutkan oleh massa” atau sederhananya merujuk pada seni hiburan yang dikonsumsi publik luas.

Berbeda dengan peragaan busana lainnya, kita tidak perlu menjadi benar-benar ahli dalam bidang mode untuk dapat menikmati seni mode tingkat tinggi yang dikenakan selebritas Met Gala.

Sebagian besar dari kita bisa jadi akan kebingungan menelaah esensi dari “high fashion” atau “haute couture” yang dikenakan model-model di panggung Paris Fashion Week, akan tetapi pada waktu sama kita mungkin lebih mudah dalam mengomentari outfit yang sama apabila dikenakan oleh selebritas yang sering kita jumpai di layar kaca dan media sosial.

Pilihan komentar yang kita sampaikan biasanya akan tereduksi menjadi “apakah pakaiannya sesuai dengan tema”, “apakah kelihatan bagus”, atau “apakah desainnya berlebihan”.

Terkadang, penilaian publik dapat menjadi bias—tergantung siapa yang memakai pakaian tersebut—sebagaimana Zendaya tetap dipuji walaupun tampil dalam setelan jas serba putih yang biasanya langsung dicap membosankan apabila dipakai oleh selebritas berjenis kelamin laki-laki.

Met Gala mempertahankan budaya tingkat tinggi dengan busana-busana yang dirancang khusus oleh desainer ternama, bisa juga dari merek fesyen yang berpengaruh. Contohnya, gaun penyanyi Celine Dion pada Met Gala 2019 yang dikerjakan selama total 3.000 jam oleh lebih dari 50 penjahit.

Namun, eksklusivitas dan status hierarki sosial acara tersebut didefinisikan ulang secara cermat dengan kehadiran selebritas dan influencer agar dapat diterima sebagai bagian dari budaya massa populer.

Tak hanya itu, McLean juga menyoroti bagaimana intensitas publisitas di area karpet merah, misteriusnya acara di dalam museum, dan tema yang terus berganti setiap tahunnya, telah menjadi daya tarik Met Gala yang menjaga rasa penasaran publik—tanpa sedikitnya mengurangi elistisme dan prestise Met Gala.

Maka dari itu, tak mengherankan apabila foto dan video selebritas-selebritas yang tengah melenggang di tangga Metropolitan Museum of Art mendapatkan perhatian yang lebih besar dibandingkan, misalnya foto atau video anak-anak di Gaza dan Sudan yang jatuh sakit dan terancam kelaparan.

Bagaimana denganmu? Bisakah kamu memalingkan wajah dari parade busana bertaburan bintang yang disuguhkan Met Gala?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Yolanda Florencia Herawati

diajeng.id - Binar
Kontributor: Yolanda Florencia Herawati
Penulis: Yolanda Florencia Herawati
Editor: Sekar Kinasih